Keesokan harinya, Cakka mulai beraktivitas seperti biasanya. Jika mamanya tahu tentunya Cakka akan dimarahi, tapi ia tidak peduli. Tubuhnya seperti terasa nyeri jika tidak melakukan apapun. Cakka memakai setelah kemeja dengan rapih dengan sentuhan dasi berwarna mewah di kerah kemejanya. Ia menyisir rambutnya kemudian memberikan vitamin untuk rambutnya.
"Nah, begini kan tampan. Dara pasti tidak akan bisa menghindar dari pesonaku. Apalagi sudah berhari-hari aku tidak masuk kerja, pasti dia akan merindukanku," ucap Cakka dengan percaya dirinya.
Cakka pun keluar dari rumahnya dan mengendarai mobilnya menuju ke perusahaan.
****
Haz Group, 07.45
Dara baru saja sampai di kantor dengan menaiki taksi. Saat akan masuk ke dalam, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.
"Lepas!" teriak Dara ketika orang tersebut berhenti berjalan dan kini mereka berada di sudut gedung yang jarang dilalui oleh pegawai.
Dara masih belum tahu jika yang menariknya adalah Cakka, ketika Cakka berbalik ia jadi menciut.
"Maaf saya sudah berbicara sekeras itu di hadapan bapak. Tapi bapak memang tidak sopan. Kenapa malah asal menarik tangan orang tanpa izin?"
"Dara apa kamu tidak merasa kehilangan? Apa kamu tidak mempunyai hati nurani?" Bukannya menjawab pertanyaan Dara, Cakka malah balik bertanya.
"Maksud bapak apa ya? Jelas saya punya hati nurani. Lagipula di dalam hidup, saya sudah sering merasakan kehilangan. Jadi saya tidak tahu maksud dari kehilangan yang bapak ucapkan."
"Kenapa kamu tidak pernah menjenguk saya di rumah sakit?" Lagi-lagi Cakka tidak menjawab, ia malah memberikan pertanyaan yang lain.
"Jika itu maksud dari bapak yang saya tidak memiliki hati nurani. Saya minta maaf. Tapi saya kan sudah memberikan salam semoga cepat sembuh lewat Pak Gavin," ucap Dara.
"Itu sama saja bukan darimu Dara. Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Cakka lagi.
"Merindukan bapak? Tentu saja tidak," jawab Dara dengan lugasnya.
Iya, aku merindukanmu. Aku bahkan setiap harinya selalu mengkhawatirkan keadaanmu di rumah sakit. Tapi aku tidak mampu untuk datang.
"Apa kamu tidak terlalu jahat? Kenapa kamu cepat sekali menjawabnya?" kesal Cakka yang mendengar jawaban Dara yang terlalu jujur dan cepat.
"Lalu saya harus menjawab bahwa saya merindukan bapak? Memangnya saya ini siapa? Saya kan cuma bawahan bapak. Untuk apa saya merindukan bapak?"
"Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Bisa-bisa mood saya yang baik ini berubah jadi buruk. Padahal saya sangat merindukanmu. Rasanya sehari tidak melihat wajahmu saja membuatku lemas," ucap Cakka dengan jujurnya kemudian pergi meninggalkan Dara begitu saja.
Wajah Dara bersemu merah. Ia merasa seperti kembali ke 8 tahun yang lalu, saat mereka masih hangat-hangatnya memulai hubungan sepasang kekasih. Namun seketika Dara tersadar dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Tidak! Kamu harus bisa menghilangkan dia dari pikiran, dan hatimu Dara. Jika mengulangi kisah yang sama untuk kedua kalinya, maka mungkin saja akhirnya juga akan sama."
Setelah itu, Dara pun pergi menuju ke meja kerjanya. Sambil terus-menerus berperang dengan kata hatinya.
****
Sesampainya di ruangan, Cakka merasa kesal sendiri. Rupanya kerinduannya terhadap Dara tidak berbalas. Hanya dirinya saja yang merasakan. Untuk pertama kalinya Cakka merasa seperti ini, merasa tertolak, padahal belum menyatakan cinta.
"Dara, kenapa susah sekali menaklukan hatimu?" Cakka bertanya-tanya.
"Sepertinya aku harus menyusun strategi untuk bisa mendapatkan hatinya sebelum Gavin yang bertindak." Cakka bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya, ia pun melihat dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya. Rupanya dokumen itu membutuhkan tanda tangannya untuk persetujuan proyek yang akan dilaksanakan. Namun, sebelum itu, Cakka meneliti dan menganalisa terlebih dahulu, ia takut ada kecurangan di dalamnya.
Saking serius dan teliti nya, waktu berjalan begitu cepatnya. Cakka hampir saja melewatkan makan siangnya, jika Gavin tidak memanggilnya.
"Ayo, pasti Dara sudah menunggu di cafetaria," ajak Gavin. Tiba-tiba Gavin merasa ada sesuatu yang akan keluar dari salah satu organ tubuh bagian bawahnya.
"Cak, gue ke toilet dulu. Lo duluan aja ke cafetaria," ucap Gavin lalu berlari ke toilet.
Alhasil Cakka memasuki lift sendirian dan menuju ke cafetaria pun sendirian. Sesampainya di cafetaria, Cakka mengamati orang-orang yang berada disana. Ketika melihat Dara, ia pun berjalan mendekat kesana.
"Iya sayang, kalau butuh apa-apa minta ke Tante Sasa ya. Dah."
Cakka yang mendengar ucapan Dara dengan orang yang entah siapa itu pun merasa cemburu dan kesal. Dengan mudahnya Dara mengucapkan sayang pada orang yang ada di telepon tersebut. Hatinya terbakar api cemburu. Ia pun langsung berjalan dan duduk di hadapan Dara. Tatapannya begitu tajam seperti Dara ketahuan selingkuh di belakangnya.
Sial! Siapa yang Dara panggil sayang itu? Tidak mungkin dia sudah punya pacar kan? Kalau sudah, pasti Gavin pun tidak akan mungkin mengejarnya. Tapi, melihat sikapnya yang cuek terhadapku dan para pria lain, mungkin saja karena dia memang sudah memiliki pacar dan berusaha menjaga hati pacarnya. Sial! Aku merasa iri dengan orang yang dipanggil sayang oleh Dara! Sebelum janur kuning melengkung, aku akan tetap mengejar dirimu, Dara! Akan aku buktikan bahwa aku lebih baik dan lebih pantas dan lebih tampan dibandingkan orang itu! Aku tidak rela kamu menjadi milik yang lain!
"Kenapa bapak menatap saya seperti itu?" tanya Dara yang merasa keheranan.
"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Cakka tanpa memperdulikan pertanyaan Dara.
"Kenapa bapak bertanya? Urusan pribadi saya tidak ada hubungannya dengan bapak."
"Saya ingin tahu."
"Dan saya pun berhak untuk tidak menjawab pertanyaan bapak."
Sayang sekali, waktu tidak berpihak pada Cakka karena Gavin sudah datang dan duduk di sampingnya.
"Kalian mengobrol apa?" tanya Gavin.
"Tidak, Pak Cakka hanya menanyakan menu makan siang yang saya siapkan," jawab Dara.
"Oh, begitu."
Mereka pun makan bersama dengan tenangnya. Meskipun tatapan Cakka masih terlihat mengerikan di mata Dara. Ia seperti akan ditelan hidup-hidup oleh Cakka. Setelah makan selesai, Dara pergi terlebih dahulu. Meninggalkan kedua laki-laki itu disana.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan sebelum gue datang tadi? Dara terlihat seperti tidak nyaman," tanya Gavin.
Cakka hanya mengangkat bahunya tidak tahu lalu berlalu pergi dari hadapan Gavin. Ia masih memikirkan tentang panggilan sayang itu. Rasanya ia tidak rela. Ia ingin dirinya yang dipanggil sayang itu. Bahkan Cakka baru pertama kalinya mendengar Dara berbicara selembut itu.
"Ah! Sialan! Siapa orang itu!?" teriak Cakka ketika sedang berjalan. Membuat orang-orang jadi menatapnya. Bukannya malu atau meminta maaf, Cakka justru malah memarahi mereka yang menatapnya.
"Apa lihat-lihat! Mau saya pecat!"
****
Ramaikan kolom komentarnya teman-teman. Jangan lupa untuk like dan berikan dukungannya ya! Supaya aku semangat nulisnya, hehe.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Lina aja
lucu juga y Chaka...
2023-11-12
0
Bu sul Nganjuk
aduuuuuh, Cakka..... selidiki dulu dong.... main cemburu aja....
2023-11-01
0
Tiara
apa Gavin tdk tahu dan tdk pernah melihat anaknya Dara ya. Kok dia tdk menyadari kalo Revan wajahnya mirip si cakka
2023-10-29
10