Rumah Dara, 19.00
Sesuai janjinya tadi, Dara membuatkan nasi goreng seafood untuk Revan. Anak laki-laki itu menyantap makanan tersebut dengan lahapnya, bahkan ia sudah menambah satu piring lagi membuat Sasa yang melihat melongo.
"Kamu kecil-kecil makannya banyak juga. Tante nggak kebagian tahu!"
"Kan tadi di restoran Revan sudah bilang, Tante kalau mau ya buat sendiri aja," balas Revan.
"Dar, dengar tuh ucapan anakmu. Masa aku nggak dibagi? Pelit banget!" Sasa mengadu pada Dara.
"Revan ..." panggil Dara dengan lembut.
"Mama tahu makanan itu makanan kesukaan Revan. Tapi Revan harus ingat, kita tidak boleh berlebihan dalam segala hal. Kalau kebanyakan makan, perut Revan bisa sakit. Jadi, bagi sedikit untuk Tante Sasa, boleh kan sayang?" ucap Dara membujuk Revan dan memberikan pengertiannya.
Revan pun melunak, ia kemudian memberikan sepiring nasi goreng seafood bekasnya.
"Ini untuk Tante, maaf sudah Revan makan soalnya enak," ucap Revan dengan polosnya.
"Uh, gemasnya. Tidak apa-apa sayang." Sasa mengacak-acak rambut Revan. Dara tersenyum melihat kelakuan anaknya itu.
Selesai makan, mereka berkumpul di ruang tamu sambil menonton televisi. Tentunya, karena Revan masih belum tidur jadi tontonan mereka adalah sebuah kartun.
"Besok pagi Tante Sasa yang antar boleh kan?" tanya Dara pada anaknya yang berada di pangkuannya.
"Kenapa nggak sama mama?" tanya Revan.
"Besok mama berangkat kerja pagi. Nggak papa kan kalau diantar sama Tante Sasa?"
"Iya deh nggak apa-apa," jawab Revan yang sebenarnya bersedih. Tapi mau bagaimana lagi, mamanya memang sibuk mencari uang.
"Jangan cemberut gitu dong! Emangnya kamu tidak senang diantar Tante Sasa yang cantiknya aduhai ini?" ucap Sasa menyombongkan kecantikannya.
"Besok kita pergi jalan-jalan ke taman bermain setelah pulang sekolah. Mau kan?" bisik Sasa pada Revan.
Seketika wajah Revan langsung ceria lagi dan langsung mengangguk mengiyakan ajakan Sasa.
Dara yang tidak tahu ucapan apa yang dikatakan oleh Sasa pun mulai penasaran.
"Kamu menjanjikan apa ke Revan?" tanya Dara.
"Ada deh. Rahasia!" jawab Sasa.
"Tante Sasa bilang apa sayang?" tanya Dara ke Revan.
"Rahasia mama."
"Ya sudah, kalau memang rahasia mah. Sana gih ke kamar, sudah malam waktunya tidur. Besok kan Revan harus bangun pagi untuk sekolah."
Revan pun mengangguk, ia bangun dari pangkuan mamanya dan berjalan ke kamar. Setelah kepergian Revan dari ruang tamu, Sasa mengobrol dengan Dara.
"Dar, bagaimana pekerjaanmu di kantor? Kau tidak kesulitan kan? Apa si Cakka itu mengganggumu?" tanya Sasa yang penasaran.
"Semuanya baik-baik saja. Mau itu pekerjaanku atau hubunganku dengan Cakka. Kita seperti orang asing yang baru pertama kali bertemu," jawab Dara.
"Walaupun Cakka sudah berhasil mencuri ciumanku lagi," ucap Dara lagi di dalam hatinya.
"Syukurlah kalau begitu, tapi apa kamu tidak ingin mencari tahu kenapa si Cakka itu bisa melupakanmu? Kamu tidak ingin dia mengingatmu dan kenangan tentang kalian berdua?"
Pertanyaan Sasa membuat Dara berpikir. Bagaimana tidak? Dulu Dara pergi dari rumah Cakka tanpa mengatakan apapun pada Cakka. Bahkan kata perpisahan pun tidak.
"Entahlah, aku tidak tahu. Aku mengikuti arus saja. Mau dia ingat aku atau tidak itu tak jadi masalah untukku. Yang terpenting untuk saat ini adalah Revan," jawab Dara.
Sasa menghela napas sejenak sebelum ingin mengutarakan isi hati Revan melalui mulutnya.
"Dar, bukannya aku ingin menasehati mu atau apa. Aku hanya tidak ingin melihat Revan terus bersedih ketika ia bertanya tentang papanya. Setidaknya kamu kasih tahu dia sedikit tentang papanya. Jangan kamu sembunyikan terus. Aku kasihan melihatnya. Atau kamu bisa saja bilang kalau papanya Revan itu sedang mencari uang di tempat yang jauh sehingga ia tidak bisa pulang makanya sampai sekarang Revan belum bisa bertemu dengan papanya," saran Sasa agar Dara sedikit memberitahu tentang Cakka pada Revan.
"Aku sendiri tahu kalau Revan itu sebenarnya sangat ingin bertemu dan ingin tahu siapa papanya. Hanya saja aku masih belum bisa menceritakan itu. Rasanya aku seperti kembali ke masa lalu jika menceritakan itu dan teringat akan mamanya Cakka yang tidak menerima kehadiranku dan Revan dulu. Aku masih harus berusaha untuk berdamai dengan diriku sendiri, Sa."
Sasa pun mengerti, memang tidak mudah untuk bercerita. Ia menepuk pulang Dara pelan.
"Anak yang bahagia itu tercipta karena mamanya bahagia. Jadi, kamu harus berdamai dengan masa lalu mu dan berbahagialah."
Setelah mengatakan itu, Sasa pergi ke kamarnya meninggalkan Dara yang terdiam mencerna ucapan Sasa.
****
Apartemen Gavin, 20.30
Cakka tertidur tapi terdengar suara helaan napasnya yang tidak beraturan di telinga Gavin membuat Gavin jadi cemas.
"Apa Cakka mimpi buruk sampai-sampai ia berkeringat dan seperti tidak tenang tidurnya? Apa aku bangunkan saja ya?"
Gavin pun menepuk pipi Cakka sedikit keras untuk membangunkan sahabatnya itu dari mimpi buruknya.
"Haaah ... haaah ... haaaah ..." bunyi helaan napas Cakka kemudian terbangun.
"Mimpi apa lo Cak sampai keringetan gitu?" tanya Gavin.
"Nggak tahu, mimpinya nggak jelas. Gue cuma mimpi denger suara cewek nangis. Tapi tangisannya itu bikin hati gue sesek. Gue bahkan nggak tahu dia nangis karena apa? Tapi gue merasa mimpi itu seperti nyata Vin, hanya saja wajahnya buram," ucap Cakka menjelaskan mimpinya yang tampak seperti kenyataan.
"Ah, mimpi ya mimpi Cak. Mana mungkin bisa jadi nyata. Udah jangan dipikirin mimpinya. Mending sekarang lo makan mie instan ini aja, gue barusan masak mie karena laper. Pasti Lo juga belum makan kan?" tanya Gavin yang kemudian terdengar bunyi-bunyi gemuruh dari perut Cakka.
Krucukkk... krucuckk
"Ahahahah, benar kan apa kata gue. Makan gih mie nya sebelum dia mengembang."
Dengan senang hati Cakka memakan mie tersebut. Kalau di rumahnya yang ada di Jakarta, mana mungkin mamanya mengizinkan Cakka makan makanan instan seperti ini. Semuanya serba diatur jika Cakka tinggal di rumah mamanya. Makanya kini Cakka bersyukur di tempatkan di perusahaan yang berada di Bandung dan yang ada di Jakarta, mamanya lah yang mengurusnya.
"Abis makan mie lo mau pulang apa menginap?" tanya Gavin.
"Pulang lah, pegel juga gue tidur di sofa. Gue pengen kembali ke kasur gue yang empuk di rumah," ucap Cakka.
Gavin menggelengkan kepalanya. Ia pun mengambilkan air minum untuk Cakka.
"Thanks." Gavin mengangguk.
Mie instan pun telah habis disantap oleh Cakka. Ia merasa perutnya seperti membesar setelah makan mie.
"Kalau tiba-tiba ABS gue ilang, itu semua gara-gara lo yang menjamu gue dengan mie instan!"
"Dih! Seenaknya aja, kan lo bisa nolak! Jadi bukan salah gue. Kalaupun ABS lo ilang, kan tinggal nge-gim lagi, apa susahnya?"
"Susah lah, susah ngumpulin niatnya dan konsisten," jawab Cakka.
"Oh," jawab Gavin.
Hal tersebut membuat Cakka sedikit gedek ke Gavin. Ingin sekali rasanya ia menyimpan mulut Gavin dengan serbet kala Gavin ber-oh ria.
****
Bener itu Sasa, berdamai sama masa lalu dan mulailah berbahagia. Ya walaupun pasti ngejalaninnya susah. Semangat Dara!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Lina aja
semangat thor
2023-11-07
0
ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Hana Nurul Azizah🍩ᴬ∙ᴴ࿐
Alhamdulillah udh mulai nih terbuka memori memori kebersamaan Dara dengan kamu cakka.
2022-11-10
1
ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Hana Nurul Azizah🍩ᴬ∙ᴴ࿐
Pede banget kamu Sasa ,😂😂🤣🤣...Untung Revan kebal dengan Tingkah lakumu itu 🤣🤣🤣
2022-11-10
1