Rumah Dara, 19.00
Dara, Sasa dan Revan kini berkumpul di meja makan untuk makan malam. Di sela-sela itu, Revan tiba-tiba saja keceplosan tentang ia yang hampir saja tertabrak oleh mobil.
"Kamu bilang apa sayang? Kamu hampir tertabrak mobil? Bagaimana bisa?" tanya Dara yang terkejut.
Seketika wajah Sasa jadi pusat pasi. Aura yang ada pada Dara seakan membuat tubuhnya merinding. Ia kesal pada Revan juga, padahal ia sudah mewanti-wanti agar Revan tidak keceplosan.
"Tante bagaimana ini? Revan keceplosan," bisik Revan pada Sasa. Anak laki-laki itu masih diam belum menjawab pertanyaan sang mama.
Tuhan, bantu aku untuk menjinakkan induk singa ini!
"Sa, bisa jelaskan padaku?" pinta Dara dengan sorotan mata yang sangat tajam.
Alhasil Sasa menjelaskan semua yang terjadi di taman bermain tadi. Dara yang mendengarnya pun merasa sedikit lega, setidaknya anaknya tidak dimarahi oleh orang yang hampir menabraknya. Namun, tetap saja, Dara marah karena anaknya tidak memperhatikan jalan ketika ia sedang berlari.
"Lain kali jangan seperti itu lagi ya sayang. Kalau mau beli ice cream silahkan, mama tidak melarang. Tapi jangan pergi tanpa pamit ke Tante Sasa. Apalagi kamu sampai hampir tertabrak tadi. Kasihan Tante Sasa pasti kebingungan mencari kamu saat itu," ucap Dara menasehati anak laki-lakinya.
"Iya mama, Revan minta maaf ya. Tante Sasa Revan juga minta maaf ya," ucap Revan pada dua wanita yang disayanginya.
"Iya sayang," jawab Sasa dan Dara bersamaan.
"Tapi ya ma, om yang mau nabrak Revan itu ganteng orangnya. Baik lagi, dia mengantar Revan untuk kembali ke taman bermain. Sayangnya, Revan lupa menanyakan namanya." Revan sedih karena ia tidak mengetahui nama om yang menolongnya itu.
"Ya sudah jangan bersedih, mungkin suatu saat nanti Revan akan bertemu dengan om itu lagi," ucap Dara. Revan pun mengangguk dan menghabiskan makanannya.
Acara makan malam pun selesai, Revan mengerjakan pr nya untuk menghitung. Dara pun menemani Revan.
"Apa ada yang bisa mama bantu?" Revan menggeleng.
"Revan bisa mengerjakan sendiri kok ma," jawab Revan.
Dara pun tersenyum melihat itu. Revan memang seperti itu, ia akan berjuang sebisanya dulu, jika ia tidak mampu barulah ia akan meminta bantuan pada orang lain.
"Ya sudah, kalau begitu, apa mau mama buatkan susu untuk menemani kamu mengerjakan pr?" tawar Dara.
"Mau ma, sekalian bawakan kue bawang juga ya," pinta Revan. Dara pun mengangguk.
Tak lama kemudian, Dara kembali dengan membawa segelas susu dan satu toples kue bawang. Revan memakan dengan lahap kue bawang tersebut. Hingga waktu pun menunjukkan pukul 8 malam. Sudah waktunya Revan untuk tidur.
"Pr nya sudah selesai kan? Sekarang waktunya untuk tidur. Supaya besok tidak kesiangan bangunnya," ucap Dara pada Revan.
"Oke mama."
Revan membereskan alat tulisnya dan memasukannya ke dalam tas setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk tidur.
Selepas kepergian Revan, Dara duduk termenung sendirian di meja makan. Ia mengingat kembali kejadian tadi siang di kantornya.
"Sebenarnya apa yang terjadi setelah kepergian ku Cakka?"
Dara terus bertanya-tanya tentang hal yang menimpa Cakka hingga melupakan tentang dirinya dan kenangan berdua bersamanya.
****
Rumah Cakka, 21.00
Cakka tampak gelisah dan terus berjalan kesana-kemari di kamarnya. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi padanya. Ia seperti merasa ada yang hilang dalam dirinya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan hal tersebut pada mamanya. Ia berharap mamanya mau menjawab keingintahuannya.
"Halo Cakka, ada apa? Tumben sekali kamu menelpon mama?" tanya sang mama yang keheranan.
"Ma tolong bicara jujur padaku. Apa yang terjadi dulu hingga membuat aku kecelakaan? Apa setelah kecelakaan itu aku mengalami amnesia dan melupakan seseorang?" tanya Cakka.
Mama Mira terdiam. Dia bingung mau menjawab apa. Dan darimana Cakka tahu kalau dia amnesia? Padahal selama ini Mama Mira sudah membuang semua kenangan yang berhubungan dengan Dara di rumahnya agar Cakka tetap tidak ingat pada Dara dan masa lalu mereka berdua.
"Dulu kamu mengalami kecelakaan karena kamu marah sama mama karena mama memaksa kamu untuk mengikuti kemauan mama untuk melanjutkan pendidikan kamu di luar negeri. Kamu mengendarai motor kamu dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya kamu mengalami kecelakaan. Dan kamu tidak mengalami amnesia Cakka. Jadi tidak ada ingatan apapun yang kamu lupakan," jawab Mama Mira.
"Benarkah seperti itu? Tapi kenapa aku tidak ingat ma?" tanya Cakka lagi karena memang ia tidak mengingat momen tersebut.
"Wajar saja jika kamu lupa, kan sudah 7 tahun berlalu," jawab Mama Mira lagi.
"Tapi aku masih mengingat masa kecilku ma," ucap Cakka lagi membuat Mama Mira sedikit kebingungan memberikan alibi apa lagi.
"Ya kalau itu mama tidak tahu Cakka. Sudah ya, mama mengantuk mau tidur. Kamu juga jangan tidur malam-malam. Jangan lupa untuk bersikap baik sama Jeslin!"
Telepon pun berhenti karena Mama Mira yang mematikan sambungannya.
****
Rumah Mama Mira, Jakarta.
Setelah menutup telpon dari anaknya. Mama Mira menjadi gelisah. Ia bingung kenapa Cakka bisa menyimpulkan dirinya amnesia? Padahal ia dengan susah payah membuat Cakka terlihat seperti tidak mengalami amnesia. Seketika ia teringat dengan ucapan dokter yang menangani Cakka waktu itu.
"Untuk membuat Cakka mengingat kejadian yang dialaminya selama beberapa tahun terakhir. Dibutuhkan pemicu untuk membangkitkan ingatannya. Dan kemungkinan besar, pemicu itu adalah nama yang selalu ia panggil dalam keadaan tidak sadarnya. Lebih baik ibu pertemukan Cakka dengan wanita bernama Dara itu agar ingatan yang terlupakan di beberapa tahun terakhir bisa perlahan-lahan muncul kembali."
Kalimat itulah yang dikatakan oleh dokter. Hanya saja, Mama Mira dengan egoisnya, ia malah membuang semua kenangan Cakka bersama Dara. Di mulai dari foto-foto mereka yang ada di dalam kamar Cakka dan segala hal yang berhubungan dengan Dara sudah dihilangkan semuanya. Mama Mira berharap Cakka tak pernah mengingat kembali tentang Dara. Namun, di hari ini, membuat Mama Mira sedikit terkejut.
"Apa jangan-jangan Dara ada di Bandung? Dan dia berusaha untuk mendekati Cakka kembali? Makanya ingatan Cakka yang terkubur jadi bangun kembali? Kalau seperti ini keadaannya, aku harus mencegah hal itu terjadi."
Mama Mira bertekad untuk memisahkan kembali keduanya jika memang Dara dan Cakka bertemu kembali. Seketika ia teringat Dara yang pergi saat mengandung anak dari Cakka.
"Apa dia berhasil melahirkan anak Cakka?"
Mama Mira bertanya-tanya tapi beberapa detik kemudian.
"Mana mungkin dia berhasil melahirkan anak Cakka. Pasti akan ada banyak hinaan dari para tetangga. Sanksi sosial kan lebih mengerikan. Dia tidak akan sanggup menghadapi semua itu. Pasti dia menggugurkan janinnya itu."
Mama Mira yakin dengan pemikirannya itu. Padahal di kenyataannya, Dara berhasil menjalani semua itu dan hidup tenang sampai sekarang.
****
Mama Mira kau jahat sekali! Teganya memisahkan dua orang yang saling mencintai!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Lina aja
lanjut n semangat
2023-11-11
0
mei
awas aj kalo kedepannya ngaku2 revan cucu 😡
2023-11-01
1
ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Hana Nurul Azizah🍩ᴬ∙ᴴ࿐
Wa h feleeng bener mama menutupi semuanya...Kalau sampai cakka mengingatnya boomerang buat Mama sendiri...Aku penasaran deh masa lalu mamanya Cakka....
2022-11-10
1