Bab 8 - Mengantar Revan ke Sekolah

Hari Senin pun tiba, dimana di hari itu Revan pertama kalinya masuk sekolah SD. Anak laki-laki itu terlihat senang karena mamanya bisa mengantarnya dan akan menemaninya di sekolah.

"Duh, anak laki satu ini ganteng banget sih! Mau berangkat sekolah ya?" puji Sasa pada Revan.

"Iya dong Tante. Revan kan selalu ganteng setiap hari. Memangnya Tante yang selalu jelek. Wlek!" jawab Revan sambil menjulurkan lidahnya.

"Sudah sana kamu bawa pergi aja bocah ini. Kecil-kecil sudah menyebalkan, heran," kesal Sasa dikatai jelek.

"Hihi, Tante Sasa ngambek ya? Karena Revan katai jelek?" tanya Revan sambil terkekeh.

"Tau ah," jawab Sasa dengan mode kesalnya enggan melihat ke arah Revan.

"Sudah sudah, kamu tuh, iseng banget sih sayang. Nanti kalau Tante Sasa nya nggak mau main sama kamu lagi gimana? Nanti kamu sendiri lho yang sedih," ucap Dara.

Revan pun berjalan mendekat ke Sasa, ia meraih tangan Sasa dan berkata, "Maafin kata-kata Revan ya Tante. Tante Sasa selalu cantik kok, hehe."

Senyum Sasa pun mengembang. Sebenarnya ia hanya pura-pura kesal saja.

"Iya tidak apa-apa. Sana gih berangkat. Semangat sekolahnya ya!" ucap Sasa sambil mengacak-acak rambut Revan.

"Ih Tante. Revan kan sudah ganteng dan rapih begini. Kenapa rambutnya malah diberantakin. Kita barusan habis baikan lho Tante," gerutu Revan.

"Hahaha... iya iya maafin Tante ya sayang. Habisnya Tante gemas lihat kamu."

Revan menggembungkan pipinya kesal. Dara yang melihat perdebatan itu pun hanya menggelengkan kepalanya.

"Ayo berangkat sayang," ajak Dara.

"Siap mama. Dah Tante! Revan berangkat sekolah dulu ya. Nanti pulang sekolah Revan ke restoran Tante, jangan lupa siapin makanan yang enak-enak ya Tante."

"Beres!"

Dara dan Revan berangkat naik taksi. Jarak rumah ke sekolah Revan sekitar 20 menit. Sesampainya di sekolah, Revan masih terus menggandeng tangan sang mama. Rasa bahagianya begitu terpancarkan dari bibirnya. Dara mengantar Revan sampai masuk ke kelasnya. Ia berjongkok dan mengelus kepala Revan.

"Nanti kamu dengerin guru yang bicara di depan ya sayang. Kalau ada sesuatu yang tidak kamu mengerti, angkat tangan saja dan bertanya. Mengerti?" Revan pun mengangguk.

"Baguslah, semangat anaknya mama!"

Dara memberikan Revan semangat dengan kecupan di kening Revan. Ia membiarkan anaknya masuk ke dalam kelas dan berkenalan dengan teman-teman yang lain. Saat gurunya sudah masuk, Dara mengamati Revan beberapa menit kemudian menunggu di taman sekolah. Rupanya para ibu yang lain pun ada yang menunggu disana.

Salah satu dari mereka menyapa Dara.

"Menunggu anak juga?" Dara pun mengangguk.

"Sepertinya kamu masih sangat muda. Apa dulunya nikah muda?" tanya si ibu itu.

Dara enggan menjawab. Ia hanya membalasnya dengan senyuman saja.

"Sama kalau begitu, saya juga dulu menikah di usia saya 19 tahun. Sekarang saya sudah punya 3 anak. Anak pertama saya sekarang kelas 3 SMA, anak kedua saya kelas 2 SMP dan ini yang ketiga baru masuk kelas 1 SD," ucap si ibu itu dengan lugasnya.

Belum juga Dara menanggapi, si ibu itu langsung memperkenalkan dirinya.

"Dewi Arum, itu nama saya. Panggil saja Bu Dewi," ucap Bu Dewi.

"Saya Dara Lazora, panggil saja Dara."

Bu Dewi pun mengangguk. Ia kemudian membuka topik pembicaraan lagi.

"Ngomong-ngomong kesibukan kamu apa selain jadi ibu rumah tangga?" tanya Bu Dewi.

"Saya bekerja jadi sekretaris Bu Dewi," jawab Dara.

"Oh, begitu. Hati-hati lho kebanyakan sinetron yang saya tonton. Bos dan sekretaris itu bakalan saling jatuh cinta karena seringnya bersama. Kamu harus menjaga hati suamimu supaya tidak salah paham," ucap Bu Dewi menasehati Dara.

Lagi-lagi Dara tersenyum membalasnya. Miris sekali rasanya. Dengan hati yang lapang, Dara terus mengobrol dengan Bu Dewi sekenanya saja. Namun, Bu Dewi yang baru dikenalnya itu banyak sekali bicaranya, kalau kini ia sedang dalam pertandingan ia pasti sudah angkat tangan untuk menyerah.

Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya waktu pulang sekolah pun tiba. Revan keluar dari kelasnya dan menghampiri mamanya.

"Bagaimana tadi di kelas belajarnya? Apa ada kesulitan sayang?" Revan menggeleng.

"Revan sama sekali tidak kesulitan ma. Revan kan sudah bisa membaca, menulis dan menghitung jadi semuanya terasa mudah. Malah teman-teman Revan yang Revan ajarkan. Bu guru saja sampai memuji kalau Revan itu anak pintar," ucap Revan.

Dara merasa bangga dengan anaknya. Ia pun mengelus pelan kepala Revan.

"Kalau begitu, sepulang mama kerja nanti, mama buatkan nasi goreng seafood."

"Revan mau, Revan mau ma," jawab Revan yang antusias. Karena menu makanan tersebut adalah menu makanan favoritnya.

"Kalau begitu, ayo kita ke restoran Tante Sasa," ajak Dara.

"Let's go!" ucap Revan.

****

Setelah mengantarkan Revan ke restoran Sasa, Dara langsung pergi ke kantor tempatnya bekerja. Ia langsung menempati meja kerjanya dan langsung mengerjakan laporan yang ada.

Tak lama kemudian, Gavin pun menoleh dan melihat Dara sudah berada di kantor.

"Aku kira kamu akan datang ke kantor setelah makan siang, rupanya tidak ya. Baguslah kalau begitu tugasku bisa kau cicil sedikit demi sedikit," ucap Gavin.

"Hehe iya pak, karena anak saya masih kelas satu SD, jadi pulangnya memang cepat, makanya saya bisa langsung datang. Jika saya berangkat setelah jam makan siang, yang ada lebih baik saya izin saja seharian," balas Dara.

"Ya jangan sih, nanti aku kewalahan. Kalau begitu lanjutkan saja pekerjaanmu. Nanti kalau sudah selesai bawa ke ruangan ku," perintah Gavin.

"Baik pak," balas Dara.

Gavin pun masuk ke ruangannya. Ia menganalisis dan memeriksa laporan yang masuk padanya. Di sela-sela itu, Candra yang padahal berada di kantor yang sama dengannya, alih-alih datang langsung ke ruangannya, laki-laki itu malah menggunakan ponsel untuk berbicara dengannya.

"Vin, hari ini menu makan siangnya apa? Pasti Dara membawakan makan siang, kan?" tanya Cakka.

"Aih! Gue pikir lo nelpon karena ada hal penting, rupanya lo menanyakan hal itu! Sepertinya hari ini Dara tidak membawa bekal makan siang," ujar Gavin.

"Lah? Kok nggak bawa?" tanya Cakka keheranan.

"Tanya dia lah, kan dia yang masak. Kenapa lo tanya ke gue?" jawab Gavin yang sedikit kesal. Terkadang Cakka suka aneh.

"Gagal sudah pdkt gue hari ini." Cakka menghela napas berat setelah mengucapkan perkataannya.

"Kenapa?" tanya Gavin yang penasaran.

"Ya karena nggak bisa makan siang bareng Dara lah. Gue suntuk juga di ruangan terus. Mana si Jeslin dari tadi merhatiin terus. Bikin gue risih," curhat Cakka.

"Udah nikmati aja hidup lo. Masih untung ada yang ngelirik, daripada gue? Satu pun nggak ada kayaknya. Bersyukur lo diciptain sesempurna itu sebagai seorang laki-laki," ucap Gavin lagi.

"Ya ya ya ya, gue tutup ya."

Panggilan pun berhenti. Gavin langsung fokus lagi pada pekerjaannya lagi.

****

Emang ya dimana-mana ibu-ibu itu banyak sekali bicaranya. Tapi kalau nggak gitu nggak seru, wkwkwk.

Terpopuler

Comments

Kis Pulza

Kis Pulza

tapi klo ter lalu kepo risih juga thor

2023-10-31

1

Sinta Ita

Sinta Ita

tenang pa Gavin jodohnya nanti Tante sasa

2022-11-18

0

ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Hana Nurul Azizah🍩ᴬ∙ᴴ࿐

ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Hana Nurul Azizah🍩ᴬ∙ᴴ࿐

Ganteng mirip papanya lah....Papanya ganteng,ibunya cantik .

2022-11-10

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Mistake
2 Bab 2 - Tidak Direstui
3 Bab 3 - Bertemu Kembali
4 Bab 4 - Dara Lazora
5 Bab 5 - Semakin Menarik
6 Bab 6 - Cakka Lelah
7 Bab 7 - Perihal Bekal
8 Bab 8 - Mengantar Revan ke Sekolah
9 Bab 9 - Perintah Sang Mama
10 Bab 10 - Berdamai dan Berbahagialah
11 Bab 11 - Bertemu Revan
12 Bab 12 - Siapa Kamu Sebenarnya?
13 Bab 13 - Cakka Amnesia
14 Bab 14 - Revan Mengharapkan Kehadiran Papa
15 Bab 15 - Apa yang harus aku lakukan?
16 Bab 16 - Alergi
17 Bab 17 - Menjenguk Cakka
18 Bab 18 - Bertemu Cakka Versi Kecil
19 Bab 19 - Cakka keluar dari rumah sakit
20 Bab 20 - Siapa yang Dara panggil sayang?
21 Bab 21 - Mama Dara, Mamanya Revan
22 Bab 22 - Kedatangan Cakka di Rumah Dara
23 Bab 23 - Mengajak Revan Jalan-jalan
24 Bab 24 - Undangan Reuni SMA
25 Bab 25 - Reuni SMA (Membuka Ingatan )
26 Bab 26 - Dara yang sama
27 Bab 27 - Tidak Tenang
28 Bab 28 - Bertemu Mama Mira
29 Bab 29 - Kembalinya Ingatan Cakka
30 Bab 30 - Maafkan Aku
31 Bab 31 - Revan Kangen
32 Bab 32 - Kenapa?!
33 Bab 33 - Gavin Patah Hati
34 Bab 34 - Aku sudah punya anak
35 Bab 35 - Apa aku tidak bisa bahagia?
36 Bab 36 - Sedikit Pencerahan
37 Bab 37 - Dara dipecat
38 Bab 38 - Dara Sakit
39 Bab 39 - Masih belum menerima
40 Bab 40 - Rasa yang menggelitik
41 Bab 41 - Masa lalu Mama Mira
42 Bab 42 - Ayo kita menikah!
43 Bab 43 - Aku ingin kamu egois
44 Bab 44 - Tolong pisahkan Dara dan Cakka
45 Bab 45 - Menghabiskan waktu bersama
46 Bab 46 - Pernikahan
47 Bab 47 - Dara Koma
48 Bab 48 - Lagi sakit aja banyak maunya
49 Bab 49 - Mendatangi Jeslin
50 Bab 50 - Mama yang berubah
51 Bab 51 - Titik Terendah Cakka
52 Bab 52 - Kehilangan
53 Bab 53 - Dara Sadar
54 Bab 54 - All I Want Is you (End)
55 Terjebak Cinta Jorell by Yoyota
56 Cinta Sang Aktor by Yoyota
57 Dibuang Setelah Melahirkan by Yoyota
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1 - Mistake
2
Bab 2 - Tidak Direstui
3
Bab 3 - Bertemu Kembali
4
Bab 4 - Dara Lazora
5
Bab 5 - Semakin Menarik
6
Bab 6 - Cakka Lelah
7
Bab 7 - Perihal Bekal
8
Bab 8 - Mengantar Revan ke Sekolah
9
Bab 9 - Perintah Sang Mama
10
Bab 10 - Berdamai dan Berbahagialah
11
Bab 11 - Bertemu Revan
12
Bab 12 - Siapa Kamu Sebenarnya?
13
Bab 13 - Cakka Amnesia
14
Bab 14 - Revan Mengharapkan Kehadiran Papa
15
Bab 15 - Apa yang harus aku lakukan?
16
Bab 16 - Alergi
17
Bab 17 - Menjenguk Cakka
18
Bab 18 - Bertemu Cakka Versi Kecil
19
Bab 19 - Cakka keluar dari rumah sakit
20
Bab 20 - Siapa yang Dara panggil sayang?
21
Bab 21 - Mama Dara, Mamanya Revan
22
Bab 22 - Kedatangan Cakka di Rumah Dara
23
Bab 23 - Mengajak Revan Jalan-jalan
24
Bab 24 - Undangan Reuni SMA
25
Bab 25 - Reuni SMA (Membuka Ingatan )
26
Bab 26 - Dara yang sama
27
Bab 27 - Tidak Tenang
28
Bab 28 - Bertemu Mama Mira
29
Bab 29 - Kembalinya Ingatan Cakka
30
Bab 30 - Maafkan Aku
31
Bab 31 - Revan Kangen
32
Bab 32 - Kenapa?!
33
Bab 33 - Gavin Patah Hati
34
Bab 34 - Aku sudah punya anak
35
Bab 35 - Apa aku tidak bisa bahagia?
36
Bab 36 - Sedikit Pencerahan
37
Bab 37 - Dara dipecat
38
Bab 38 - Dara Sakit
39
Bab 39 - Masih belum menerima
40
Bab 40 - Rasa yang menggelitik
41
Bab 41 - Masa lalu Mama Mira
42
Bab 42 - Ayo kita menikah!
43
Bab 43 - Aku ingin kamu egois
44
Bab 44 - Tolong pisahkan Dara dan Cakka
45
Bab 45 - Menghabiskan waktu bersama
46
Bab 46 - Pernikahan
47
Bab 47 - Dara Koma
48
Bab 48 - Lagi sakit aja banyak maunya
49
Bab 49 - Mendatangi Jeslin
50
Bab 50 - Mama yang berubah
51
Bab 51 - Titik Terendah Cakka
52
Bab 52 - Kehilangan
53
Bab 53 - Dara Sadar
54
Bab 54 - All I Want Is you (End)
55
Terjebak Cinta Jorell by Yoyota
56
Cinta Sang Aktor by Yoyota
57
Dibuang Setelah Melahirkan by Yoyota

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!