Hari Senin pun tiba, dimana di hari itu Revan pertama kalinya masuk sekolah SD. Anak laki-laki itu terlihat senang karena mamanya bisa mengantarnya dan akan menemaninya di sekolah.
"Duh, anak laki satu ini ganteng banget sih! Mau berangkat sekolah ya?" puji Sasa pada Revan.
"Iya dong Tante. Revan kan selalu ganteng setiap hari. Memangnya Tante yang selalu jelek. Wlek!" jawab Revan sambil menjulurkan lidahnya.
"Sudah sana kamu bawa pergi aja bocah ini. Kecil-kecil sudah menyebalkan, heran," kesal Sasa dikatai jelek.
"Hihi, Tante Sasa ngambek ya? Karena Revan katai jelek?" tanya Revan sambil terkekeh.
"Tau ah," jawab Sasa dengan mode kesalnya enggan melihat ke arah Revan.
"Sudah sudah, kamu tuh, iseng banget sih sayang. Nanti kalau Tante Sasa nya nggak mau main sama kamu lagi gimana? Nanti kamu sendiri lho yang sedih," ucap Dara.
Revan pun berjalan mendekat ke Sasa, ia meraih tangan Sasa dan berkata, "Maafin kata-kata Revan ya Tante. Tante Sasa selalu cantik kok, hehe."
Senyum Sasa pun mengembang. Sebenarnya ia hanya pura-pura kesal saja.
"Iya tidak apa-apa. Sana gih berangkat. Semangat sekolahnya ya!" ucap Sasa sambil mengacak-acak rambut Revan.
"Ih Tante. Revan kan sudah ganteng dan rapih begini. Kenapa rambutnya malah diberantakin. Kita barusan habis baikan lho Tante," gerutu Revan.
"Hahaha... iya iya maafin Tante ya sayang. Habisnya Tante gemas lihat kamu."
Revan menggembungkan pipinya kesal. Dara yang melihat perdebatan itu pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayo berangkat sayang," ajak Dara.
"Siap mama. Dah Tante! Revan berangkat sekolah dulu ya. Nanti pulang sekolah Revan ke restoran Tante, jangan lupa siapin makanan yang enak-enak ya Tante."
"Beres!"
Dara dan Revan berangkat naik taksi. Jarak rumah ke sekolah Revan sekitar 20 menit. Sesampainya di sekolah, Revan masih terus menggandeng tangan sang mama. Rasa bahagianya begitu terpancarkan dari bibirnya. Dara mengantar Revan sampai masuk ke kelasnya. Ia berjongkok dan mengelus kepala Revan.
"Nanti kamu dengerin guru yang bicara di depan ya sayang. Kalau ada sesuatu yang tidak kamu mengerti, angkat tangan saja dan bertanya. Mengerti?" Revan pun mengangguk.
"Baguslah, semangat anaknya mama!"
Dara memberikan Revan semangat dengan kecupan di kening Revan. Ia membiarkan anaknya masuk ke dalam kelas dan berkenalan dengan teman-teman yang lain. Saat gurunya sudah masuk, Dara mengamati Revan beberapa menit kemudian menunggu di taman sekolah. Rupanya para ibu yang lain pun ada yang menunggu disana.
Salah satu dari mereka menyapa Dara.
"Menunggu anak juga?" Dara pun mengangguk.
"Sepertinya kamu masih sangat muda. Apa dulunya nikah muda?" tanya si ibu itu.
Dara enggan menjawab. Ia hanya membalasnya dengan senyuman saja.
"Sama kalau begitu, saya juga dulu menikah di usia saya 19 tahun. Sekarang saya sudah punya 3 anak. Anak pertama saya sekarang kelas 3 SMA, anak kedua saya kelas 2 SMP dan ini yang ketiga baru masuk kelas 1 SD," ucap si ibu itu dengan lugasnya.
Belum juga Dara menanggapi, si ibu itu langsung memperkenalkan dirinya.
"Dewi Arum, itu nama saya. Panggil saja Bu Dewi," ucap Bu Dewi.
"Saya Dara Lazora, panggil saja Dara."
Bu Dewi pun mengangguk. Ia kemudian membuka topik pembicaraan lagi.
"Ngomong-ngomong kesibukan kamu apa selain jadi ibu rumah tangga?" tanya Bu Dewi.
"Saya bekerja jadi sekretaris Bu Dewi," jawab Dara.
"Oh, begitu. Hati-hati lho kebanyakan sinetron yang saya tonton. Bos dan sekretaris itu bakalan saling jatuh cinta karena seringnya bersama. Kamu harus menjaga hati suamimu supaya tidak salah paham," ucap Bu Dewi menasehati Dara.
Lagi-lagi Dara tersenyum membalasnya. Miris sekali rasanya. Dengan hati yang lapang, Dara terus mengobrol dengan Bu Dewi sekenanya saja. Namun, Bu Dewi yang baru dikenalnya itu banyak sekali bicaranya, kalau kini ia sedang dalam pertandingan ia pasti sudah angkat tangan untuk menyerah.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya waktu pulang sekolah pun tiba. Revan keluar dari kelasnya dan menghampiri mamanya.
"Bagaimana tadi di kelas belajarnya? Apa ada kesulitan sayang?" Revan menggeleng.
"Revan sama sekali tidak kesulitan ma. Revan kan sudah bisa membaca, menulis dan menghitung jadi semuanya terasa mudah. Malah teman-teman Revan yang Revan ajarkan. Bu guru saja sampai memuji kalau Revan itu anak pintar," ucap Revan.
Dara merasa bangga dengan anaknya. Ia pun mengelus pelan kepala Revan.
"Kalau begitu, sepulang mama kerja nanti, mama buatkan nasi goreng seafood."
"Revan mau, Revan mau ma," jawab Revan yang antusias. Karena menu makanan tersebut adalah menu makanan favoritnya.
"Kalau begitu, ayo kita ke restoran Tante Sasa," ajak Dara.
"Let's go!" ucap Revan.
****
Setelah mengantarkan Revan ke restoran Sasa, Dara langsung pergi ke kantor tempatnya bekerja. Ia langsung menempati meja kerjanya dan langsung mengerjakan laporan yang ada.
Tak lama kemudian, Gavin pun menoleh dan melihat Dara sudah berada di kantor.
"Aku kira kamu akan datang ke kantor setelah makan siang, rupanya tidak ya. Baguslah kalau begitu tugasku bisa kau cicil sedikit demi sedikit," ucap Gavin.
"Hehe iya pak, karena anak saya masih kelas satu SD, jadi pulangnya memang cepat, makanya saya bisa langsung datang. Jika saya berangkat setelah jam makan siang, yang ada lebih baik saya izin saja seharian," balas Dara.
"Ya jangan sih, nanti aku kewalahan. Kalau begitu lanjutkan saja pekerjaanmu. Nanti kalau sudah selesai bawa ke ruangan ku," perintah Gavin.
"Baik pak," balas Dara.
Gavin pun masuk ke ruangannya. Ia menganalisis dan memeriksa laporan yang masuk padanya. Di sela-sela itu, Candra yang padahal berada di kantor yang sama dengannya, alih-alih datang langsung ke ruangannya, laki-laki itu malah menggunakan ponsel untuk berbicara dengannya.
"Vin, hari ini menu makan siangnya apa? Pasti Dara membawakan makan siang, kan?" tanya Cakka.
"Aih! Gue pikir lo nelpon karena ada hal penting, rupanya lo menanyakan hal itu! Sepertinya hari ini Dara tidak membawa bekal makan siang," ujar Gavin.
"Lah? Kok nggak bawa?" tanya Cakka keheranan.
"Tanya dia lah, kan dia yang masak. Kenapa lo tanya ke gue?" jawab Gavin yang sedikit kesal. Terkadang Cakka suka aneh.
"Gagal sudah pdkt gue hari ini." Cakka menghela napas berat setelah mengucapkan perkataannya.
"Kenapa?" tanya Gavin yang penasaran.
"Ya karena nggak bisa makan siang bareng Dara lah. Gue suntuk juga di ruangan terus. Mana si Jeslin dari tadi merhatiin terus. Bikin gue risih," curhat Cakka.
"Udah nikmati aja hidup lo. Masih untung ada yang ngelirik, daripada gue? Satu pun nggak ada kayaknya. Bersyukur lo diciptain sesempurna itu sebagai seorang laki-laki," ucap Gavin lagi.
"Ya ya ya ya, gue tutup ya."
Panggilan pun berhenti. Gavin langsung fokus lagi pada pekerjaannya lagi.
****
Emang ya dimana-mana ibu-ibu itu banyak sekali bicaranya. Tapi kalau nggak gitu nggak seru, wkwkwk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Kis Pulza
tapi klo ter lalu kepo risih juga thor
2023-10-31
1
Sinta Ita
tenang pa Gavin jodohnya nanti Tante sasa
2022-11-18
0
ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Hana Nurul Azizah🍩ᴬ∙ᴴ࿐
Ganteng mirip papanya lah....Papanya ganteng,ibunya cantik .
2022-11-10
1