Haz Group
Cakka sudah sampai di perusahaannya, ia berjalan menuju ke ruangan Gavin, karena kemungkinan besar, Dara berada disana. Benar saja, Dara sedang sibuk merekap data yang harus ia laporkan setelah meeting tadi.
Gavin yang melihat Cakka masuk ke ruangannya pun sedikit terkejut. Ia kemudian menghampiri Cakka.
"Ada apa?" tanya Gavin.
"Apa Dara hari ini sangat sibuk? Aku ingin membicarakan hal penting bersamanya." Cakka bertanya karena ia tidak ingin mengganggu jika Dara benar-benar sibuk.
"Iya, kamu kan bisa lihat sendiri. Kalau ingin bicara, lebih baik setelah makan siang saja, atau pas makan siang. Di jam-jam itu pekerjaan Dara tidak terlalu banyak," jelas Gavin.
"Baiklah, kalau begitu sampaikan apa yang aku katakan ini, suruh dia ke ruangan ku saat jam makan siang," pinta Cakka. Gavin pun mengangguk.
Sebenarnya ada rasa penasaran di hati Gavin tentang apa yang akan dibicarakan oleh Cakka. Pasalnya mimik wajah Cakka terlihat begitu serius. Seperti mau membicarakan sesuatu yang tidak menyangkut dengan persaingan dirinya dan Cakka untuk mendapatkan hati Dara.
"Ah, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik fokus saja," ucap Gavin berusaha untuk fokus kembali.
Kini Cakka sudah berada di ruangannya. Ia tampak gelisah. Rasanya seperti ada sebuah puzzle yang harus ia pecahkan. Sementara susunan puzzle itu masih berserakan entah dimana. Cakka masih bingung bagaimana memulai awalnya.
Tak lama kemudian, Jeslin masuk ke dalam ruangan Cakka dengan memberikan berkas untuk Cakka tanda tangani.
"Apa kamu sedang banyak pikiran, Cak?" tanya Jeslin dengan bahasa yang tidak formal.
"Ingat! Sekarang kita di kantor jadi kamu harus bicara formal padaku!" ucap Cakka memperingatkan Jeslin.
"Maaf," ucap Jeslin.
"Sana kembali bekerja!" perintah Cakka.
Jeslin pun keluar dari ruangan Cakka dengan wajah yang ditekuk. Ia benar-benar kesal akan sikap Cakka padanya. Tidak bisakah ia sedikit lembut? Jangan ketus dan dingin padanya?
****
Waktu pun berlalu dengan cepat, jam makan siang pun akhirnya tiba. Sesuai apa yang dikatakan Gavin, Dara pergi ke ruangan Cakka ketika jam makan siang. Ketika berada di luar ruangan Cakka, Dara harus menghadapi Jeslin dengan raut wajah yang terlihat tidak suka padanya. Padahal kalau dipikir-pikir ia sama sekali tak pernah berbuat salah atau bersinggungan dengan wanita yang satu ini.
"Apa Pak Cakka ada di dalam?" tanya Dara.
"Untuk apa bertanya? Memangnya jika ada di dalam kenapa? Dan jika tidak ada juga kenapa? Bukan urusanmu kan?" jawab Jeslin dengan ketusnya.
Dara menghela napas sejenak.
"Saya diberitahu Pak Gavin untuk bertemu dengan Pak Cakka. Katanya ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan saya. Makanya saya bertanya pada anda, karena anda adalah sekretarisnya," jawab Dara.
Karena Jeslin terus-terusan menghalangi Dara untuk masuk ke ruangan Cakka, membuat Cakka lelah menunggu di dalam dan ingin menghampiri Dara langsung. Namun ternyata, semua ini ulah Jeslin yang tidak membiarkan Dara masuk ke dalam ruangannya.
"Jeslin! Apa-apaan kamu! Kenapa Dara tidak disuruh masuk?! Aku sudah menunggunya dari tadi!" Cakka kesal dan akhirnya mengeluarkan emosinya dan berbicara tidak formal di kantor pada Jeslin.
"Ma-maaf."
Hanya ucapan kata maaf yang keluar dari mulut Jeslin.
Setelah itu, Dara masuk ke ruangan Cakka dan dipersilahkan untuk duduk di sofa. Sementara dirinya masih berdiri sambil terus mengamati wajah Dara. Dara yang dilihat seintens itu merasa tidak nyaman.
"Jika tidak ada yang ingin bapak bicarakan. Lebih baik saya keluar saja," ucap Dara ketika Cakka tak mengeluarkan suaranya.
"Tidak boleh, ada suatu hal yang ingin saya tanyakan dan pastikan padamu," ucap Cakka.
Cakka mendekatkan wajahnya ke wajah Dara, menatap wajah itu seintens mungkin. Mencoba mencari susunan awal puzzle yang akan ia rangkai.
"Rupanya perkataan saya waktu itu memanglah benar. Setelah menatap wajahmu lagi bukan hanya jatuh cinta bahkan saya sudah jatuh sejatuh-jatuhnya. saya jadi semakin menyukaimu," ucap Cakka yang membuat Dara ingin berdiri dari duduknya. Namun Cakka menahannya.
"Tapi, siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu begitu familiar Dara? Coba jelaskan pada saya! Saya benar-benar tidak mengerti dengan semuanya. Semua yang terjadi akhir-akhir ini setelah bertemu denganmu. Seperti ada sesuatu yang terkubur dalam-dalam ingin bangkit ke permukaan. Saya bermimpi melihat wanita menangis tersedu-sedu di hadapan saya. Tangisannya begitu menyesakkan dada. Dan entah kenapa saya merasa bahwa wanita itu adalah kamu," jelas Cakka pada Dara dengan raut wajah yang sedikit frustasi.
"Saya Dara Pak Cakka, kan kita sudah berkenalan. Sudah saya katakan sebelumnya jika wajah saya ini pasaran. Jadi banyak orang yang mirip dengan saya. Mungkin sebenarnya yang bapak pernah temui bukanlah saya. Mengenai tangisan seorang wanita di mimpi bapak, itu tidak ada hubungannya dengan saya. Namanya juga mimpi pak, kan apa saja bisa terjadi." Dara menjawab semua pertanyaan Cakka dengan lugasnya membuat Cakka jadi bertambah bingung.
"Masalahnya mimpi itu seperti nyata. Dara tolong kamu berkata yang sejujurnya. Siapa kamu sebenarnya?" tanya Cakka sekali lagi.
"Ya ampun pak, kan tadi saya sudah jawab," balas Dara menanggapi ucapan Cakka.
"Bukan itu maksud saya. Saya merasa sepertinya di antara kita pernah ada sebuah hubungan. Saya masih ingat pertemuan pertama kita, kamu seperti terkesan mengenal saya. Namun setelahnya, kamu langsung pura-pura tidak kenal karena respon saya yang tidak mengenalmu," jelas Cakka mencoba memberitahukan apa yang sebenarnya ia maksudkan.
Dara menghela napas sejenak. Ia perlu oksigen yang cukup untuk menjawab pertanyaan Cakka. Rasanya ia seperti diinterogasi oleh pihak kepolisian.
"Waktu itu saya mengira kalau bapak itu teman saya makanya saya bereaksi seperti itu. Rupanya ketika respon bapak yang tidak mengenal saya, saya sadar kalau saya sudah salah mengira orang. Begitulah kejadian yang sebenarnya pak," jawab Dara menjelaskan.
Maaf, aku tidak bisa jujur, Cak. Aku masih takut pada mamamu. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Aku takut jika aku mengatakan yang sebenarnya justru akan berakibat fatal untukmu.
"Apa kamu tidak berbohong?" tanya Cakka lagi untuk memastikan.
"Tidak, apa yang saya ucapkan memang tidak bohong," ucap Dara.
Apa yang aku ucapkan itu benar. Kamu adalah teman hatiku yang lupa akan diriku. Jadi aku lebih memilih untuk kamu tetap lupa pada diriku daripada kamu mengingatnya dan Revan jadi imbas dari ini. Maafkan aku Cakka. Kisah cinta kita memang seperti ini akhirnya. Akhir yang tak bisa bersama. Status kita terlalu jauh.
Setelah mendengar semua jawaban Dara, Cakka menyuruh Dara untuk keluar dari ruangannya. Cakka benar-benar pusing. Saking pusingnya, ia sampai meletakkan kepalanya di atas meja kerjanya.
"Apa aku tanya mama saja?"
Seketika pertanyaan itu terlintas di pikiran Cakka.
****
Dara kenapa kamu nggak jujur aja sih, kan enak gitu, si Cakka jadi cepet inget.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Devi Handayani
kebenaran itu akan terungkap dara.... sekuat kuat kau menutupi toh akan terbongkar juga.... lihat anakmu revan dia mendamba bapake yg gantang😅😅😅
2023-03-07
1
Iis Sulis
gimana ceritanya sih ko Cakka jd amnesia gitu... ngikutin dari awal tp blm paham
2022-11-11
0
ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Hana Nurul Azizah🍩ᴬ∙ᴴ࿐
Trauma rasa sakit penghinaan itu pasti membekas ..Ibunya cakka mungkin sekarang diatas Angin..Kalau sampai cakka mengingat semuanya ngga Tau bagaimana lagi.
2022-11-10
1