Rumah Dara, 19.00
Dara baru saja sampai di rumahnya. Ia segera membersihkan tubuhnya, sebelum sang anak datang dan memeluk dirinya. Selesai mandi, Dara keluar dari kamarnya. Benar saja, sang anak langsung memeluk Dara.
"Akhirnya mama pulang kerja juga. Revan dari tadi nunggu mama lho!" ucap Revan yang mengaku menunggu mamanya.
"Iya sayang. Maaf ya, hari ini mama pulang terlambat. Tadi di kantor mama banyak pekerjaan. Kamu tidak marah kan sama mama?" ucap Dara dengan lembut.
Revan menggeleng.
"Mama kan kerja cari uang untuk jajan Revan. Bagaimana mungkin Revan marah? Yang ada Revan malah tambah menyayangi mama."
Seketika buliran air mata jatuh ke pipi Dara. Ia benar-benar bersyukur mempunyai anak yang pengertian seperti Revan. Ia memeluk anaknya erat.
Pelukan mereka terlepas ketika mendengar suara Sasa.
"Sudah, sudah pelukannya. Waktunya kita makan!"
Mereka bertiga pun makan bersama di meja makan. Suara canda tawa selalu saja jadi bumbu kehangatan mereka di meja makan. Meskipun tak ada hubungan darah, Sasa dan Dara terlihat seperti keluarga.
Selesai makan, Dara membiarkan Revan bermain dengan mainannya di kamarnya. Sementara ia dan Sasa mengobrol di teras rumah.
"Dar, tadi siang siapa yang bareng sama kamu? Aku lihat-lihat dia bukan Gavin," tanya Sasa yang penasaran.
"Iya, dia memang bukan Gavin. Dia CEO baru di kantor tempat aku bekerja," jawab Dara.
"Tapi kok kelihatannya, dia suka sama kamu sih? Aku perhatikan dari jauh, dia terus-terusan melirik ke kamu? Apa jangan-jangan kamu benar-benar ada hubungan sama bos kamu?" tebak Sasa.
Dara seketika terdiam. Ia dilema antara cerita atau tidak tentang siapa papa Revan sebenarnya pada Sasa. Apalagi kemungkinan besarnya, Dara akan selalu bertemu dengan Cakka.
"Sa ..." panggil Dara.
"Ya?" jawab Sasa.
"Apa kamu masih penasaran tentang siapa papanya Revan?" tanya Dara.
"Tentu masih lah. Selama ini aku hanya berusaha menahan rasa penasaranku karena tidak mau membuat kamu bersedih. Bahkan setelah kamu melahirkan anak kamu aja. Laki-laki itu tidak mencari mu sama sekali. Aku kesal padanya Dar."
"Laki-laki yang kau lihat tadi. Laki-laki yang aku bilang adalah CEO di kantorku. Dia adalah papa dari Revan," ucap Dara membuat Sasa terkejut.
"What!? Aku tidak salah dengar kan, Dar?" Dara menggeleng.
"Sumpah aku kaget! Bagaimana bisa Dar? Kamu dan dia akan sering bertemu kalau gitu. Lalu bagaimana kamu harus bersikap jika berhadapan dengannya?" tanya Sasa yang memikirkan bagaimana nasib sahabatnya itu jika di kantor.
"Tidak perlu khawatir. Lagipula dia juga tidak ingat aku," ucap Dara lagi-lagi membuat Sasa terkejut.
"Hah? Bagaimana maksudnya? Dia tidak ingat kamu? Atau hanya pura-pura tidak ingat? Dasar laki-laki br*ngsek! Habis manis sepah dibuang!" Sasa emosi, ia tidak terima sahabatnya dilupakan begitu saja.
"Tidak, dia benar-benar melupakan aku. Bukan pura-pura lupa. Aku merasa seperti ada sesuatu yang terjadi padanya ketika aku meninggalkannya dulu. Dia seperti orang yang amnesia."
Emosi Sasa sedikit mereda ketika mendengar penjelasan Dara.
"Lalu, apa langkah kamu ke depannya? Apa kamu akan terus bekerja disana? Kamu tidak takut akan bertemu dengan nenek sihir itu lagi?"
"Aku tidak tahu. Untuk sekarang aku akan terus bekerja disana. Tapi, walaupun begitu kita kan tidak tahu bagaimana akhirnya nanti," ujar Dara.
"Aku harap dia bisa secepatnya mengingatmu Dar. Aku tahu kamu masih mencintainya. Kamu bahkan menolak banyak laki-laki yang mendekatimu."
Dara diam tak bergeming. Ia menatap bintang di langit.
****
Rumah Cakka, 21.00
Cakka merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengingat adegan ciuman tadi di dalam mobilnya. Dara benar-benar wanita berbeda. Wanita yang benar-benar bisa menarik perhatiannya untuk terus memandangi wajah cantik itu.
Ingatan tentang Dara tiba-tiba menghilang, ketika Cakka mendengar bunyi nada dering ponselnya. Ia bangun dari posisi rebahan nya. Rupanya sang mama lah yang menghubunginya.
"Ada apa sih ma? Aku mau tidur tahu!"
"Kamu ini ya! Mama sudah susah payah membujuk Jeslin untuk jadi sekretaris kamu. Kenapa kamu malah mengabaikannya? Jeslin tadi bilang ke mama kalau kamu malah memilih sekretarisnya Gavin untuk ikut meeting bersama klien kita yang dari Prancis!" Mama Mira mengeluarkan semua kekesalannya pada sang anak.
"Makanya mama cari sekretaris itu yang kompeten. Jangan seperti Jeslin! Belum apa-apa saja sudah menolak! Bikin kesal saja. Ini lagi malah mengadu ke mama. Aku jadi tidak bisa berempati padanya. Sudahlah ma, aku tahu mama memilih Jeslin untuk jadi sekretaris ku untuk mendekatkan aku padanya kan? Sudah aku bilang, aku hanya ingin menikah dengan wanita pilihanku. Wanita yang mama pilihkan semuanya wanita matre yang tidak tahu artinya ketulusan."
"Mama hanya tidak mau kau salah pilih pasangan seperti dulu lagi Cakka!"
"Seperti dulu lagi?" tanya Cakka yang membuat alisnya mengkerut. Seingatnya ia sama sekali belum pernah berpacaran ataupun dekat dengan wanita mana pun.
"Ah, tidak, tidak, bukan itu maksud mama. Maksudnya, mama tidak ingin kau salah memilih pasangan yang tidak sederajat dengan keluarga kita. Seperti kebanyakan wanita yang selalu mendekatimu," jawab sang mama yang beralibi takut Cakka mengingat tentang wanita masa lalunya.
"Ya sudah, pokoknya kau harus bersikap baik sama Jeslin. Kau jangan cuek-cuek padanya. Susah lho mencari wanita yang keluarganya sederajat dengan kita. Pokoknya mama tidak mau tahu, kau harus menjalin hubungan dengannya. Kau ha ...."
Cakka langsung mematikan sambungan telponnya dengan sang mama. Tidak peduli jika mamanya marah padanya. Ia kesal karena hidupnya selalu diatur-atur dan tidak boleh melakukan ini dan itu.
"Ma, sampai kapan mama akan terus ikut campur urusan kehidupanku? Kalau begini terus, bisa-bisa aku jadi perjaka tua nantinya. Aku tidak menikah dan tidak punya anak karena mama terlalu menginginkan menantu yang sesuai dengan keinginan mama dan tidak sesuai dengan pilihanku. Sudah cukup mimpiku saja yang aku korbankan ma."
Cakka merasa lelah dengan kehidupannya. Ia harus menjalani masa pendidikannya dulu dengan mengambil jurusan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Sedari kecil ia bercita-cita menjadi seorang dokter, dan itu semua kandas karena keinginan mamanya. Walaupun begitu, Cakka menerima keinginan sang mama, karena memang tidak ada lagi yang bisa meneruskan perusahaan keluarganya selain dirinya yang anak tunggal.
"Kapan aku bisa menikmati hidup sesuai keinginanku? Kapan mama sadar kalau tidak semuanya harus sesuai keinginannya? Ada kalanya pilihan mama tidak selalu benar. Ada kalanya juga mama harus menuruti keinginanku."
Setelah mengeluarkan emosi dalam dirinya, Cakka merebahkan tubuhnya kembali dan berusaha untuk memejamkan matanya. Hingga akhirnya Cakka benar-benar terlelap dalam tidurnya.
****
Cakka kasihan sekali, memang berat ya hidup kalau terus diatur-atur itu. Aku juga ga suka diatur-atur 🙃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Kis Pulza
penasaran dg Cakka.... kenapa ksh dia kok bisa lupa ingatan
2023-10-31
0
Pipied Roshie
ada apa dengan cakra??
2023-07-13
0
Devi Handayani
kecian kecian kecian😓😓😓
2023-03-07
1