19.00 rumah Cakka
Cakka menyandarkan kepalanya di sofa, kemudian ia memejamkan matanya. Satu menit menutup mata yang ada di dalam bayangan Cakka adalah Dara. Ia membuka matanya. Kemudian memejamkan matanya kembali. Lagi-lagi bayangan Dara lah yang muncul disana.
"Argh!" Cakka berteriak sambil menjambak rambutnya dengan kasar.
"Dara! Sebenarnya lo siapa!"
"Kenapa gue nggak bisa berhenti mikirin lo?"
Cakka gelisah. Ia tak henti-hentinya memikirkan Dara. Cara satu-satunya adalah ia harus meminta nomor kontak Dara dari Gavin. Cakka pun mendapatkan nomor Dara dan kemudian mengirimkan sebuah pesan.
"Selamat malam."
Namun, sampai pukul 21.00 pun belum ada balasan dari Dara.
"Apa gue bilang kalo gue CEO nya dia?"
"Tapi jangan deh."
Dengan keyakinan bahwa Dara akan membalas pesannya, Cakka menunggu hingga pukul 23.00.
"Hoamm." Cakka menguap tanda rasa kantuk sudah menguasai dirinya.
Cakka bergegas ke ranjang dan merebahkan dirinya.
******
Haz Group
Cakka memasuki kantor dengan raut wajah tidak seperti biasanya. Ia seperti orang yang kekurangan jam tidurnya. Ya, walaupun kenyataannya memanglah seperti itu.
Saat akan memasuki ruangan, Cakka sekilas melihat Dara sedang membawa satu kotak makanan. Sepertinya makanan itu akan diberikan kepada Gavin. Entah kenapa Cakka merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ada rasa sakit dan sesak di dada yang ia rasakan.
"Kenapa rasanya sesakit ini ya? Padahal gue nggak ada apa-apa sama dia? Kenal aja baru kemarin-kemarin."
Cakka bertanya pada dirinya sendiri kemudian ia masuk ke ruangannya. Seperti biasa, tak ada yang aneh dalam ruangannya. Hanya ada satu hal yang aneh yaitu suasana hatinya.
Beberapa menit kemudian, terdengarlah suara ketukan pintu.
"Masuk," ucap Cakka.
Rupanya Jeslin lah yang mengetuk pintu tersebut. Ia segera mendekat ke meja Cakka.
"Selamat pagi pak," sapa Jeslin.
"Hm." Cakka hanya membalas sesuai keinginan hatinya.
"Hari ini, Pak Cakka ada pertemuan dengan salah satu klien kita yang berasal dari Prancis. Tapi, katanya ia meminta untuk mengganti waktu untuk pertemuannya ke jam makan siang. Klien itu juga meminta untuk makan siang di restoran makanan khas Indonesia."
"Oke, segera kamu cari restoran itu."
Bukannya menjawab, Jeslin malah masih berdiri di hadapan Cakka.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu?" tanya Cakka.
"Masalahnya saya nggak tahu pak. Saya kan belum lama di Bandung."
"Ya sudah, biar saya yang urus. Silahkan kamu keluar."
"Baik pak."
Jeslin pun akhirnya keluar dari ruangan Cakka. Sementara Cakka ia merasa bahwa dirinya seperti tidak punya sekretaris.
"Lagian mama juga kenapa sih ngotot banget pengen dia yang jadi sekretaris gue? Harusnya usaha dulu dong. Bikin ribet!"
Alhasil Cakka menelpon Gavin dan meminta rekomendasi restoran yang enak dan high class. Namun, Gavin malah menyuruh Dara untuk membantu Cakka. Karena ia tahu, Cakka itu orangnya terlalu pemilih, ia tidak mau jadi sasaran empuk amarah dari Gavin. Dan juga Dara lebih banyak tahu tentang Bandung daripada dirinya.
Beberapa menit kemudian, Dara sudah berada di ruangan Cakka. Ia merasa gugup dan gelisah. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi orang yang berada di masa lalunya itu.
"Kamu bisa bantu saya kan?" tanya Cakka.
"Bisa pak. Bagaimana kalau di restoran Sasa Rasa?"
"Terserah. Yang terpenting rasanya harus enak dan tempatnya nyaman. Masalahnya klien saya ini orang penting."
"Baik pak. Saya tidak akan mengecewakan bapak. Kalau begitu saya permisi."
Dara pun keluar dari ruangan Cakka. Ia menaruh tangannya di dadanya.
"Debaran ini masih sama rasanya seperti dulu. Apa aku benar-benar masih belum bisa melupakannya?"
Dara mencoba menormalkan debaran jantungnya dan pergi ke ruangannya kembali.
Sementara Cakka, setelah Dara keluar dari ruangannya. Ia malah senyum-senyum tidak jelas.
"Kenapa rasanya hari ini gue kaya dapat vitamin ya? Candu banget liat wajahnya."
Jam makan siang pun tiba, Cakka bergegas untuk pergi ke restoran tersebut. Ketika sudah sampai di lobi kantor, Cakka melihat Dara dan Gavin. Mereka berdua begitu asik berbicara. Hal itu membuat Cakka cemburu. Cakka pun segera mendekati mereka tentunya dengan Jeslin yang berjalan di belakang.
"Vin, gue pinjem sekretaris lo."
"Hah?" Kaget Dara mendengar ucapan Cakka.
"Buat apa pinjem sekretaris gue? Sedangkan lo juga udah punya. Lagian nih ya, sekarang tuh waktunya makan siang. Gue sama dia mau makan siang."
"Ayolah, ini juga demi perusahaan." Cakka terus memaksa Gavin.
Tanpa pernyataan 'iya' dari Gavin, Cakka segera meraih tangan Dara dan membawa Dara masuk ke dalam mobilnya.
Gavin hanya menghela napas perlahan. Ia sudah tahu bagaimana sikap sahabatnya itu. Hanya saja tidak semuanya bisa ia dapatkan dengan mudah dan dengan cara memaksa.
"Lo emang nggak pernah berubah dari awal gue bertemu sama lo. Yang gue takutkan cuma satu. Lo bakalan suka sama Dara."
Gavin pun segera berjalan ke mobilnya dan melesat jauh dari kantor. Sedangkan Jeslin ia merasa kesal dan tidak percaya. Karena dengan mudahnya Cakka menggenggam tangan Dara yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Ia juga kesal karena Cakka mengabaikannya dan malah mengajak Dara untuk melakukan pertemuan dengan klien.
"Oke, sekarang lo boleh menghindar terus dari gue. Tapi, gue nggak akan tinggal diam. Lo akan jatuh ke pesona gue."
Ucapan Jeslin itu diakhiri dengan senyum menyeringai di bibirnya.
****
Sasa Rasa, 12.30
Dara dan Cakka sudah sampai di tempat tujuan. Mereka duduk di tempat yang sudah dipesan oleh Dara. Namun, ada satu hal yang membuat Dara risih, Cakka terus memandangnya tanpa kedip sedikit pun.
"Apa ada sesuatu di wajah saya pak?" tanya Dara kebingungan.
"Ya," jawab Cakka cepat.
Dara pun mengambil kaca di dalam tas nya, dan mencari-cari sesuatu yang jadi objek penglihatan Cakka. Namun, Cakka malah menjauhkan kaca tersebut dari tangan Naya.
"Kaca ini mengganggu pemandangan Saya."
"Bisa tolong kembalikan nggak pak?"
"Tolong jangan panggil saya pak atau bapak. Karena sekarang kita tidak lagi di kantor."
"Tapi, tetap saja bapak ini atasan saya."
"Lalu bagaimana dengan Gavin?"
"Karena dia teman saya pak."
"Kalo begitu, mari kita jadi teman mulai sekarang."
Dara malah dibuat bingung dengan sikap Cakka. Sikap ini adalah sikap Cakka yang pertama kali bertemu dengannya di waktu SMA. Sikap yang semaunya sendiri.
"Mulai besok kamu jadi sekretaris saya."
"Hah?" Dara terkejut untuk kedua kalinya dalam hari ini.
"Tidak ada penolakan. Nanti saya yang bicara sama Gavin."
Dara hanya bisa pasrah, karena ia sadar diri dengan posisinya. Ia tidak bisa membantah apapun perintah dari atasannya. Tak lama kemudian klien dari Prancis pun datang dan mereka membicarakan rencana kerja sama sembari menikmati hidangan.
Satu jam pun berlalu, klien tersebut sudah pergi dari restoran. Yang tersisa hanyalah Dara dan Cakka.
"Dar," panggil Cakka.
"Ya? Ada apa pak?" tanya Dara.
"Entah kenapa wajah kamu begitu familiar bagi saya."
"Wajarlah pak kalau familiar, wajah saya kan pasaran. Saya permisi sebentar ya pak." Cakka mengangguk.
Dara pergi ke kasir untuk bertemu dengan Sasa.
"Sa, Revan kemana?"
"Anak kamu lagi tidur tuh di dalam. Gimana Senin depan kan Revan pertama kali masuk sekolah. Kamu bisa nganterin nggak?"
"Aku nggak tau. Aku belum izin soalnya."
"Ya udah, nanti kamu kasih tau aku aja kalo kamu bisa atau enggaknya."
"Makasih ya Sa."
"Sama-sama."
"Kalo gitu aku pamit dulu ya, nanti bos ku marah lagi." Sasa mengangguk.
Dara pun berjalan ke arah Cakka yang sedang berdiri di tempat yang sama. Sasa melihat itu, namun ada yang aneh dengan wajah bos nya itu. Seperti orang yang berbeda.
"Kayanya dia bukan Gavin deh."
Setelah mengucapkan itu, Sasa kembali ke ruang kerjanya untuk melihat keadaan Revan.
******
Haz Group
Sesampainya di kantor, saat Dara akan keluar dari mobil, Cakka menahan tangan Dara.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Maaf pak. Tolong lepaskan tangan saya. Nggak enak kalau dilihat orang."
"Saya nggak peduli. Jawab Dar, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Saya baru lihat dan bertemu bapak di kantor ini. Jadi, bisa lepaskan tangan saya sekarang?"
Cakka melepaskan tangan Dara perlahan-lahan. Saat Dara ingin membuka pintu mobil Cakka, lagi-lagi Cakka menarik tangan Dara kembali. Alhasil, mata mereka berdua saling bertatapan. Cakka menatap manik mata Dara begitu dalam, seolah-olah memastikan sesuatu dalam dirinya.
"Dar, sepertinya saya jatuh cinta sama kamu."
Tapan persetujuan dan aba-aba, Cakka langsung mencium bibir Dara. Dara terkejut dan tak tahu harus berbuat apa. Yang ia takutkan cuma satu, kalau ia benar-benar belum bisa melupakan Cakka.
Dara memberontak dan melepaskan tautan bibir Cakka, lalu ia segera keluar dari mobil Cakka tanpa berpamitan ke Cakka. Cakka pun keluar dari mobilnya dan melihat Dara yang semakin memudar dari pandangannya.
"Semakin menarik."
Cakka mengucapkan itu sambil memegang bibirnya.
********
Hai semuanya.
Gimana bab ini? Tolong kasih komentarnya ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Vera Anzani
main nyosor aja si Babang tampan,,hadeuh🤦
2023-11-10
0
Lina aja
lanjut n semangat
2023-11-05
0
Agung Antarini
asyik Thor...
lanjut 👍🙏
2023-10-31
1