Rumah Cakka, 21.00
Cakka berbaring di kasur empuknya sambil memikirkan kejadian tadi siang.
"Darimana Dara tahu kalau aku alergi kacang-kacangan?" ucap Cakka bertanya-tanya.
"Apa memang sebenarnya aku dan Dara memiliki hubungan di masa lalu? Apa kami adalah sepasang kekasih? Atau kami adalah sahabat? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?"
Cakka terus mencoba mengingat-ingat memorinya. Bukannya mengingat, Cakka malah merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Bayangan-bayangan samar seorang wanita yang menangis terus menghantui dirinya.
"Argh!!!" Cakka berteriak kesakitan dan bangun dari posisinya menjadi duduk.
Tak lama kemudian, si penjaga rumah pun masuk ke dalam kamar Cakka karena mendengar suara teriakan dari dalam kamar.
"Tuan, tuan kenapa?" tanya si penjaga rumah dengan paniknya.
"Kepalaku sakit!" ucap Cakka sambil terus memegang kepalanya.
"Duh, saya harus bagaimana ini? Ah iya, saya telepon nyonya saja." Si penjaga rumah pun terpikir untuk menelpon nyonya besar nya.
"Sebentar ya tuan, saya akan menghubungi nyonya Mira."
Cakka tidak memperdulikan ucapan si penjaga rumahnya. Ia masih terus merasa kesakitan di kepalanya.
"Halo, halo Nyonya, gawat!" lapor si penjaga rumah.
"Gawat kenapa Ujang?" tanya Mama Mira.
"Tuan Cakka sakit Nyonya, dari tadi dia terus berteriak kesakitan di kepalanya. Saya harus bagaimana ini nyonya? Langsung membawa Tuan Cakka ke rumah sakit atau bagaimana?" tanya Ujang yang bingung harus melakukan apa.
"Tidak perlu dibawa ke rumah sakit Ujang, ambil saja obat yang ada di laci meja Cakka. Berikan obat itu, suruh Cakka untuk meminumnya. Beritahu Cakka juga kalau besok saya akan datang ke Bandung."
"Baik nyonya, akan segera saya laksanakan."
"Bagus, titip Cakka ya Ujang. Kalau sakit di kepalanya tak kunjung membaik, berikan saja dia obat tidur. Obatnya ada di laci juga. Sudah ada tulisannya disana."
"Siap nyonya."
Sambungan telepon pun berhenti, Ujang melakukan apa yang diperintahkan oleh majikannya. Alhasil, Cakka sudah mulai tidak merasakan sakit lagi di kepalanya. Ujang membantu Cakka untuk berbaring lagi di kasurnya.
"Tuan, jika anda merasakan sakit lagi. Telepon saya, saya akan segera menuju ke kamar anda."
Cakka mengangguk dan melihat kepergian penjaga rumahnya.
****
Rumah Mama Mira, Jakarta.
Mama Mira menjadi gelisah ketika mendapat telepon dari penjaga rumah anaknya yang ada di Bandung. Ia terus berpikir, kenapa akhir-akhir ini Cakka selalu bermimpi aneh dan sakit di kepalanya?
"Aku akan mengeceknya besok, semoga saja apa yang aku pikirkan bukanlah kenyataan. Sudah susah payah aku memisahkan mereka, kalau akhirnya mereka bertemu kembali. Aku juga akan terus berusaha untuk memisahkan mereka kembali. Mereka tidak pantas bersama."
Setelah mengatakan hal itu, Mama Mira memasukan beberapa pakaiannya ke dalam koper karena besok ia akan mengunjungi anaknya. Tak lupa ia juga mengabarkan pada Jeslin supaya bisa bertemu dengan wanita itu disana.
****
Pagi menyapa, sinar mentari pun masuk ke celah-celah ventilasi kamar Revan. Anak laki-laki itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan terbangun. Rupanya mamanya ada di sampingnya, menunggu anaknya terbangun dengan sendirinya.
"Mama," ucap Revan.
"Hai sayang, nyenyak tidurnya?" tanya Dara. Revan pun mengangguk.
Revan pun bangun dari posisinya dan pergi ke kamar mandi. Sementara Dara, ia menyiapkan seragam sekolah yang akan dipakai oleh Revan.
Selesai itu, Dara menyiapkan sarapan untuk Revan, nasi goreng seafood kesukaannya. Tak lama kemudian, Revan keluar dari kamarnya dengan memakai seragam yang sudah disiapkan oleh Dara.
"Sini duduk sayang," pinta Dara. Revan pun menurut. Ia tampak melihat-lihat sesuatu, sepertinya ada yang kurang.
"Tante Sasa kemana ma?" tanya Revan.
"Tante Sasa sudah berangkat ke restoran sayang. Katanya ada masalah di restoran, makanya Tante Sasa berangkatnya pagi. Jadi, hari ini Revan ke sekolah diantar sama mama." Revan pun mengangguk.
Mereka berdua pun sarapan dengan tenang. Setelah itu berangkat ke sekolahnya Revan. Sesampainya di sekolah Revan, Dara mencium kening anaknya dulu sebelum pergi. Ketika anaknya masuk ke dalam sekolah, tiba-tiba cairan bening pun keluar dari mata Dara. Ia segera masuk lagi ke dalam taksi, sebelum ada banyak orang yang melihatnya menangis. Ia teringat akan ucapan Sasa semalam setelah Sasa berbicara dengan Revan.
Flashback on
Sasa memasuki kamar Dara yang tidak terkunci. Ia duduk di pinggir ranjang Dara. Ia tahu kalau Dara tidaklah tidur.
"Dar, Revan sedih karena dia tidak bisa seperti teman-temannya yang selalu diantar dan dijemput kedua orang tuanya. Revan menginginkan kehadiran papanya. Jangan salahkan Revan atas permintaannya ini. Aku juga pernah mengalaminya ketika aku kecil dulu."
Mendengar ucapan Sasa tersebut, Dara mengeluarkan isak tangisnya. Di hati kecilnya ia sangat merasa kasihan pada anaknya yang tidak mengetahui apapun tentang papanya. Namun, apa mau dikata. Dara juga sangat ingin berkata jujur pada Revan dan mempertemukan Revan dengan papanya. Hanya saja situasinya tidak memungkinkan. Dara juga masih takut dengan Mama Mira. Dara takut wanita tua itu akan menyakiti Revan, mengingat wanita itu sangat menginginkan Dara untuk menggugurkan janinnya dulu.
"Sa ... apa yang harus aku lakukan?" tanya Dara pada Sasa dengan suara yang sedikit sengau.
Sasa pun tidak tahu apa yang harus Dara lakukan. Ia hanya memberi pelukan pada Dara seperti ia memberi pelukan pada Revan.
Hatinya merasa teriris. Dara dan Revan memang tidak memiliki hubungan darah dengannya. Namun, hubungan mereka sudah sangat kental melebihi keluarganya sendiri. Sasa tidak tega membiarkan kedua orang yang disayanginya terus menderita seperti ini.
Dengan tekad kuat, Sasa berjanji di dalam hatinya. Ia akan membantu Dara hingga Cakka mengingatnya kembali dan bisa hidup bersama dengan kedua orang yang disayanginya itu.
Flashback off
Ingatan itu menghilang ketika Dara hampir sampai di kantor tempatnya bekerja. Dengan cepat, Dara pun mengusap air mata yang sedari tadi terus menetes. Tak lupa, ia juga memakai riasan di wajahnya sebelum keluar dari taksi agar tak ada orang yang curiga terhadapnya.
****
Haz Group, 10.00
Cakka dan Dara bertemu di lift yang sama. Mereka berdua sama-sama terdiam. Hingga akhirnya Cakka membuka suaranya dan menanyakan tentang alerginya yang diketahui oleh Dara.
"Dara, darimana kamu tahu saya alergi terhadap kacang-kacangan?" tanya Cakka.
Dara terdiam. Ia merutukki kecerobohannya itu. Ia lupa jika sekarang posisinya dan Cakka adalah orang yang baru mengenal.
Lift pun terbuka. Sebuah kesempatan bagi Dara agar ia bisa menghindar untuk menjawab pertanyaan tersebut karena Dara pun bingung harus memberi alasan apa tentang itu.
Melihat Dara yang memang sengaja tidak menjawab pertanyaannya, membuat Cakka yakin bahwa Dara mengenalnya di masa lalu.
"Aku akan segera menemukan puzzle-puzzle itu Dara. Jika kau memang benar ada di masa laluku. Aku akan berusaha untuk mengingatnya. Entah kenapa, aku jadi tidak percaya pada ucapan mama waktu di telpon malam itu."
****
Yok komen yang banyak biar aku semangat nulisnya 🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Lina aja
mudah"ingatan Chaka cepet kmbali n bisa bersatu m dara
2023-11-12
0
Iis Sulis
semangat terus Cakka tuk ngumpulin pecahan puzzle" itu...tenang ada othor dan reader di belakang mu
2022-11-11
0
nctzen💋
bagus cakka km harus selidiki dong kalau bisa tanya sama teman teman km ketika SMA saat kejadian km kecelakaan,,,makin sbel deh sama s mama mira jahatnya kebangetan!!!semoga mama segera kena karma benci aku...jahat banget pisahin anak dari ayahnya!!
2022-11-07
7