Haz Group, 12.00
Mama Mira kini telah sampai di Bandung. Ia sekarang sedang berada di dalam ruangan Cakka. Yang rupanya anaknya itu masih ada meeting dan akan selesai dalam beberapa menit ke depan.
Untuk menghilangkan rasa suntuknya, Mama Mira mengamati ruangan Cakka dan melihat-lihat pajangan foto yang ada di meja kerja anaknya.
"Sayang sekali, harusnya foto yang dipajang disini adalah foto bersama istrimu. Kapan sih kamu mau nurutin kemauan mama untuk menikah Cakka?"
Foto yang terpajang disana adalah foto Cakka bersama almarhum papanya semasa Cakka kecil dulu.
Tak lama kemudian, Cakka pun masuk ke dalam ruangannya.
"Sudah lama sampainya ma?" tanya Cakka.
"Tidak, hanya beberapa menit yang lalu," jawab Mama Mira.
"Setelah ini apa kamu masih ada meeting lagi?" tanya Mama Mira. Cakka pun menggeleng.
"Baguslah, kalau begitu lebih baik kita makan siang sekarang. Ajak Jeslin sekalian," pinta Mama Mira. Cakka sebenarnya ingin menolak, akan tetapi ia juga tidak ingin membuat mamanya kecewa. Apalagi mamanya datang disaat sedang banyak-banyaknya pekerjaan kantor yang ada di Jakarta hanya karena dirinya yang semalam sakit kepalanya.
****
Restoran Pelangi
Mama Mira, Cakka dan Jeslin menunggu pesanan datang sambil mengobrol bersama. Namun, Cakka tampak tak begitu peduli pada obrolan tersebut, hingga membuat Mama Mira kesal pada sikap anaknya itu.
"Maafkan Cakka ya Jeslin. Maklum saja jika dia bersikap kurang baik seperti itu. Cakka itu tidak pernah punya kekasih sama sekali. Jadi dia belum ada pengalaman untuk memperlakukan wanita layaknya seorang ratu. Tapi lambat laun, Tante yakin Cakka akan berubah kok," jelas Mama Mira.
"Iya tidak apa-apa Tante. Lagipula wajar saja jika Cakka begitu. Kita berdua kan memang sudah lama tidak bertemu. Cakka juga pasti masih merasa canggung," balas Jeslin.
"Cih, pencitraan!" gumam Cakka.
Tak lama, makanan pun datang. Mereka makan sambil lanjut bercerita. Jeslin juga menceritakan tentang dirinya yang akan menggantikan sang papa untuk memimpin perusahaan setelah setahun bekerja di perusahaan Cakka. Karena alasan utama bekerja di perusahaan Cakka adalah untuk mendekatkan Jeslin dan Cakka sesuai keinginan kedua orang tua mereka.
"Maafin Tante ya, karena permintaan Tante, kamu jadi harus mengalah seperti ini. Seharusnya sekarang kamu sudah memimpin perusahaan papa kamu."
"Tidak apa-apa Tante, lagian aku juga suka disini kok. Walaupun awalnya terasa asing, tapi sekarang tidak terlalu Tante. Karena ada seseorang yang membuat aku semangat setiap harinya. Aku juga akan berusaha untuk membuatnya melihatku," ucap Jeslin.
"Orang yang kamu maksud Cakka kan? Bukan orang lain?" tanya Mama Mira memastikan. Dengan malu-malu Jeslin pun mengangguk.
"Lihat tuh Cakka! Jeslin sudah mulai menyukaimu. Kamu seharusnya membalas perasaan sukanya juga. Dia sampai rela jadi bawahan karena kamu tahu!"
"Memang aku yang meminta? Jadi apa hubungannya denganku? Mama ini ada-ada saja," ucap Cakka yang merasa kesal. Ia pun meminum minuman yang ada di depan matanya, tanpa tahu kalau minuman tersebut bahan utamanya adalah kacang-kacangan.
Tak lama kemudian, muncul bintik-bintik merah di tangan Cakka. Mama Mira yang melihat itu jadi panik sendiri. Ia pun dengan emosinya memarahi Jeslin.
"Jeslin seharusnya kamu jangan memesan minuman yang mengandung kacang-kacangan seperti kacang hijau seperti ini!" marah Mama Mira setelah mencoba minuman yang diminum oleh Candra.
"Sayang, Cakka apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Mama Mira ketika melihat wajah Cakka yang sudah berubah menjadi pucat pasi.
"Lemas ma," lirih Cakka.
Dengan cepat, Mama Mira langsung meminta bantuan pegawai disana untuk membawa Cakka masuk ke dalam mobil. Sementara Jeslin, ia hanya terdiam dan masih belum bisa memahami apa yang terjadi.
Mama Mira panik dan ia tak bisa menyetir mobil dalam keadaan seperti itu. Sehingga ia menyuruh salah satu pegawai disana untuk mengendarai mobilnya dengan imbalan uang yang besar.
****
Sesampainya di rumah sakit, Cakka langsung diperiksa oleh dokter. Mama Mira yang menunggu di luar ruangan terus merasa khawatir. Tadi malam Cakka sudah merasakan sakit kepala akibat mengingat memori lamanya. Sekarang Cakka harus mengalami alergi kacang-kacangan yang bila tidak segera ditangani akan berakibat fatal.
Dokter pun keluar dari ruangan Cakka di periksa.
"Dok bagiamana keadaan anak saya?" tanya Mama Mira.
"Anak ibu sudah lebih baik. Untung saja dia langsung dibawa ke rumah sakit. Kalau tidak, bisa saja dia terkena sesak napas yang akan berakibat fatal. Untuk ruam-ruam di kulitnya mungkin 1-2 Minggu ke depan baru akan hilang."
"Baik, terima kasih dokter."
"Sama-sama."
Mama Mira pun masuk ke dalam ruangan rawat Cakka. Ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang yang Cakka gunakan. Ia meraih tangan anaknya dan menaruhnya ke pipinya. Ia teringat akan suaminya yang meninggal akibat alergi kacang yang dideritanya.
"Mama tidak akan sanggup jika harus kehilangan kamu juga Cak," ucap Mama Mira sambil meneteskan air matanya.
Cakka yang lemas pun masih bisa mendengar ucapan sang mama.
"Cakka nggak akan ninggalin mama," ucap Cakka sambil menghapus air mata di pipi mamanya.
"Lebih baik kamu istirahat saja. Mama akan minta Gavin untuk menghandle semua kerjaan kamu dulu. Karena selama seminggu ke depan kamu harus dirawat dan tidak boleh melakukan hal yang berat-berat," ucap sang mama yang memberikan perintahnya.
Candra merasa kesal sendiri. Lagi-lagi mamanya selalu bersikap berlebihan jika alerginya kambuh. Padahal 2-3 hari ke depan juga pasti dirinya sudah sembuh. Tidak perlu sampai selama seminggu juga.
"Ma, aku cuma alergi bukan sakit parah. Please dong! Masa harus seminggu dirawat?"
"Kamu jangan bantah mama ya Cakka. Lakukan saja apa yang mama perintahkan!"
Alhasil, Cakka malah memunggungi mamanya untuk mengutarakan kekesalannya. Mama Mira menghela napas. Ia pun keluar dari ruangan rawat Candra dan menelpon Gavin.
"Halo Tante, ada apa?" tanya Gavin.
"Vin, Tante minta tolong ya. Handle kerjaan Cakka dulu selama seminggu ke depan. Alerginya kumat, jadi harus dirawat di rumah sakit," jawab Mama Mira.
"Memangnya Cakka alergi apa Tante? Sampai-sampai masuk ke rumah sakit segala?" tanya Gavin lagi.
"Alergi kacang-kacangan. Semua olahan makanan dan minuman yang terbuat dari kacang-kacangan, Candra tidak boleh makan dan minum itu," jawab Mama Mira.
"Begitu ya Tante, baiklah kalau gitu. Gavin akan mengurus semua pekerjaan Cakka. Nanti kalau agak santai kerjanya Gavin ke rumah sakit untuk jenguk Cakka," ucap Gavin.
"Makasih ya Vin, nanti alamatnya Tante kirim lewat pesan ya."
"Oke Tante."
Sambungan telepon pun berakhir. Kini ada satu hal yang membuat Gavin penasaran. Rupanya ucapan Dara waktu itu benar, Gavin pikir awalnya Dara hanya asal bicara saja, tapi ternyata itu adalah kebenarannya.
"Apa kamu sudah mengenal Cakka, Dar?"
****
Ramaikan komentar supaya aku semangat nulisnya 🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Bu sul Nganjuk
kasihan kamu, cakka, kamu harus pilih diri kamu, dan mada depan mu. Walaupun orang tua adalah yg utama. kamu harus cari tahu, tanpa mengnyinggung mama kamu
2023-11-01
1
Samaniah
sudah punya anak malah Vin...
kamu sama sasa aja piye..?
2023-05-06
0
Rustan Sarny Apul Sinaga
ayo dara jujur sama gavin
2023-03-23
0