Dua minggu pun berlalu, Dara, Gavin dan Cakka duduk di salah satu kursi panjang kosong yang berada di pojokan. Mereka semua membuka bekal yang Dara bawakan. Setelah kesepakatan dan paksaan dari Cakka, Dara akhirnya mau membuatkan bekal untuk Cakka.
Menu masakan yang Dara buatkan untuk Gavin dan Cakka tidaklah sama. Sementara menu makan Dara sama dengan Gavin. Gavin pun sedikit keheranan. Ia minta menu makannya ditukar dengan milik Cakka. Namun Dara melarang dan mengatakan jika Cakka alergi dengan kacang-kacangan.
Mendengar hal itu, Cakka jadi bingung, darimana Dara tahu kalau dia alergi kacang-kacangan. Padahal ia tidak memberitahukan itu pada siapa pun, hanya mamanya lah yang tahu, bahkan Gavin sendiri yang sahabatnya tidak mengetahui alerginya itu.
Meski ia bingung, Cakka tidak ingin bertanya lebih lanjut agar tidak merusak suasana makan mereka.
Selesai makan siang, Dara bermaksud untuk ke pantry dan mencuci kotak bekal yang sudah kosong. Hanya saja, Jeslin rupanya mengikuti Dara dan meminta Dara untuk tidak mendekati Cakka lagi.
"Aku peringatkan ya! Kamu jangan dekat-dekat dengan Cakka! Dia itu tunangan ku! Mamanya dan kedua orang tuaku sudah menyepakati perjodohan ini!" ucap Jeslin dengan nada yang emosi.
Sementara Dara, ia tampak tidak peduli. Ia juga tidak ingin mengulang kembali kejadian yang sama seperti dulu. Meski ia masih mencintai Cakka. Namun, orang tua Cakka tak pernah menyukainya. Jadi, lebih baik memang ia harus menjauh dari Cakka. Hanya saja untuk bekal makan siang adalah pengecualian.
"Maaf Jeslin, saya masih ada banyak kegiatan yang harus dilakukan. Mendekati pria bukanlah keahlian saya. Permisi!"
Dara keluar dari pantry dengan tiga kotak bekal yang sudah bersih. Ia kemudian kembali ke meja kerjanya dan mengerjakan tugasnya.
Waktu pulang kerja pun tiba, Gavin menawarkan tumpangan pada Dara, namun Dara menolaknya dengan alasan ia ingin pergi berbelanja terlebih dahulu. Ia tidak ingin merepotkan Gavin. Gavin pun akhirnya tak memaksa Dara lagi. Padahal kenyataannya, Dara tidak ingin terus bergantung pada Gavin yang terlalu baik padanya. Ia akan merasa bersalah jika suatu saat nanti mengecewakan Gavin.
Dara duduk menunggu di halte bus, sampai akhirnya ada sebuah mobil yang berhenti di hadapannya. Si pengemudi menurunkan kaca mobilnya, rupanya orang tersebut adalah Cakka.
"Dara, ayo saya antar!" ajak Cakka.
"Tidak usah pak, bus juga sebentar lagi akan datang," tolak Dara.
"Sebentar laginya itu kapan Dara? Ayo saya antar saja! Daripada kemalaman, apalagi langit terlihat sangat mendung," ajak Cakka lagi.
"Tidak usah pak, terima kasih." Dara masih terus menolak.
Karena terus-terusan mendapatkan penolakan, Cakka turun dari mobilnya dan menarik paksa tangan Dara untuk memasuki mobilnya. Mau tak mau Dara pun menurut.
Keduanya pun sudah berada di dalam satu mobil. Cakka menjalankan mobilnya itu.
"Nah, begini kan enak dilihatnya. Jangan terus-terusan menolak Dara," ucap Cakka.
Sementara Dara hanya terdiam akan tetapi hatinya terus berucap.
Kamu memang tidak pernah berubah Cak. Selalu memaksa seseorang demi mengikuti semua keinginanmu.
"Apa kamu bisu? Kenapa diam saja?" tanya Cakka lagi.
"Memangnya saya harus bicara apa?" tanya Dara membuat Cakka kesal. Dia yang selama ini dipuja-puja banyak wanita, merasa kikuk jika di hadapkan dengan wanita seperti Dara. Namun, gejolak dalam dirinya terus menggebu-gebu ingin menaklukan hati wanita di samping kemudinya ini.
"Dimana alamat rumahmu?" tanya Cakka.
Dara tidak menjawab pertanyaan Cakka, ia hanya mengarahkan Cakka untuk menuju ke jalan menuju rumahnya tanpa menyebutkan alamat tersebut.
"Berhenti pak, kita sudah sampai," ucap Dara.
Cakka terus memperhatikan rumah-rumah yang berdiri di daerah tersebut. Semua rumah tampak minimalis akan tetapi terlihat sangat enak dipandang.
Dara keluar dari mobil Cakka dan mengucapkan terima kasihnya.
"Terima kasih pak sudah mengantarkan saya. Maaf merepotkan," ucap Dara.
"Kalau mau berterimakasih, setidaknya berikan saya jamuan terlebih dahulu," jawab Cakka. Ia mengatakan hal tersebut karena ingin mengunjungi rumah Dara.
"Lain kali saja pak, di rumah saya pun tidak ada apa-apa," balas Dara lagi.
"Baiklah, masuklah, saya akan pergi saat melihatmu sudah masuk ke dalam rumah."
"Tidak, sebaiknya bapak pergi terlebih dahulu, saya tidak enak jika bapak harus menunggu sampai saya masuk."
Alhasil, Cakka pun mengalah dan pergi melajukan mobilnya. Yang terpenting sekarang, ia sudah tahu dimana Dara tinggal. Jadi, ia bisa dengan mudah menjemput dan mengantar Dara atau bahkan ia bisa saja berkunjung ke rumah Dara.
Setelah mobil Cakka menjauh dan tidak terlihat lagi, Dara berjalan melewati 8 rumah dari tempat posisinya berada. Rumah tadi bukanlah rumah Dara. Ia sengaja melakukan itu, agar Cakka tidak mengetahui alamat rumahnya yang asli.
Sesampainya di rumah, Dara membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Kemudian ikut bergabung dengan Revan dan Sasa yang sedang menonton televisi.
"Gimana tadi sekolahnya?" tanya Dara pada Revan.
Biasanya Revan akan antusias menjawab dengan riang gembira. Namun kali ini wajah Revan berubah menjadi merengut dan sedih. Membuat Dara berpikir ada sesuatu yang terjadi pada anaknya di sekolah.
"Apa di sekolah ada yang jahat sama kamu sayang?" tanya Dara. Revan menggeleng membuat Dara bingung dibuatnya. Lalu kenapa Revan terlihat sangat sedih?
"Coba cerita sama mama, ada apa?" Revan masih terdiam enggan berbicara.
Sasa yang melihat interaksi Dara dan Revan pun mulai ikut berbicara. Sasa bahkan meminta Dara agar tidak terlalu memaksa Revan untuk bercerita.
"Dar, jangan terlalu memaksa. Biar aku yang coba menanyakan apa yang terjadi di sekolah. Lebih baik kamu ke kamar saja dan beristirahat. Biar Revan aku yang urus," ucap Sasa.
Dara pun menuruti perintah Sasa. Walau hatinya sedikit khawatir tentang Revan, ia memilih untuk tidak memaksa anaknya lagi untuk bercerita.
Sebelum pergi ke kamar, Dara mengusap kepala Revan dan berkata, "Mama harap kamu bisa terbuka sama mama supaya mama tahu apa yang kamu rasakan, maaf kalau mama terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga jarang bisa menjemput dan mengantar kamu ke sekolah."
Kini tinggallah Sasa dan Revan berdua. Sasa menatap Revan dengan tatapan selidiknya membuat Revan jadi keheranan.
"Kenapa Tante natap Revan kaya gitu?" tanya Revan.
"Kalau Tante boleh menebak, kamu pasti sedih karena melihat teman-teman kamu ketika berangkat dan pulang sekolah di jemput oleh papa dan mamanya. Sementara kamu hanya oleh Tante atau mamamu saja. Benar tidak?"
Rupanya dugaan Sasa benar. Mendengar ucapan Sasa, membuat Revan semakin terdiam.
"Kalau kamu tidak menjawab, berarti tebakan Tante benar."
Tiba-tiba Revan bersuara, "Salah nggak sih Tante, kalau Revan mengharapkan kehadiran papa? Revan ingin tahu bagaimana wajahnya. Bagaimana tangan besarnya menggandeng tangan Revan dan bermain bola bersama Revan dan juga Revan ingin diantar dan dijemput oleh kedua orang tua seperti teman-teman Revan yang lainnya."
Seketika Sasa terdiam. Ia melihat guratan kesedihan itu berubah jadi linangan air mata yang keluar dari mata Revan. Sasa tidak menjawab, akan tetapi ia langsung memeluk Revan dengan eratnya.
****
Kasiannya kamu Cak, ditipu sama Dara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Bu sul Nganjuk
Rewan.... sabar..... nak, ayo Dar tlng kasih tahu.... walaupun itu sulit, dan penuh dengan resiko, yang nanti datang dari, si Nenek, yang egois....
2023-11-01
0
Widya Febrina
kamu gak salah Revan, karna keegoisan org yg lebih tua dari kamu, sehingga kamu mengalami dan merasakan hal itu
2022-11-07
1
Tari Gan
suatu saat pasti kamu akan tau ayah mu Revan,yg sabar yahhh nunggu hari itu datang dan othorrr berbaik hati mengungkap kan kebenaran nya 🤭🤭
2022-11-07
0