Hari demi hari berlalu, Cakka masih tidak diperbolehkan pulang dari rumah sakit oleh Mama Mira. Padahal, dokter sendiri sudah mengatakan jika Cakka sudah baik-baik saja dan boleh melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Ma, ayolah aku bosan disini terus! Aku boleh pulang ya?" pinta Cakka dengan wajah melasnya.
"Tidak, tunggu satu hari lagi. Mama baru bisa mengizinkanmu pulang," jawab Mama Mira.
Cakka pun menghela napas kasar. Ia sudah tak ingin berdebat lagi dengan mamanya.
"Kemungkinan besar, besok mama akan kembali ke Jakarta setelah kamu pulang dari rumah sakit. Mama harap kamu jaga pola makan dan perhatian apa saja yang kamu makan. Jangan sampai kejadian seperti kemarin terjadi lagi. Paham?"
Cakka mengangguk.
"Bagus. Kalau begitu mama akan keluar sebentar. Nanti mama kesini lagi. Tidak apa-apa kan jika kamu ditinggal sendiri?"
"Iya tidak apa-apa ma. Lagian aku bukan anak kecil lagi yang takut sendirian," jawab Cakka.
"Ya sudah, istirahatlah."
Setelah mengatakan itu, Mama Mira pun pergi dari ruang rawat Cakka. Ia pergi mengendarai mobilnya menuju ke sekolah.
Sementara Cakka yang ditinggal sendirian pun merasa bosan. Pemandangan yang dilihatnya sehari-hari adalah kamar rawat inapnya, taman rumah sakit dan itu-itu saja terus. Ia merindukan rumahnya dan kasur empunya. Ia juga merindukan kantor karena disana ada wanita yang telah memikat hatinya.
Bicara tentang Dara, Cakka merasa kesal karena wanita itu, selama Cakka berada di rumah sakit tak sekali pun menjenguknya. Bahkan memberikan pesan ucapan 'semoga lekas sembuh' pun tidak. Ucapan itu hanya ia dengar dari mulut Gavin yang menyampaikannya pesan dari Dara akan tetapi Cakka tak mau menanggapi karena ia ingin dara sendiri yang mengucapkan ataupun memberi pesan padanya.
"Is! Dara! Kamu ini memang benar-benar wanita yang menarik. Bahkan karyawan wanita yang lain datang menjengukku silih berganti. Kau bahkan sekali pun tidak. Apa sebaiknya aku menghukum mu setelah keluar dari rumah sakit karena kamu tidak bersikap baik dan tidak berempati pada atasan yang sedang sakit?" pikir Cakka.
"Ide bagus. Aku akan menggunakan itu untuk memanfaatkan waktu denganmu."
Cakka pun tersenyum senang. Ia benar-benar ingin segera keluar dari rumah sakit dan kembali bekerja.
****
Di sekolah, Mama Mira menemui kepala sekolah.
"Sebuah kehormatan bagi kami karena kedatangan nyonya sebagai donatur tetap di sekolah ini," ucap kepala sekolah.
"Tidak usah seperti itu," ujar Mama Mira tidak ingin disanjung-sanjung.
"Baiklah, kalau begitu mari kita lihat-lihat gedung sekolah. Berkat dana dari perusahaan nyonya, kami bisa membangun gedung baru dan menambah fasilitas sekolah ini." Mama Mira pun mengangguk.
Mereka berdua mengelilingi semua area gedung sekolah. Gedung yang sedang dibangun akan dijadikan tempat untuk pelatihan komputer bagi siswa dan siswi selain itu pihak sekolah juga membangun taman hijau untuk menyegarkan sirkulasi udara.
"Untuk tamannya masih dalam tahap pembangunan, kemungkinan dua sampe tiga bulan lagi sudah jadi nyonya," jelas si kepala sekolah. Mama Mira pun mengangguk lagi.
"Baguslah, dana yang diberikan perusahaan ku tidak dimakan mentah-mentah oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Dengan diperbaikinya infrastruktur sekolah, kemungkinan besar murid-murid setiap tahunnya akan bertambah banyak. Tolong antarkan aku ke ruang kelas, aku ingin melihat bagaimana performa guru yang mengajar disini. Jika tidak kompeten, aku sebagai donatur bisa langsung memberhentikannya kan?" Si kepala sekolah pun mengangguk.
Si kepala sekolah pun membawa Mama Mira ke ruang kelas enam. Disana terlihat seorang guru yang mengajar dengan begitu bagus, para murid pun mendengarkan dengan seksama. Mama Mira pun melanjutkan berkeliling lagi ke kantin sekolah.
Teettttt ... teettttt ....
Bel sekolah berbunyi tanda istirahat pertama sudah tiba. Murid-murid berlarian ke kantin sekolah untuk membeli jajan.
"Ternyata semua makanan dan minuman di kantin sekolah pun lengkap."
"Tentu nyonya. Kami sengaja menyiapkan semuanya. Dari mulai kebersihan dan makanan-makanan yang bergizi untuk anak-anak."
"Bagus, terus seperti ini. Tingkatkan kualitas dan fasilitas sekolah. Dengan begitu para siswa dan guru akan nyaman dalam kegiatan belajar mengajar. Lanjutkan saja kerjamu. Aku akan segera pergi," ucap Mama Mira.
Si kepala sekolah pun kembali ke ruangannya. Sementara mama Mira masih berada di kantin sekolah. Ketika hendak meninggalkan kantin, tanpa sengaja ada anak kecil yang menabraknya.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja Bu," ucap anak kecil itu.
"Tidak apa-apa," jawab Mama Mira.
Ketika anak kecil itu mendongak, Mama Mira terdiam mematung. Ia seperti melihat Cakka versi kecil. Sampai-sampai Mama Mira tidak menyadari bahwa anak kecil itu sudah berlalu begitu saja meninggalkannya.
Apa aku tidak salah melihat? Kenapa aku seperti melihat wajah Cakka ketika kecil dulu?
Ucapan itu, hanya mampu Mama Mira ucapkan di dalam hatinya. Setelah itu, ia pun pergi dengan pikiran yang tidak menentu.
Di dalam mobilnya, Mama Mira terus mengingat wajah anak kecil itu. Ada banyak kemungkinan yang ia pikirkan.
"Tidak mungkin kan kalau anak laki-laki yang aku lihat adalah anak Dara dan Cakka? Iya pasti tidak mungkin! Aku yakin kalau Dara sudah menggugurkan janin itu sebelum lahir ke dunia. Sepertinya mataku yang salah melihat."
Mama Mira melajukan mobilnya keluar dari area sekolah tersebut kembali ke rumah sakit.
****
Haz Group
Dara dan Gavin semakin harinya semakin sibuk, apalagi Gavin harus mengerjakan pekerjaan Cakka sekaligus. Ia kerja bagai kuda yang tak ada hentinya.
"Pak, laporan hari ini sudah saya kerjakan dan sudah saya kirimkan lewat email. Silahkan bapak cek. Jika masih ada kekurangan tolong bapak sampaikan pada saya. Saya akan memperbaikinya lagi," ucap Dara.
"Baiklah, terima kasih Dara. Berkat dirimu aku sedikit merasa tenang. Aku akan mengeceknya nanti. Kamu bisa melanjutkan lagi pekerjaanmu yang lain. Untuk revisi atau hal lainnya akan aku beritahu lewat email," balas Gavin menanggapi.
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi." Gavin pun mengangguk.
Setelah keluarnya Dara dari ruangannya, Gavin mengistirahatkan kepala di kursi kerjanya. Rasanya isi kepalanya ingin meledak. Jika saja Cakka bukan atasan sekaligus sahabatnya, Gavin ingin sekali menolak permintaan itu. Apalah daya dirinya yang hanya bawahan.
Padahal jika Gavin ingin, ia pun bisa meneruskan perusahaan papanya yang ada di Surabaya. Hanya saja Gavin masih belum mau. Ia ingin mencari pengalaman di perusahaan orang lain. Ia ingin mencoba semuanya dari nol, merasakan jadi pegawai baru dan naik jabatan atas usahanya sendiri. Namun, ternyata ia salah sasaran. Ia justru melamar di perusahaan milik keluarga sahabatnya sendiri. Alhasil ya seperti inilah, ia merasa dirugikan karena adanya tali pengikat yaitu persahabatan.
****
Ramaikan kolom komentarnya. Jangan lupa untuk like dan berikan dukungan untuk cerita ini supaya bisa terus naik popularitasnya.
Love you all
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Wnr Sri
semangaattt gavin
2022-11-25
0
MIKU CHANNEL
ya jls mirip wong itu cucumu anaknya Cakka, cucu yg tdk diharapjan kehadirannya, ibu yg menyuruh dara utk menggugurkan nya, tp Darra tetap mempertahankannya dan membesarkannya dgn segenap cinta
2022-11-22
0
Iis Sulis
tetap semangat pak Gavin ingat membantu kawan sama halnya dengan mengais pahala... mmh Mira kpn kau akan sadar mah
2022-11-12
0