Besoknya setelah pulang sekolah, Sasa benar-benar membawa Revan ke taman bermain. Anak laki-laki itu bermain perosotan dan Sasa menunggu di tempat duduk sembari mengawasi Revan.
"Tante, Revan haus mau minum," pinta Revan ketika menghampiri Sasa.
"Sebentar ya, kamu tunggu disini. Tante akan ke sebrang untuk beli minuman. Jangan kemana-mana sebelum Tante datang, oke?"
"Oke," jawab Revan sambil menunjukkan jemarinya.
Sembari menunggu minuman datang, Revan masih tetap bermain di perosotan itu. Ketika telinganya mendengar suara penjual ice cream, Revan langsung mengejar penjual ice cream itu dan melupakan pesan Sasa.
"Ice cream! Ice cream! Revan mau beli!" teriak Revan sambil terus berlari.
Anak kecil itu terus berlari sampai ia tidak memperhatikan sisi kanan dan kiri jalan. Hampir saja Revan tertabrak mobil jika si pengemudi tidak menghentikan mobilnya saat itu juga.
Revan bergetar ketakutan, air muka di wajahnya langsung pucat. Si pengemudi pun keluar dari mobilnya dan melihat anak kecil yang hampir ditabraknya.
"Kamu nggak papa?" tanya si pengemudi mobil. Revan menggeleng.
Si pengemudi pun langsung meraih tangan anak kecil yang ditabraknya dan mengajaknya ke pinggiran jalan lalu mendudukkan anak kecil itu disana.
"Beneran nggak papa?" tanya si pengemudi lagi. Lagi-lagi Revan menggeleng, wajahnya masih menunduk tak berani menatap wajah orang yang hampir saja menabraknya. Revan tahu dirinya lah yang salah, yang tidak memperhatikan jalan karena saking inginnya membeli ice cream.
"Kenapa kamu lari-larian di tengah jalan? Kan bahaya," ujar si pengemudi.
"Aku tadi mengejar tukang ice cream om. Aku mau beli ice cream," jawab Revan sambil menatap wajah orang yang mengajaknya bicara.
Deg!
Mata si pengemudi terpaku, ia seperti melihat dirinya dalam versi kecilnya. Mengingatkannya ketika dulu melakukan hal yang sama untuk mengejar tukang ice cream.
Siapa anak ini sebenarnya?
"Nama kamu siapa?" tanya si pengemudi.
"Revan om," jawab Revan tanpa memberitahukan nama belakangnya.
"Em, Revan, lain kali jangan lari-lari seperti itu ya. Kalau mau beli ice cream tunggu mama kamu atau teriak saja. Biar dia yang beli. Soalnya bahaya sekali. Untung saja orangnya itu om, kalau bukan. Mungkin saja dia akan marah-marah sama kamu. Paham kan?" ucap si pengemudi dengan ucapan yang mudah dimengerti.
"Paham om, maafin Revan ya yang nyebrang sembarangan," ucap Revan.
"Iya," jawab si pengemudi sambil mengacak-acak rambut Revan.
"Ish! Om ini seperti Tante Sasa yang suka mengacak-acak rambut Revan saja. Padahal mama sudah susah payah merapikannya," kesal Revan.
Hal tersebut justru membuat si pengemudi tertawa. Anak kecil yang ditemuinya ini begitu menggemaskan ketika sedang kesal.
"Astaga! Tante Sasa!" tiba-tiba Revan berteriak mengingat tantenya yang pasti mencarinya.
"Kenapa?" tanya si pengemudi.
"Om, Revan harus kembali ke taman bermain, Tante Sasa pasti mencari Revan. Karena tadi Revan minta dibelikan minum," jawab Revan.
"Ayo om antar," ajak si pengemudi. Revan pun tidak menolak. Ia bisa merasakan bahwa orang yang bersamanya ini bukanlah orang jahat.
Setelah mengantar Revan sampai di taman bermain, si pengemudi pergi. Membuat Revan bersedih karena ia lupa menanyakan nama om yang menolongnya tadi.
Tak lama kemudian, Sasa datang dengan napas yang tidak beraturan.
"Re-revan kamu dari mana sih? Tante cari-cari kamu tahu! Hampir saja Tante mau nelpon mama kamu. Untung saja belum terjadi, kalau iya. Bisa-bisa Tante diomeli mama kamu," marah Sasa pada Revan.
Revan pun menjelaskan apa yang terjadi padanya ke Sasa. Sasa langsung cemas dan memperhatikan seluruh tubuh Revan.
"Beneran kamu nggak terluka?" tanya Sasa.
"Nggak kok Tante, kan cuma hampir ketabrak. Om nya juga baik, ganteng pula," jawab Revan dengan jujurnya.
"Terus kemana orangnya?" tanya Sasa.
"Udah pergi Tante. Tadi Revan juga udah minta maaf karena Revan yang salah. Cuma Revan lupa tanya siapa nama om nya, hehe."
"Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kamunya baik-baik aja nggak ada yang lecet satu pun. Ayo kita kembali ke restoran saja. Tante lebih tenang kalo kamu disana."
Keduanya pun kembali ke restoran naik taksi.
****
Di perjalanan setelah hampir menabrak anak kecil, Cakka jadi terus kepikiran anak kecil itu. Wajahnya benar-benar sangat mirip dengannya ketika ia kecil dulu. Namun matanya mirip dengan seseorang yang selalu memenuhi pikirannya saat ini, yaitu Dara.
"Bagaimana bisa ada anak yang mirip sepertiku? Aku bahkan belum menikah dan memiliki anak. Kekasih saja tidak punya. Tapi anak kecil itu, benar-benar cetakan ketika aku kecil," ucap Cakka yang keheranan.
"Apa sebenarnya aku punya hubungan dengan Dara?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Cakka tanpa ia duga.
"Jika benar, maka aku akan terus mencari tahu dan menemukan jawabannya."
Setelah mengatakan itu, Cakka melajukan mobilnya di atas kecepatan normal. Ia ingin segera bertemu Dara dan memastikan, apakah ia pernah bertemu Dara di masa lalu atau tidak? Karena jika mengingat pertemuan pertamanya dengan Dara pun, sepertinya Dara mengenalnya. Namun entah kenapa setelah ketidaksengajaan itu, Dara menjadi berpura-pura tidak mengenalnya lagi.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Setelah aku bertemu Dara di kantor, setiap malamnya aku terus bermimpi seorang wanita yang menangis terus menerus sayangnya wajahnya tidak terlihat."
****
Ayo Cakka mulai cari tahu siapa anak yang mirip denganmu!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Lina aja
knpa Chaka bisa amnesia y thor
2023-11-09
0
Tiara
masak bisa lgs merujuk ke Dara sih Cak
2023-10-29
0
ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Hana Nurul Azizah🍩ᴬ∙ᴴ࿐
Kalau kamu Tau kaget sa hehehe
2022-11-10
0