Bandung, 2014
Semuanya sudah banyak berubah. Dara sudah melahirkan anaknya dan kini usianya 6 tahun. Namanya Revan Lazora. Anak laki-laki yang pintar, lucu juga menggemaskan.
Dara, ia bekerja di sebuah perusahaan besar di Bandung namanya Haz Group sebagai sekretaris dari seorang direktur personalia.
Lalu Sasa, ia berhasil membuka restoran yang bertemakan kuliner khas Indonesia. Nama restoran tersebut adalah 'Sasa Rasa'.
Setiap harinya Sasa dan Dara bergantian untuk menjaga Revan. Seperti sekarang, Sasa lah gilirannya. Sasa membawa Revan ke restorannya.
"Kamu mau makan apa Van?"
"Apa ya?" ucap Revan sambil menaruh telunjuk di pipinya.
"Ih, tante tuh gemes kalau liat kamu tau, haha." Sasa mencubit pipi Revan karena gemas.
"Tante mah.." Revan menaruh kedua tangannya untuk menyanggah pipinya.
"Hahahha, ya udah kalau masih bingung. Tante pilihin buat kamu aja ya." Revan pun mengangguk menyetujui.
Revan duduk di kursi yang paling dekat dengan jendela. Ia menatap keluar jendela. Ia melihat banyak sekali keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang sedang berjalan-jalan.
Seketika raut wajah Revan berubah manjadi muram. Ia ingin merasakan apa yang mereka rasakan.
Papa dimana? Revan mau ketemu. Revan mau main sama papa.
Tiba-tiba Sasa datang dan melihat wajah Revan yang sedang muram sambil melihat keluar jendela. Ia pun menghela napas kasar. Selama 7 tahun bersama Dara, tak pernah sedikitpun Dara memberitahu bagaimana rupa dari papa Revan kecuali namanya yaitu Cakka.
Tante yakin, suatu hari nanti kamu bakalan ketemu sama papa kamu, Van. Cukup Tante aja yang pernah merasakan sakit dan sedih tidak dianggap anak oleh ayah tante. Kamu jangan.
"Eh, liat apaan sih? Sampai Tante datang dicuekin? Hm?"
"Nggak kok Tante."
"Ayo dimakan."
"Iya Tante."
Selesai makan, Sasa membawa Revan jalan-jalan ke taman di dekat restoran. Sasa dengan senang hati menjawab pertanyaan dari Revan. Karena pada dasarnya, Revan adalah anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
"Tante, sebentar lagi kan Revan mau masuk sekolah. Kira-kira mama bisa nggak ya anterin Revan?"
"Pasti bisa dong sayang. Kalaupun nggak bisa. Kan masih ada Tante."
"Kenapa mama harus kerja?" tanya Revan dengan polosnya.
"Kalau mama nggak kerja. Kamu makannya gimana? Sekolahnya gimana? Kan semuanya pakai uang. Dan untuk dapetin uang. Kita harus kerja." Sasa mencoba memberikan pengertian pada Revan.
"Revan ingin cepat besar. Supaya bisa menghasilkan uang. Dan mama nggak usah kerja lagi."
Sasa tersenyum mendengar penuturan anak kecil ini. Revan menjadi sedikit dewasa dibandingkan usianya. Ia memaklumi dan menghargai apapun yang diberikan mamanya. Ia jarang meminta sesuatu kecuali di hari ulang tahunnya.
"Kita duduk disini aja ya. Kaki Tante pegal nih."
"Oke Tante."
Tiba-tiba Revan bertanya lagi pada Sasa.
"Tante, Revan itu punya papa kan?"
DEG!
Bagaikan petir yang menyambar. Sasa bingung harus menjawab bagaimana. Ia takut salah bicara. Sasa tahu, Revan tidak akan mungkin menanyakan hal ini pada mamanya. Karena Dara selalu sedih ketika ditanya seperti itu oleh Revan.
"Setiap anak itu pasti punya papa."
"Kalau begitu, dimana papa Revan?"
DEG!
Lagi dan lagi pertanyaan Revan membuat Sasa mati kutu dibuatnya. Sasa pun tidak tahu dimana keberadaan Cakka.
"Van, dengerin Tante."
"Tante tau kamu pasti rindu dan mau ketemu sama papa kamu. Tapi ..." Sasa menghela napas sejenak kemudian melanjutkan ucapannya. "Kalau kamu terus-terusan nanyain tentang papa. Nanti mama kamu sedih. Kamu nggak mau kan buat mama kamu sedih?" Revan pun menggeleng.
"Revan nggak mau buat mama sedih. Revan mau buat mama bahagia."
"Kalau begitu, simpan pertanyaan kamu di dalam hati. Kalau kamu rindu dan mau ketemu papa. Kamu liat aja bintang di langit. Curahkan semua yang mau kamu ungkapkan sama papa. Oke?"
"Oke Tante."
"Pintar." Sasa mengacak-acak rambut Revan.
"Is, berantakan Tante." Revan mem-pout-kan bibirnya.
Sasa tertawa melihat Revan yang menggemaskan. Mereka berdua pun bercerita banyak di taman itu.
****
Sementara Dara yang berada di kantor, ia sedang sibuk mengatur jadwal dan menyalin hasil rapat yang berlangsung 15 menit yang lalu.
"Duh, banyak banget lagi. Semoga aja bisa selesai. Mana udah ditunggu sama Gavin lagi."
Gavin Giovano adalah direktur personalia di perusahaan tersebut sekaligus teman Dara. Mereka bertemu 6 tahun yang lalu setelah Dara melahirkan. Gavin hanya tau Dara sudah punya anak dan hidup sendiri.
Dengan bersusah payah sambil dikejar waktu, Dara akhirnya selesai mengetik hasil rapat juga jadwal untuk Gavin. Kemudian ia mencetak file tersebut dan akan memberikannya pada Gavin.
Beberapa menit kemudian, Dara berjalan masuk ke ruangan Gavin. Tentunya ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum ia berada di dalam ruangan Gavin dan diizinan masuk oleh Gavin.
"Saya sudah menyalin dan mengatur jadwal Pak Gavin. Saya taruh di meja ya, Pak."
"Dar, Dar, udah gue bilang. Kalau lagi berdua jangan panggil gue bapak. Gue masih 26 tahun lho! Belum tua-tua banget."
"Habisnya nggak enak sama karyawan yang lain pak. Berbeda kalau misalnya kita tidak di kantor."
"Ya udah, terserah lo deh Dar."
"Kalau begitu saya permisi Pak." Gavin mengangguk.
"Nanti pulang gue anter Dar."
Dara tidak memberi jawaban sama sekali karena saat Gavin berbicara, Dara sudah berada di pintu dan menutupnya.
"Semoga dia denger deh," ucap Gavin.
Dara keluar dari ruangan Gavin dan berjalan ke arah pintu keluar. Ia mengambil kemeja Gavin yang berada di atas sofa untuk ia masukan ke tempat laundry sebelum keluar dari ruangan.
Pekerjaan Dara memang sebagai sekretaris, namun sebagai teman ia juga terkadang membantu Gavin dalam urusan pakaian, dasi ataupun makanan.
Dara berjalan dengan cepat. Namun tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlawan arah dengannya.
Bruk!
"Maaf, maaf saya tidak sengaja. Saya buru-buru soalnya."
Dara mengucapkan kata maaf tetapi tidak menatap orang yang ditabraknya. Ia pun mendongak dan melihat siapa yang ditabraknya.
DEG!
Seketika Dara terdiam mematung. Entah ini mimpi atau nyata. Ia sungguh terkejut. Berbeda dengan Cakka, ia justru malah dibuat berdebar oleh Dara.
"Ka-kamu..?" ucap Dara tergugu, ia benar-benar merasa semua ini adalah mimpi.
"Ya, kenapa dengan saya?"
"Hah?"
Cakka terkejut dengan jawaban yang diberikan Dara. Dara justru dibuat bingung.
Apa dia tidak mengingatku?
"Maaf sekali lagi pak. Permisi." Dara langsung pergi dengan rasa penasaran di dalam dirinya.
Cakka melihat kepergian Dara dengan rasa yang aneh dalam dirinya.
"Gue kenapa? Ada apa dengan wanita itu? Kenapa rasanya familiar? Tapi, dia sangat menarik." Cakka tersenyum mengingat wajah perempuan yang dilihatnya.
"Biasanya para wanita selalu meminta nomor ataupun muji gue. Tapi dia nggak sama sekali. Benar-benar menarik!"
Cakka pun berjalan menuju ke tempat yang akan ia tuju.
*******
Halo semuanya 😁
Jangan lupa komentarnya ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
tris tanto
enakan ra,,
2023-11-01
0
tris tanto
hebt lngsung dr skretaris,,
2023-10-31
0
Kis Pulza
Cakka pede sekali gk semua wanita kali cak
2023-10-31
0