Sasa Rasa, 14.00
Revan duduk di ruangan Sasa sambil mencoret-coret buku gambarnya. Ia lelah menunggu Sasa yang masih ada urusan dengan karyawannya.
"Is! Tante lama sekali! Revan kan bosan terus duduk seperti ini! Apa Revan jalan-jalan sendiri saja di sekitar sini? Pasti boleh kan?"
Revan pun berinisiatif untuk keluar berjalan-jalan sendirian. Agar tidak membuat Sasa khawatir, Revan pun menuliskan pesan pada Sasa di buku gambarnya. Ia berjalan-jalan di taman dekat restoran.
Ketika melihat kursi kosong, Revan duduk disana. Ia menatap lurus ke depan.
"Apa papa Revan sudah meninggal? Makanya mama selalu sedih ketika Revan tanya tentang papa? Atau jangan-jangan papa sudah menyakiti hati mama dan pergi meninggalkan mama dan Revan?" ucap Revan bertanya-tanya.
"Masih kecil jangan kebanyakan mikir yang aneh-aneh!"
Tiba-tiba suara Sasa terdengar di telinga Revan. Revan pun menoleh ke belakang dan ternyata benar itu adalah Sasa.
"Tante, kok kesini? Memangnya obrolan dengan karyawan tantenya sudah selesai?" tanya Revan. Sasa pun mengangguk.
"Tante khawatir, takut kamu ngilang. Nanti Tante yang dimarahin sama mama kamu. Lagian kalau mau jalan-jalan kesini, setidaknya ajak satu karyawan tante supaya kamu tidak sendirian dan Tante tidak khawatir. Kamu tuh emang jago buat orang khawatir tahu."
"Maaf Tante. Habisnya Revan bosan."
"Maafin Tante juga ya, karena Tante ninggalin kamu sendirian di ruangan. Nah, karena sekarang kita sudah di luar. Apa lebih baik kita jalan-jalan sekalian saja? Hari ini Revan mau jalan-jalan kemana? Tante ikutin deh maunya kamu," tawar Sasa.
"Beneran Tante?" balas Revan dengan mata berbinar. Sasa pun mengangguk.
"Ayo kita ke kebun binatang! Revan ingin lihat hewan yang belalainya panjang itu! Kata Bu guru, hewannya sangat besar. Revan ingin melihatnya secara langsung," ucap Revan dengan antusiasnya.
"Baiklah, let's go!"
****
Haz Group
Satu pesan masuk ke dalam ponsel Dara. Dara pun membaca pesan tersebut.
Sasa
Dar, aku sama Revan hari ini mau jalan-jalan ke kebun binatang. Kalau nanti kita pulangnya telat jangan marah ya.
Dara hanya tersenyum membaca pesan tersebut. Ia marah bukan tanpa sebab, ia marah karena khawatir terhadap keduanya.
"Terima kasih Sa, karena adanya dirimu, Revan jadi ada yang menemani saat aku masih bekerja. Bahkan sepertinya kamu lebih banyak meluangkan waktumu untuk Revan. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semuanya. Aku hanya bisa memperlakukanmu seperti keluargaku sendiri."
Tiba-tiba Gavin ada di hadapan Dara membuat Dara sedikit terkejut.
"Astaga! Bapak mengagetkan saja!" ucap Dara. Dibalas cengiran oleh Gavin.
"Aku cuma mau memberikan kabar, hari ini Cakka akan keluar dari rumah sakit. Apa kamu mau ikut denganku?" tawar Gavin lagi.
Sebenarnya Dara ingin sekali ikut. Hanya saja, Mama Mira pasti masih ada. Hal itu lah yang membuatnya enggan untuk ikut.
"Aku tidak bisa. Ada agenda setelah pulang kerja nanti. Aku titip salah saja ya."
"Baiklah kalau begitu. Akan aku sampaikan nanti padanya." Dara pun mengangguk.
****
Rumah sakit, 16.30
Cakka bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Ia membereskan baju-bajunya ke dalam tas. Sementara mamanya masih mengurus biaya administrasi.
Tak lama kemudian Jeslin datang, membuat wajah Cakka yang semula senang jadi suram. Ia berharap Dara lah yang datang.
"Ada yang bisa aku bantu?" tawar Jeslin.
"Tidak, semuanya sudah beres," jawab Cakka dengan wajah datarnya.
"Begitu ya. Lalu Tante Mira kemana?" tanya Jeslin lagi.
"Bayar biaya rumah sakit," jawab Cakka. Cakka menjawab apa yang ditanyakan Jeslin saja, ia tak berniat untuk bertanya balik ke Jeslin.
Jeslin pun sedikit kesal karena merasa tidak diharapkan kehadirannya. Bahkan obrolannya pun tidak ada timbal baliknya. Cakka seperti sengaja mematikan obrolannya.
"Apa kita tidak bisa memulai sebagai teman lagi seperti semasa kita kecil dulu? Setidaknya dengan begitu kita akan semakin saling mengenal sebelum orang tua kita meminta kita untuk menikah," ucap Jeslin.
"Sepertinya kamu salah mengartikan sesuatu. Pertemanan kecil kita dulu hanya karena kita menyukai hal yang sama dan itu juga tidak membuatmu menjadi teman terdekatku. Satu hal yang harus kamu tahu! Aku tidak suka berteman dengan wanita. Karena berteman dengan wanita itu tidaklah nyata, pasti ada saja yang saling suka atau salah satu yang suka. Aku tidak menyukai hal tersebut dan juga untuk ucapan mu yang kita akan menikah itu tidak akan terjadi. Karena aku tidak akan pernah dan tidak mungkin menikah denganmu."
Cakka pergi dari hadapan Jeslin sambil membawa tas yang sudah dibereskan. Jeslin merasa terhina dan kesal. Memangnya apanya yang tidak mungkin?
"Cakka jangan salahkan aku, jika aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan hatimu!"
Jeslin pun pergi dari kamar tersebut dan berjalan di belakang Cakka yang jaraknya agak jauh.
Rupanya Cakka pergi ke ruang tunggu sambil menunggu mamanya menyelesaikan pembayaran. Setelah selesai, mereka pun keluar dari rumah sakit.
"Ayo kita pulang!" ajak Mama Mira.
"Ayo ma, Cakka benar-benar sudah tidak tahan berada disini."
"Kamu ini! Oh iya, apa Jeslin sudah datang? Tadi mama memberitahu dia kalau kamu akan pulang hari ini. Kita tunggu dia datang dulu, kasihan kan kalo dia datang kita malah sudah pergi," jelas Mama Mira.
"Tidak perlu menunggunya ma. Dia ada di belakang kita," ucap Cakka dengan malasnya.
"Masa?" tanya Mama Mira yang belum percaya.
"Hai Tante," sapa Jeslin pada Tante Mira.
"Eh, Jeslin. Tante kira ucapan Cakka itu bohong."
"Tidak Tante."
"Ayo ma, malah asik ngobrol lagi!" kesal Cakka. Akhirnya Cakka berjalan mendahului kedua wanita itu. Di parkiran, ia melihat Mobil Gavin yang baru saja akan memarkirkan mobilnya. Dengan cepat Cakka berjalan menghampiri mobil Gavin tersebut.
"Vin! Ayo anter gue pulang!" teriak Cakka dengan sedikit keras.
"Ealah, gue kira Tarzan darimana yang teriak-teriak di parkiran rumah sakit. Rupanya lo, Cak!" ucap Gavin yang keheranan saat menurunkan kaca mobilnya.
"Cepet buka pintunya!" perintah Cakka.
"Sabar napa!" ucap Gavin.
Pintu mobil Gavin pun terbuka. Gavin segera melajukan mobilnya lagi keluar dari parkiran. Di saat itu juga, Cakka melambaikan tangannya pada sang mama dan berucap, "Ma, aku pulang sama Gavin. Kalau mama mau langsung pulang ke Jakarta sekarang juga tidak apa-apa."
Mama Mira yang mendengar ucapan anaknya itu merasa sangat kesal. Maksud hati menyuruh Jeslin untuk datang adalah supaya Jeslin yang mengantar Cakka sekalian merawat Cakka. Eh, malah rencananya zonk.
"Duh, Tante minta maaf ya. Lagi-lagi kelakuan Cakka kurang ajar sama kamu. Tante berencana untuk mendekatkan kalian berdua dengan kamu yang mengantarkan Cakka ke rumahnya. Tapi, Cakka malah pulang dengan Gavin," ucap Mama Mira.
"Tidak apa-apa Tante."
"Tante jadi merasa tidak enak sama kamu," ucap Mama Mira lagi kemudian mengirimkan pesan ke Jeslin.
"Pesan yang Tante kirim itu adalah alamat rumah Cakka. Kamu boleh datang kapan saja kesana. Tante juga belum sepenuhnya tenang meninggalkan Cakka sendirian. Kamu bisa kan menjaga Cakka? Memastikan apa yang dia makan juga? Kalau bisa sih kamu tinggal di rumah Cakka juga."
Mendengar ucapan dari mamanya Cakka membuat Jeslin sedikit senang. Dengan tinggal di rumah Cakka akan membuat banyak kesempatan agar dia dan Cakka bisa lebih dekat.
****
Jangan harap Jeslin! Cakka pasti tidak akan setuju jika kamu tinggal di rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Bu sul Nganjuk
Sadar Jeslin, bukan suami istri, tidak boleh tinggal bersama..... jaga diri dong
2023-11-01
0
Iis Sulis
Thor... aduuh masa sih jeslin suruh tinggal bareng Cakka... bisa " reader emosi yang ada
2022-11-12
0
Tari Gan
halahh jeslin keganjenan,jgn mpe ya thooor jeslin nekad naik ke ranjang nya si Cakka yah,
2022-11-10
0