"Hai bro," sapa Gavin pada Cakka.
"Kemana aja selama ini? Lo udah jarang kesini," tanya Gavin.
"Nggak kemana-mana. Gue bakalan stay disini kok. Gue kan bakalan gantiin mama."
"Bagus deh, biar gue ada temennya."
"Rencananya kapan lo bakalan diangkat jadi CEO, Cak?"
"Seminggu lagi mungkin."
Gavin pun mengangguk-angguk mengiyakan. Gavin dan Cakka mereka berteman sejak masuk kuliah di universitas yang sama di Bandung. Bedanya setelah lulus Cakka pulang ke rumahnya yang di Jakarta. Sedangkan Cakka ia tetap memilih tinggal di Bandung daripada pulang ke rumahnya yang di Surabaya.
"Gimana udah dapet calon istri?" tanya Gavin. Cakka menggeleng.
"Nggak ada yang sesuai sama pilihan hati. Mama aja yang udah ngerencanain banyak kencan buta gue tolak semua."
"Rekor banget. Lo sejak kuliah sampe sekarang masih betah aja menjomblo. Padahal banyak banget cewek yang deketin."
"Entah." Cakka mengangkat bahunya tidak tahu.
"Kalo lo gimana?" tanya Cakka.
Gavin bukannya menjawab ia malah senyum-senyum tidak jelas. Membuat Cakka ngeri melihatnya.
"Gue lagi jatuh cinta sih kayanya," ucap Gavin sambil tersenyum.
"Akhirnya, cowok sad boy ini bisa jatuh cinta lagi."
"Emangnya gue itu lo. Yang betah sendiri." Cakka memutar bola matanya malas.
Cakka melihat-lihat ke sekeliling ruangan Gavin. Terdapat beberapa lukisan pemandangan, juga beberapa setelan kemeja yang menggantung dengan rapi.
"Itu lo yang susun?" tanya Cakka sambil menunjung setelan kemeja.
"Bukan. Tapi, sekretaris gue."
"Kirain, tapi kemana orangnya?" tanya Cakka lagi.
"Biasanya kalo jam segini. Dia suka ambil kemeja gue di tukang laundry sebelah," jelas Gavin.
"Njir! Itu sekretaris apa istri lo?" tanya Cakka keheranan.
"Hahaha, dia sekertaris sekaligus temen gue. Pokoknya gue betah kalo sama dia. Berasa jadi suami yang dilayanin sama istri. Tiap pagi dibawain sarapan, terus siangnya makan bareng, baju udah disiapin juga. Pokoknya terima beres aja gitu."
Cakka yang mendengar ucapan Gavin tersenyum senang. Apa ia bisa jatuh cinta? Wanita seperti apa yang akan ia cintai?
Cakka tiba-tiba teringat perkataan mamanya.
"Anak temen mama, dia bakalan jadi sekretaris kamu disana. Kamu jangan cuek-cuek banget jadi cowok."
Gavin keheranan melihat Cakka yang terdiam. Ia terus mengamati raut wajah Cakka.
"Kenapa lo, Cak? Ada masalah? Cerita sini sama gue."
Cakka hanya menghela napas kasar kemudian menggeleng.
"Meskipun gue cerita pun, lo nggak akan bisa bantuin gue."
"Yee, si bambang! Lo jangan terlalu tertutup jadi orang. Gimana bisa lo menjalin hubungan kalo sama sekali nggak bisa saling berbagi?"
"Jadi perjaka tua aja sekalian!" tambah Gavin lagi.
Cakka menatap tajam Gavin lalu memikirkan apa yang dikatakan Gavin. Ia sendiri bingung tentang dirinya. Ia selalu merasa ada sesuatu yang ia lupakan. Oleh karena itu, ia selalu menutup diri dan hati dari orang yang tidak dikenalnya.
"Gue cabut." Cakka menepuk pundak Gavin kemudian keluar dari ruangan Gavin.
"Untung lo sahabat gue." Gavin menghela napas kasar lalu ia bekerja kembali.
****
Seminggu sudah berlalu, Cakka sudah diangkat menjadi CEO di perusahaan milik keluarganya. Ia juga sudah memiliki sekretaris yang sudah disiapkan mamanya. Jeslin Andara namanya.
"Selamat siang, Pak." sapa Jeslin saat memasuki ruangan Cakka.
"Hm," jawab Cakka seadanya.
"Rapat siang ini diadakan di Cafe Notoon sekalian makan siang bersama klien."
"Oke." Cakka hanya menjawab seadanya tanpa melihat ke Jeslin.
Jeslin pun keluar dari ruangan Cakka. Ia merasa kesal dan sedikit dongkol karena perlakuan Cakka padanya.
"Gue kurang apa sih! Kenapa dia sama sekali nggak melihat ke gue?"
Jeslin menghentak-hentakkan kakinya kemudian duduk dengan rasa kesal yang masih menyelimutinya.
Beda halnya dengan Dara. Dara masuk ke ruangan Gavin untuk memberitahukan perihal rapat di jam makan siang.
"Maaf mengganggu waktunya Pak, sekarang sudah saatnya kita rapat."
"Baiklah, ayo kita berangkat."
Dara dan Gavin keluar dari ruangan Gavin dengan Gavin berjalan di depan dan Dara di belakangnya. Gavin seketika melirik ke belakang.
Kapan kita bisa jalan beriringan, Dar?
Sesampainya di Cafe Notoon, sudah ada klien yang datang.
"Selamat siang Pak," sapa Gavin.
"Selamat siang," sapaan balik dari klien.
"Sudah lama menunggu?"
"Tidak juga."
"CEO kami sedang dalam perjalanan, mohon Anda bisa bersabar sedikit lagi."
Klien tersebut mengangguk. Tak lama kemudian Cakka datang dengan Jeslin. Dara yang melihat Cakka berusaha untuk bersikap biasa saja. Meskipun di dalam hatinya ia merasa terkejut, dan tidak mau mengingat masa lalu yang begitu pahit.
Mereka pun mulai membicarakan rencana yang akan mereka buat. Di tengah-tengah pembicaraan, Cakka selalu mencuri-curi pandang ke Dara. Ia sendiri tidak tahu kenapa Dara begitu menarik untuk dijadikan objek untuk dipandangnya.
Baru kali ini gue mandang cewe sampai sebegininya. Apa ini yang namanya dari mata turun ke hati?
Rapat pun selesai dengan hasil yang baik. Gavin mengajak Dara untuk keluar dari cafe. Namun, Cakka malah menghentikan langkah mereka.
"Bagaimana kalau kita makan siang ronde kedua?" usul Cakka.
"Asal Pak Cakka yang bayar sih nggak papa. Saya terima dengan ikhlas," jawab Gavin dengan senyum smirk-nya.
Akhirnya mereka pun makan siang kedua kalinya. Meskipun di hati kecil Dara ia merasa sedikit takut dan deg-degan. Karena banyak hal yang ia pikirkan.
"Vin, nggak usah bicara formal. Kita lagi di luar sekarang."
"Siap bro!"
Mendengar ucapan Cakka dan Gavin barusan, Dara tersadar akan sesuatu. Ternyata selama ini kedua laki-laki itu adalah teman. Ia bersyukur dalam beberapa tahun terakhir tidak dipertemukan dengan Cakka. Namun, sampai sekarang Dara masih bingung kenapa Cakka sama sekali belum mengingatnya.
"Dar, tumben diem aja."
"Ah, nggak apa-apa kok pak."
"Kok pak sih manggilnya? Kan kita lagi di luar Dar."
"Nggak enak ada pak CEO."
"Ya udah sih, biarin aja. Anggap cuma kita berdua yang ada disini."
Jeslin merasa dongkol. Ia merasa tidak dianggap sama sekali. Karena tak ada yang mengajaknya untuk bicara.
"Udah santai aja, gue tau kalian berdua berteman. Gavin cerita sama gue. Ngomong-ngomong nama lo siapa?"
Bagaikan tersambar petir, Dara merasa sesak di dadanya. Ia merasa dilupakan oleh orang yang pernah ia cintai atau bahkan masih dicintainya. Awalnya Dara menyangka mungkin Cakka melupakan dirinya karena sudah lama tidak bertemu. Tapi, ternyata ini terlihat seperti Cakka yang tidak mengingat apapun tentang Dara.
"Saya Dara Lazora, Pak."
Cakka mengangguk. Kemudian ia menyantap makanan yang ada di piringnya. Selama makan, Gavin dan Dara selalu mengobrol seperti hanya ada mereka berdua saja, dan hal itu menarik perhatian Cakka.
Dara Lazora, kenapa gue tak henti-hentinya memandang lo? Sebenarnya apa yang ada di dalam diri lo? Sampai buat gue terus melirik lo?
Cakka bingung dengan dirinya. Selama 7 tahun ini, ia tak pernah tertarik dengan perempuan sekalipun. Setiap ada yang mendekat ia akan menjauh. Tapi, setelah melihat Dara. Ia ingin mendekat dan terus mendekat. Dara bagaikan magnet yang begitu kuat menarik dirinya.
"Gue udah selesai makan, gue cabut duluan ya. Ayo Dar." Dara pun mengangguk.
Cakka melihat kepergian keduanya dengan rasa sakit di dadanya. Sementara Dara, ia berasumsi bahwa Cakka kehilangan ingatannya. Namun, ia tidak tahu penyebab akan hal itu.
Jeslin bertambah kesal karena melihat tatapan Cakka yang begitu intens saat melihat Dara.
Hal menarik apa yang ada di wanita itu? Sekalinya bertemu ia sudah ditatap terus-menerus.
Sejenak ia teringat pada ucapan Mira, mamanya Cakka.
"Pokoknya kamu harus buat anak Tante jatuh cinta, Jes. Tante pengen banget liat dia nikah dan punya anak."
Ingatan tersebut kemudian menghilang dengan semangat membara dalam diri Jeslin.
Ya, gue harus bisa buat dia jatuh cinta sama gue. Karena gue memang sudah tertarik sama dia.
*******
Bagaimana lanjutannya?
Jangan lupa komentarnya kawan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Lina aja
lanjut nyimak dulu kita
2023-11-04
0
tris tanto
dl yg dara kerumah caka trus dimaki2 sm makny ,,gk nyb nyari dulunya
2023-11-01
0
Kis Pulza
😁😁😁😁 cinta kok dipaksa jes
2023-10-31
2