Sasa Rasa, 10.30
Revan yang kini berada di restoran bersama Sasa pun duduk di kursi dekat jendela. Apa yang ia minta dikabulkan oleh tantenya.
"Enak sekali Tante masakannya," puji Revan.
"Enak masakan Tante Sasa atau Mama Dara?" tanya Sasa ingin tahu jawaban Revan.
"Mama Dara kemana-mana dong. Nanti setelah mama pulang kerja juga mama akan buatkan Revan nasi goreng seafood," ucap Revan pamer ke Sasa.
"Nanti Tante nyicip ah," balas Sasa pura-pura menggoda Revan.
"Tidak boleh, nasi goreng seafood itu nanti dibuat khusus untuk Revan. Tante kalau mau, ya buat sendiri saja, Tante kan bisa masak juga. Kalau Revan kan tidak. Revan masih kecil," ucap Revan kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Iya deh. Tadi di sekolah gimana? Teman-teman nya baik kan?" tanya Sasa lagi.
"Baik kok Tante. Revan juga senang sekolah disana. Ceweknya cantik-cantik, hihi."
"Ish! Masih kecil jangan genit!" larang Sasa.
"Haha, tidak Tante. Revan kan tadi cuma muji."
"Iya deh iya. Cepat habiskan makanannya abis itu kita jalan."
"Siap Tante."
****
Haz Group, 16.45
Waktunya jam pulang kantor tiba. Cakka membereskan berkas yang ada di mejanya sebelum pulang. Setelah beres, Cakka meraih jasnya yang sengaja ia letakan di kursi. Tiba-tiba Mama Mira menelponnya, Cakka pun menjawab telepon tersebut.
"Cakka kamu antarkan Jeslin pulang ke apartemennya. Kasihan dia, mobilnya sedang di bengkel. Mama takut dia kenapa-kenapa kalau naik taksi atau angkutan umum. Apalagi sekarang lagi marak-maraknya supir yang tidak bertanggungjawab. Pokoknya kamu harus mengantar Jeslin! Tidak ada penolakan oke?! Kamu dengar kan Cakka?"
"Iya Cakka dengar ma," balas Cakka dengan malas.
"Bagus, ya sudah sana pulang! Sekalian kamu pdkt sama Jeslin. Kamu lho sudah umur 26 tahun masih saja jomblo. Mau sampai kapan sendirian terus? Mama mu ini sudah pengen gendong cucu, pengen lihat kamu nikah," ucap Mama Mira yang terus-menerus mengharapkan Cakka menikah dan memiliki anak.
"Ma, jika waktunya sudah tepat dan aku sudah menemukan jodoh yang sesuai, aku pasti nikah. Jangan bicarakan itu terus!" Cakka mulai kesal pembahasan setiap harinya dari mamanya pasti nikah dan cucu. Memangnya ia pabrik bayi apa bagaimana?
"Selalu saja jawabanmu begitu mama tidak suka. Ya sudah sana antar Jeslin pulang. Kalau begitu telpon mama matikan."
Telpon pun benar-benar mati, membuat Cakka bernapas lega. Rasanya jika berhadapan dengan mamanya ia merasa seperti sedang menonton film horror. Selalu tegang dan merinding.
"Memang wanita menyusahkan! Jika sekarang mobilnya di bengkel, pasti tadi pagi dia berangkat pun naik angkutan umum. Manja sekali!"
Cakka pun keluar dari ruangannya. Ia melihat Jeslin yang sudah berdiri di depan meja kerjanya seperti menunggu dirinya.
"Kalau mau aku antar pulang jangan lelet! Aku tidak suka dengan orang yang lelet, manja dan tukang lapor!"
Setelah mengatakan itu, Cakka berjalan mendahului Jeslin. Jeslin merasa kesal karena Cakka masih saja dingin, ketus dan cuek padanya.
"Giliran sama Dara saja dia sedikit melunak sifatnya. Apa istimewanya wanita itu?" gerutu Jeslin kemudian sedikit berlari mengejar Cakka.
Di parkiran, Cakka bertemu Dara dan Gavin yang akan pulang bersama. Ia merasa cemburu, akan tetapi mau bagaimana lagi ia harus mengantar wanita manja ini. Lagipula ia juga sudah berjanji akan berjuang secara adil. Jadi, biarlah hari ini jadi hari berjuang ya Gavin, dan esok giliran dirinya yang berjuang. Untuk hasil akhirnya nanti, semuanya ada di tangan Dara sendiri.
Tatapan mata Cakka yang tajam dan raut wajah yang cemburu itu rupanya terlihat oleh Jeslin. Ia lagi-lagi menjadi kesal.
Kenapa sih wanita itu harus ada di parkiran juga!? Buat orang kesal saja! Sok cantik!
Ketika mobil Gavin melaju, Cakka melihat ke arah Jeslin.
"Cepat masuk!"
Jeslin pun masuk ke dalam mobil Cakka, duduk di samping kemudi. Di perjalanan suasana tampak sunyi. Cakka tidak mengajak Jeslin untuk berbicara. Jeslin rasanya kesal sekali terus-menerus diabaikan.
"Cak, ngobrol kek, kita kan dulunya teman dekat di masa SD dan SMP," ucap Jeslin membuka topik pembicaraan.
"Iya kah? Aku tidak ingat," jawab Cakka sesingkat mungkin.
"Masa tidak ingat? Bahkan dulu kita sering dikira pacaran lho saking dekatnya," ucap Jeslin lagi mengingatkan akan dirinya dan Candra di masa lalu.
"Kurasa itu hanya pikiranmu saja. Aku tidak merasa."
Lagi-lagi jawaban Cakka membuat dirinya kesal. Cakka seolah-olah melupakan kenangan bersamanya ketika masa kecil dulu.
Mobil pun berhenti tepat di depan gedung apartemen dimana Jeslin tinggal.
"Sudah sampai."
"Kau tidak ingin mampir?" ucap Jeslin menawarkan Cakka untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Aku hanya diperintahkan untuk mengantarmu oleh mama. Jadi jangan berharap aku mau masuk ke dalam apartemen mu. Dan ingat kata-kataku ini! Kau jangan menggunakan mamaku untuk mencoba dekat denganku, karena itu tidak akan bisa. Wanita sepertimu bukan tipeku."
Jeslin pun keluar dari mobil Cakka dengan perasaan sedih dan sakit hati. Ia merasa ditolak mentah-mentah oleh Cakka sebelum ia menyatakan perasaanya.
Cakka pun segera melajukan mobilnya keluar dari area gedung apartemen Jeslin. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ingin pulang ke rumahnya tapi ia malas. Di rumah pun ia sendirian tak ada siapapun disana.
"Kalau saja aku tahu dimana rumah Dara, aku pasti akan bertamu ke rumahnya sekarang. Melihat wajahnya yang teduh itu membuat ku merasa nyaman. Bersamanya seperti aku bersama seseorang yang sudah aku kenal lama. Tapi aku tidak bisa mengingatnya."
Akhirnya Cakka pun memutuskan untuk mengunjungi apartemen Gavin. Kemungkinan besar laki-laki tersebut pasti sudah sampai di apartemennya.
****
Apartemen Gavin
Cakka menekan bel apartemen Gavin sampai Gavin keluar dari dalam apartemennya.
"Ya ampun, gue kira siapa, rupanya lo, Cak. Tumben kesini?" tanya Gavin yang sedikit keheranan.
"Gue suntuk kalo di rumah. Terlalu sepi," jawab Cakka kemudian masuk ke dalam apartemen Gavin sebelum dipersilahkan masuk oleh si pemiliknya.
"Inilah contoh tamu yang tidak punya akhlak! Belum juga dipersilahkan masuk sudah masuk duluan!" sindir Gavin pada Cakka.
"Berisik!" ucap Cakka yang kini sudah rebahan di sofa milik Gavin.
"Besok lo jangan anterin Dara pulang. Besok gantian gue."
Tiba-tiba Cakka membuka topik pembicaraan tentang Dara membuat Gavin sedikit mengerutkan alisnya.
"Kenapa jadi lo yang melarang? Itu kan tergantung dari Dara nya mau dia dianter sama siapa. Kalau dianya mau dianterin sama gue terus gimana? Masa lo mau maksa dia biar lo yang antar pulang?"
"Jelas lah, kan kita harus adil," jawab Cakka.
"Adil dalam versi lo dan orang lain kadang suka beda."
Cakka tak berniat membalas ucapan Gavin lagi. Ia malah enak-enakan tidur di sofa milik Gavin. Mana tidurnya cepat banget lagi. Padahal barusan mereka masih mengobrol.
"Tidak semuanya bisa lo dapatkan dengan cara memaksa Cak."
****
Nah lho! Sukurin Cakka nggak ingat sama lo Jeslin! Aku senang sekali 🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Bu sul Nganjuk
cakka kenapa sih.., kok bisa lupa gitu?
2023-10-31
1
Devi Handayani
dasar cukkuyy...... mau seenaknya aja😓😓😓😓😓
2023-03-07
1
ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Hana Nurul Azizah🍩ᴬ∙ᴴ࿐
Ayoo Perlahan lahan kamu pasti mengingatnya Cakka...Lawan ayoo,kamu pasti bisa
2022-11-10
1