Satu bulan kemudian, Dara mulai gelisah karena ia tak kunjung menstruasi. Sampai akhirnya ia memberanikan dirinya untuk mengecek apakah ia hamil atau tidak menggunakan testpack. Dan ternyata hasilnya positif, Dara menangis.
"Hiks ... hiks ... hiks ...."
"Bagaimana ini? Aku benar-benar hamil. Aku takut, kalau Cakka tidak menepati janjinya. Bagaimana kehidupanku setelahnya? Hiks ... hiks ... hiks ...."
Dara memberanikan diri untuk menelpon Cakka. Ia memberitahukan bahwa dirinya benar-benar sedang mengandung. Cakka pun segera bergegas ke rumah Dara untuk membawa Dara ke rumahnya dan meminta izin pada ibu Cakka.
Sesampainya di depan rumah Cakka, Dara merasa takut dan khawatir ibunya Cakka tidak akan merestui mereka.
"Tenang, ada aku Dar. Kita lewatin ini sama-sama." Dara pun mengangguk.
Kini Dara, Cakka dan ibunya sedang duduk di ruang tamu. Cakka pun menjelaskan situasi yang mereka alami dan Cakka berniat untuk bertanggungjawab pada Dara. Dengan Cakka yang akan menikahi Dara.
Mira, ibunya Cakka ia menyuruh Cakka masuk ke kamar ibunya untuk mengambil cincin untuk pertunangan dadakan. Tapi, yang terjadi selama Cakka meninggalkan mereka berdua membuat hati Dara hancur.
"Kamu pikir saya akan merestui kalian?" ucap Mama Mira sambil menampilkan senyum tipisnya.
"Gak akan! Anak saya itu anak baik-baik. Mana mungkin dia menghamili seorang wanita. Atau jangan-jangan yang ada di dalam kandungan kamu itu bukan anak dari Cakka?"
"Dasar perempuan murahan!"
"Pasti kamu mengincar harta anak saya kan?"
"Selama ini saya mengizinkan kamu pacaran dengannya karena saya pikir anak saya akan segera meninggalkan kamu."
"Cukup Tante! " Dara mencoba menahan air matanya supaya tidak jatuh mendengar ucapan yang menyayat hatinya.
"Saya bukan perempuan murahan. Saya hanya melakukan itu dengan anak Tante."
"Mana ada sih maling ngaku!"
"Nih, saya kasih cek untuk biaya anak yang ada di dalam kandungan kamu."
"Butuh berapa? Bilang aja. Asalkan kamu jangan ganggu kehidupan anak saya lagi dan pergi jauh. Masa depan anak saya masih panjang, tidak seperti kamu yang hanya anak yatim piatu!"
"100 juta cukup?"
Mama Mira pun menulis nominal uang 100 juta di sebuah cek dan memberikannya pada Dara.
"Saya bukan perempuan matre seperti yang Tante pikirkan." Dara merobek cek yang diberikan Mama Mira padanya.
"WOW! Sombong sekali ya kamu!"
"Dengan Tante memberikan cek tadi pada saya, saya jadi tau. Kalau Tante hanya menghargai cucu Tante dengan uang senilai 100 juta. Padahal seorang anak itu tidak ada harganya bagi seorang ibu. Saya permisi."
Dara pun pergi dari rumah Cakka tanpa pamit ke Cakka lebih dulu. Hatinya begitu sakit dihina dan direndahkan seperti itu. Ia juga tidak ingin berada di posisi yang seperti ini. Tidak diharapkan dan tidak diterima di keluarga sang laki-laki.
Sesampainya di rumah, Dara langsung mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumah.
Sekarang ia sudah berada di terminal, ia duduk di sudut-sudut terminal sambil meringkuk.
"Aku harus kemana? Hiks..hiks.."
"Hatiku sangat sakit dihina oleh Tante Mira."
"Cakka maafkan aku."
"Kita memang tidak berjodoh."
"Tapi aku janji, akan membesarkan anak ini dengan baik."
Tiba-tiba ada seorang perempuan yang menepuk punggungnya kemudian duduk di sebelah Dara.
"Aku tahu, pasti ini berat untuk kamu. Tapi, percayalah akan selalu ada jalan untuk bisa kamu raih."
Dara pun mendongak dan menatap perempuan tersebut.
"Kenalkan namaku Sasa Denina, maaf aku nggak sengaja dengar keluh kesah kamu." Dara mengangguk kemudian memperkenalkan dirinya.
"Aku Dara Lazora, panggil saja Dara."
"Oke. Kamu mau pergi kemana?"
"Entahlah, aku juga nggak tau."
"Mau ikut denganku?"
Sebuah ajakan yang membuat Dara terharu. Tanpa pikir panjang Dara mengiyakan ajakan Sasa. Sasa membawa Dara ke Bandung.
Di perjalanan, mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan pribadi. Dara adalah anak tunggal dan kedua orangtuanya sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Kedua orangtuanya hanya meninggalkan sebuah rumah dan beberapa emas serta sedikit uang untuk Dara. Sampai Dara harus berjuang untuk mencukupi hidupnya dengan bekerja sambil sekolah.
Sedangkan Sasa, ia adalah anak dari hasil hubungan terlarang antara ibunya yang seorang pembantu dengan ayahnya yang seorang majikan. Ibunya sudah meninggal satu bulan yang lalu. Sasa ke Jakarta untuk berjumpa dengan ayahnya, namun naas ia justru malah tidak dianggap sama sekali hingga ia akhirnya memutuskan untuk pulang dan enggan bertemu kembali dengan ayahnya itu.
Kehidupan keduanya sungguh menyedihkan. Hingga mereka pun akhirnya memutuskan untuk menjadi keluarga satu sama lainnya.
*****
Bandung, 2007
Dara dan Sasa sudah sampai di kampung halaman Sasa. Sasa membawa Dara ke rumahnya.
"Ini rumahku. Semoga kamu betah ya."
"Makasih Sa. Kamu sudah banyak membantuku dan mengizinkan aku untuk tinggal bersamamu."
"Nggak Dar, kita itu saling membantu. Kamu menemani aku yang sebatang kara. Begitu juga aku. Kalau perlu apa-apa bilang ya?" Dara mengangguk.
Dara memasuki kamar yang ada, ia merebahkan dirinya di ranjang. Ia menatap langit-langit kamar dan membayangkan kenangan indah yang dilaluinya dengan Cakka.
"Cakka semoga kamu bahagia."
"Maaf, aku terlalu mencintai kamu. Hingga aku lebih memilih untuk tidak menjadi perusak masa depan kamu."
Sebenarnya alasan utama Dara bukanlah itu. Dara sudah bertekad dalam dirinya untuk melupakan kejadian yang membuatkan menangis. Kini ia akan berusaha untuk menjaga dan merawat janin yang ada di dalam kandungannya.
"Kamu sehat-sehat di dalam ya."
Tanpa Dara ketahui, Sasa melihat dan mendengar ucapan Dara. Ia merasa sedih. Meskipun Dara belum bercerita ia hamil dengan siapa. Tapi, Sasa tau kalau Dara mencintai laki-laki itu. Begitu pula sebaliknya. Yang Sasa pikirkan sekarang adalah mengapa Dara mengambil keputusan untuk pergi menjauh dari laki-laki tersebut.
Mengingat itu, ia tersadar apa yang dilakukan Dara sama persis dengan apa yang dilakukan ibunya.
"Aku harap ketika anak kamu besar nanti. Ayahnya bisa mengakui anaknya. Tidak seperti aku."
Sasa tersenyum tipis namun sorot matanya sudah sedikit berair. Ia kemudian pergi ke dapur menyiapkan makanan untuk Dara.
Malam harinya, Dara dan Sasa mengobrol lagi tentang bagaimana kehidupan mereka setelahnya.
"Dar, besok aku akan cari kerja. Kamu di rumah aja."
"Sa, aku juga mau cari kerja. Aku nggak enak sama kamu. Udah numpang malah enak-enakan di rumah. Aku nggak mau begitu."
"Nggak papa Dar. Ibu hamil itu nggak boleh capek."
Mereka terus berdebat, hingga akhirnya Dara mengalah dan menuruti permintaan Sasa.
Hari demi hari mereka lalui bersama. Dara dan Sasa saling melengkapi satu sama lainnya. Mereka bahagia meskipun dalam hatinya masih ada sesak yang belum bisa terobati.
*****
Halo semuanya. 😁
Kira-kira gimana kelanjutannya ya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Lina aja
nyimak dulu y thor
2023-10-31
0
Agung Antarini
anjut Thor..
kayaknya bagus ni cerita nya
semangat 💪💪👍👍
2023-10-31
2
Kis Pulza
lanjut thor
2023-10-31
0