“Orion!!!”
Lagi-lagi seseorang yang berisik datang. Sambil berlari masuk ke dalam hotel, Mahanta merentangkan kedua tangannya ke samping. Ia memanggil nama Orion dari kejauhan dengan suara lantang, lantas memeluknya dengan erat.
Ia tersedu-sedu sambil mengoceh-ngoceh lantaran masalah yang Orion lalui kali ini membuat Mahanta sangat khawatir.
“Huhuhu ...tak kusangka, anak sekecil ini akan menghadapi perundungan di usia belia, hiks,” ujar Mahanta dengan isak tangis.
“Untuk apa kau kemari, Mahanta? Bukankah sudah kubilang untuk tetap di rumah selagi aku dan Orion ada urusan di luar,” ujar Gista bertanya.
“Saya khawatir karena Raka memberitahuku kalau Orion terlibat masalah dengan senior laki-laki. Dan katanya mereka adalah bagian dari Grup Dharmawangsa. Makanya saya sangat khawatir,” ucap Mahanta dengan mata berkaca-kaca.
“Ini situasi yang bisa aku urus sendiri, Mahanta.”
“Nona Gista ada benarnya. Lagipula ini adalah salahku yang tiba-tiba kehilangan jejak lalu tersesat,” kata Orion.
“Tapi dunia luar itu memang sangat berbahaya sehingga aku tidak menyarankan Orion untuk pergi keluar malam-malam. Meskipun dengan Nona Gista, inilah mengapa aku khawatir ...” ucapnya sedikit sedih.
“Anak ini kenapa, sih ...” gerutu Orion dalam batin.
Kericuhan yang pertama kali dimulai oleh kembar tiga itu pun benar-benar berakhir sekarang. Beruntungnya mereka tidak mengeluarkan sedikit kekuatan karena jika iya, maka entah apa yang akan terjadi ke depannya. Dan tentunya akan membahayakan nyawa orang-orang sekitar.
Mahanta pula sudah terlanjur datang kemari sehingga mereka pun berniat ke ruangan pertemuan bersama.
Di luar pintu ruangan tersebut, sekumpulan ketua berkumpul dan melihat Gista kembali dengan anak kecil dan seorang pria di belakangnya.
“Oh, jadi ini anak yang Anda maksud, Nona Arutala?” tanya Ketua Grup Raiya Meera dengan antusias. Ia mengambil posisi duduk berjongkok dan menatap Orion dengan sumringah.
“Iya, benar. Baru-baru ini dia bangkit. Kenalkan, Orion Sadawira.” Gista memperkenalkan lalu menganggukkan kepala pada Orion.
“Salam kenal. Saya Orion Sadawira, anak yang berusia 9 tahun dan berada di bawah naungan Grup Arutala. Saya Pejuang NED yang lemah, mohon bantuannya,” ucap Orion dengan tutur kata lembut nan sopan.
“Anak yang pintar dan manis sekali.” Ketua Grup Raiya Meera memuji.
“Anak ini memiliki kekuatan apa?” Ketua Grup Adi Caraka bertanya.
“Untuk itu kita belum tahu,” ucap Gista. Ia berbohong, Mahanta dan Orion pun hanya terdiam seolah menanggapi kebohongan Gista adalah sebuah fakta.
“Jika Nona Gista tak masalah, bolehkah saya melatihnya di tempat saya?” Ketua Grup Raiya Meera mengajukan permintaan.
“Maaf tidak bisa. Anak ini pendiam dan sulit untuk beradaptasi. Saya membawanya kemari pun karena ingin Orion lebih terbiasa dengan dunia luar,” tutur Gista meyakinkan.
Orion tak menyangka kalau Gista pandai sekali berbohong. Semua perkataannya terlontar begitu saja, seakan-akan mencontek naskah tertulis.
“Orion, mulai sekarang kamu akan mengenal dunia NED lebih jauh. Apakah kamu keberatan?” tanya Gista.
“Tidak, sama sekali. Jika ini dibutuhkan untuk menekankan tindak kriminalisasi, maka saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat koneksi termasuk melatih diri sendiri dengan kuat,” kata Orion dengan santai.
Kata-katanya yang berbelit menandakan Orion tergesa-gesa, ia sendiri kaget apalagi mereka, para orang dewasa yang mendengarnya. Kata, "koneksi." ,saja sudah merujuk ke arah yang lebih dalam maknanya.
Mana ada anak kecil mengerti kata-kata sulit seperti itu.
“Dia pintar sekali bicara, ya. Aku sempat mengira kalau dia ini sudah dewasa.”
“Haha, anak-anak cepat sekali berkembang.”
Untungnya respon mereka tidak berlebihan menanggapi perkataan Orion tadi. Sempat mengira bahwa ini akan menjadi situasi yang paling berbahaya, salah sedikit ucap akan menjadikan dirinya sendiri sebagai mangsa.
Orion menghela napas panjang. Sedangkan Mahanta dan Gista bersikap biasa saja lantaran sudah tahu bagaimana Orion yang biasanya itu.
“Pertemuan kali ini akan lebih baik diundur saja sampai besok. Ketua Grup Dharmawangsa sepertinya sangat merepotkan saat ini,” ujar Ketua Grup Ganendra.
Ketua lainnya mengangguk tanda setuju, pertemuan hari ini akan diundur sementara perbincangan penting tidak akan disinggung di luar pertemuan mereka.
Gista, Mahanta dan Orion pamit undur diri setelah kepergian ketua lainnya.
***
“Nona Gista, saya ingin berbicara sebentar. Ini perihal Endy, apakah memang masalah ini berkaitan dengan penculikan anak-anak yang telah bangkit kembali?” tanya Mahanta dengan berbisik.
“Kita memang berpikir bahwa anak-anak itu telah bangkit kembali dan mereka yang menculiknya ingin memeras darah mereka yang belum tentu itu darah langka,” ujar Gista dengan suara yang amat lirih.
“Bagaimana pendapat Ketua Organisasi yang lain? Adakah hal lain yang dimaksud?”
“Selain itu, anak-anak diculik karena ingin dipaksa kembali bangkit setelah mati dengan darah langka yang mereka punya. Hanya ada dua kemungkinan itu terjadi, tapi selamanya kita tidak akan tahu jika hanya berdiam diri,” tutur Gista.
“Itu terlalu sulit dipikir lebih panjang. Bukankah ada Pahlawan Kota yang biasanya membantu?” sindir Mahanta mengenai Pahlawan Kota.
“Itu, ya ...sepertinya dia tidak datang ke pertemuan. Mungkin dia berada di kamarnya saat ini,” pikir Gista seraya menengadah.
“Pahlawan Kota ada di hotel ini?” tanya Orion memastikan. Gista menganggukkan kepala.
“Orion, kau barusan menguping pembicaraan kami? Itu tidak sopan,” tukas Mahanta memperingatkan Orion.
“Apa? Aku juga bagian dari kalian, untuk apa menyembunyikan hal itu. Dan kenapa masalah Endy rasanya semakin berat dari yang aku dengar sebelumnya?” sahut Orion.
“Sst, jangan keras-keras. Suaramu akan nyaring jika berada di lorong yang sepi. Takkan kau membuat kami berada dalam kesulitan lagi jika mendapat gunjingan dari orang lain perkara hal ini,” lirih Mahanta seraya membungkam mulut Orion.
Apa pun yang mereka katakan di lorong hotel yang sepi tentu akan menggaung, nyaring dan akan didengar oleh orang sekitar. Karena itulah Mahanta sangat berhati-hati ketika bicara.
Masalah yang berkaitan dengan Endy ternyata tidak hanya sekadar kekerasan atau pembunuhan terhadap orang-orang dewasa yang menyakiti dan menculik anak-anak, melainkan orang yang menculik mereka diyakini adalah Pejuang NED pula.
Namun, mereka berada di pihak musuh. Yang bahkan saat ini Orion masih belum tahu. Satu hal yang menjadi keyakinan Gista, adanya mata-mata di antara organisasi penindak kriminalisasi, yakni Ketua Grup Adi Caraka. Tapi belum cukup bukti.
Ini masih berada di antara bayang-bayang. Tak memungkinkan Orion tuk melangkah lebih jauh ke depan. Siapa yang menjadi musuhnya pun saat ini ia tidak tahu, dan hanya bersikap waspada termasuk orang yang telah memberinya naungan.
“Akan lebih baik jika kita bicara di dalam ruangan,” ujar Gista menyarankan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 266 Episodes
Comments