Melirik ke arah Gista lalu kembali memandang wajah Orion dan berkata, “Tapi, tenanglah. Salah satu dari kami sudah mengurusnya, dan dia aman. Jadi tak usah merasa terbebani.”
“Mulai hari ini, kau mungkin akan terlibat hal yang lebih berbahaya selama kau ikut denganku. Apa kau bersedia, Orion? Dunia yang sekarang sudah jauh berbeda dari tahun-tahun yang lalu,” sambung Gista menjelaskan.
Apakah ini sudah nasibnya? Orion selalu saja berada dalam masalah. Meskipun tawaran dari Gista membuatnya cukup aman. Give and Take.
Memberi dan menerima sudah hal lumrah bagi mereka. Akan tetapi mengingat perubahan di dunia ini sudah terlalu jauh, mungkin sebagian orang tidak melihat perubahannya namun berbeda dengan Pejuang NED. Mereka yang telah lama mati lalu hidup kembali dengan kekuatan yang bersemayam dalam tubuhnya. Hal yang tak masuk akal.
“Sebelumnya perkenalkan diriku. Gista Arutala, ketua dalam organisasi di kota J-Karta. Aku membentuk kelompok semacam ini demi melindungi semua orang tapi aku tidak punya kuasa lebih dari kota J-Karta.”
“Dan aku Mahanta. Salah satu orang yang selalu mendampingi Nona Gista. Kalau kau, bagaimana Orion?”
Orion mengedipkan mata selama beberapa kali. Terlihat ia kebingungan menghadapi situasi saat ini.
“Kau baru pertama kalinya menghadapi hal ini bukan? Tapi membunuh itu sudah hal wajar bagi Pejuang NED. Alasan mereka pun bermacam-macam sehingga tindakannya menjadi logis. Tapi tetap saja itu salah. Karena itulah organisasi ini terbentuk untuk menekannya,” jelas Mahanta dan membuat Orion berwajah semakin gelisah.
“Meskipun sudah ada kami atau bahkan Pahlawan Kota, mereka tetap saja mencari celah,” imbuh Mahanta seraya menghela napas pendek.
Keraguannya semakin sirna saat setelah ia mulai berpikir bagaimana cara bertahan hidup di dunia yang sekarang. Kekuatan api yang dimilikinya memanglah sangat berbahaya sehingga sulit dikendalikan, seperti beberapa waktu yang lalu. Namun Orion tidak punya jalan lain selain bernaung di bawah Gista Arutala.
“Lalu Gubernur?” Orion bertanya.
“Dia ada tapi dia takkan melihat keberadaan kita,” jawab Gista.
“Begitu, ya. Sesungguhnya ini sangat tidak masuk akal. Tapi aku tidak terkejut lagi karena semenjak kebangkitanku, aku selalu dihadapkan masalah semacam itu,” ujar Orion dan tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sesaat Mahanta berwajah murung karena berpikir bahwa Orion akan tetap tinggal di luar. Sebelum ia membuka mulut tuk bicara, Orion sudah lebih dulu mengatakan sesuatu sembari menatap wajah Gista.
“Aku terima tawaranmu. Tapi apakah tak masalah anak kecil sepertiku ikut denganmu? Terlebih aku lemah, dan yang tadi itu hanya kebetulan,” sahut Orion dengan tegas.
“Tak masalah kuat atau lemah. Seiring berjalannya waktu kau akan berkembang. Lalu, kau tidak akan terlibat hal yang lebih dari yang kau alami. Hanya sekadar mengintai, apa kau bisa?” tanya Gista.
“Tunggu, Nona! Bukankah dia—”
Sebelum Mahanta memprotes semua perkataan Gista yang dirasa memberatkan Orion, ia seketika bungkam saat melihat Gista mengetuk meja dengan jari telunjuknya.
“Yah, sudah kuduga. Di luar ataupun dalam, pasti resiko tidak main-main. Aku yang paling tidak suka mengambil resiko dan selalu menghindar ini ...apakah hanya ini satu-satunya cara?” pikir Orion dalam benaknya.
Tetapi tidak ada pilihan lain selain dua pilihan yang sudah jelas itu. Dunia luar tanpa perlindungan, atau dunia yang secara langsung bergabung dengan Pejuang NED lainnya itu sendiri.
Di sisi lain, perkataan Gista membuat Orion sedikit mencurigainya. Mungkin Gista mengetahui sesuatu hal tentangnya, entah apa itu.
“Baik, aku akan bergabung dengan kalian.”
“Nantikan esok hari, Orion Sadawira.” Gista tersenyum puas saat mendengarnya.
Mahanta mencuri pandang ke arah Orion lalu ke arah Gista setelahnya. Berpikir bahwa keputusan Gista ada yang salah, karena yang Mahanta tahu kalau Gista selalu melindungi anak-anak di bawah umur tanpa terlibat dengan dunia NED.
Mahanta pun segera undur diri dari ruangan bersama dengan Orion.
“Pakaianmu lusuh sekali. Aku tidak tahu apakah ada pakaian yang pas untukmu tapi untuk sekarang bersihkan dirimu dulu ya,” kata Mahanta dengan wajah girang sambil menggandeng tangan Orion.
“Tidak usah memperlakukan diriku seperti anak kecil!” amuk Orion seraya melepas genggaman tangannya.
Mahanta menjadi beringsut saat mendengar Orion berteriak seperti barusan. Ia pun akhirnya menuntunnya menuju kamar mandi. Betapa terkejutnya Orion saat melihat luas kamar mandi hampir seluas dua kamar miliknya yang sempit dulu.
Bahkan selama perjalanan ke lorong pun sangat panjang. Orion tak lagi heran karena sebelumnya Gista pernah bilang masih ada banyak Pejuang NED yang tinggal di rumahnya ini.
“Entah kenapa seperti menginap ke apartemen atau hotel. Kau yakin ini kamar mandi?” tanya Orion menunjuk ke dalam.
“Cara bicaramu semakin kurang ajar. Ah, tapi ini memang benar kamar mandi. Jangan khawatir apalagi merasa sungkan. Mulai sekarang kau berada dalam lingkup keluarga kami,” tutur Mahanta.
“Hm, baik. Terima kasih,” ucap Orion dengan setengah hati. Ia kemudian masuk ke dalam dan mulai melepas kancing kemejanya.
“Kalau dilihat-lihat, kemeja yang aku sering gunakan ini memang sudah lusuh. Tapi 'kan sudah lewat 20 tahun, wajar saja jadi begini.”
Orion bergumam, menyadari bahwa kemeja yang selama ini ia pakai ternyata sangat lusuh. Kotor, robek dan warnanya juga menjadi kuning. Bau dari kemeja itu pun apek sekali.
“Orion, apa kau lupa cara membersihkan tubuhmu? Jika tak keberatan, boleh aku bantu?” ujar Mahanta seraya mengintip dari celah pintu terbuka.
“Aku tidak perlu bantuanmu, pergi sana!” teriak Orion sambil menutup sekaligus mengunci pintu kamar mandinya.
Orion bisa-bisa berdarah tinggi nanti. Karena setiap waktu ia selalu saja marah-marah. Yah, meskipun tubuhnya anak kecil akan tetapi jiwa tak bisa ditipu. Karena Orion adalah seorang kakek tua renta.
“Dasar bocah aneh,” ketus Orion menyindir Mahanta.
Ia kemudian berjalan masuk ke dalam, sebelum masuk ke dalam bak di sana ia memperhatikan sekitar dan terkadang mengintip dari jendela kecil menggunakan kursi sebagai tumpuan pada kedua kakinya.
Memastikan tak ada lagi orang terutama Mahanta yang bisa saja menyelinap masuk. Kemudian setelah dirasa aman, ia pun masuk ke dalam bak.
“Shower, bak mandi, toilet jongkok, toilet duduk, gayung, sabun batang dan sabun cair. Apakah di sini tempat berjualan? Kenapa lengkap sekali? Aku sampai heran,” gerutu Orion yang sebenarnya sangat nyaman dengan bak mandi itu.
Ia berendam cukup lama di sana sampai rasanya mengantuk. Hingga suatu ketika, seseorang membuka pintu kamar mandi. Datang sambil membawa pakaian untuk Orion.
Duak! Orion terkejut lantas melempar gayung ke arah penyusup itu.
“Pergi sana! Dasar, pasti dia memiliki kunci duplikatnya!”
***
Mahanta kembali ke ruangan Gista berada saat ini dengan plester di dahinya.
“Nona Gista, saya gagal mengambil sedikit darah karena sulit mendekatinya.” Mahanta melapor.
“Tidak masalah.” Gista menggangguk lalu melihat dahi Mahanta yang terluka. “Itu sudah cukup membuktikan.” Kemudian Gista tersenyum tipis.
“Maksud Anda?”
Mahanta bertanya-tanya apa maksud dari mimik wajah serta ucapan Gista barusan. Terlihat tak wajar dan seolah mengetahui sesuatu tentang Orion.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 266 Episodes
Comments
anggita
kota J-Karta.
2022-11-06
1