Bukan kali pertama Orion harus menghadapi orang macam mereka. Namun apa-apaan sekarang? Mereka justru menawarkan sebatang permen untuk menyogok seorang anak kecil agar patuh pada mereka?
Plak! Orion murka karena harga dirinya sebagai kakek tua terluka. Ia memukul tangan salah seorang pria yang barusan menyodorkan sebatang permen sehingga permennya pun jatuh ke tanah.
“Kalian pikir aku mau dibodohi dengan permen susu seperti itu, hah?!” teriak Orion.
Nampak mereka terkejut bukan kepalang saat melihat raut wajah Orion yang marah tak seperti anak kecil pada umumnya. Awalnya terdiam lalu mereka semua berkumpul di hadapan Orion yang kini masih mengamuk.
“Hei, bocah! Kau tidak tahu adab pada orang yang lebih tua darimu, ya?”
“Apa?! Harusnya aku yang bicara begitu! Kalian—”
“Hah, ternyata dia bukan bocah polos. Cepat ikat dan bawa dia ke kandang.”
Terdengar dan terlihat jelas dari wajah mereka yang dingin saat menghadapi Orion yang sekarang. Kini mereka menyudahi akting buruk itu dan akan melakukannya dengan terang-terangan.
“Jangan berpikir kalian dapat menangkapku!” teriak Orion keras kepala. Tapi tidak ada rencana sehingga ia pun berlari menjauhi mereka dari arah sebaliknya.
“Mau ke mana kau bocah?”
Tapi yang namanya langkah anak kecil, hampir tak sebanding dengan orang dewasa, apalagi dengan jarak dekat seperti itu, Orion akan mudah ditangkap oleh mereka.
Salah satu dari mereka menarik lengannya, sontak Orion kaget. Ia menoleh ke belakang dan tanpa sadar pukulannya melayang ke wajah pria tersebut, lunglai dan melangkah mundur.
“Ukh!” Ia meringis kesakitan.
Sekilas, api membara terlihat di kepalan tinju Orion dengan jelas. Akibat ia meninju wajah seorang pria itu hingga membekas gosong kehitaman di sana. Beberapa gigi yang dimilikinya pun rontok lalu tubuhnya ambruk. Ia pula mengeluarkan darah dari mulut.
Pemandangan ini dalam sekejap menjadikan situasi menghening kembali. Yang lain pun kembali menatap Orion dengan tatapan tajam.
“A-aku tidak sengaja!” teriak Orion sesaat setelah menelan ludah. Ia pun kembali berlari sekencang-kencangnya.
“Hei, kemari kau!”
Mereka histeris sekali, sudah begitu di jalan besar seperti ini sulit untuk menemukan jalan lain untuk bersembunyi. Apalagi di perkotaan begini yang paling banyak adalah jalan raya besar. Sulit tuk mengecoh mereka, Orion mempasrahkan diri terus berlari sampai keringat bercucuran dengan deras.
“Hah ...hah ...ya, ampun! Mereka benar-benar tak ada lelahnya ...hah, atau mungkin karena aku yang melemah ...”
Sudah cukup lama ia berlari saat ini. Ia terengah-engah dengan banyak keringat membasahi pakaiannya. Takdir yang ia lalui sekarang sungguh berat, terutama untuk tubuh seorang anak kecil ini. Bahkan untuk kabur saja sulit.
“Uh, aku merasa gesit sesaat tapi staminaku cukup payah. Apa karena aku sudah tua, ya?” pikir Orion seraya mengepalkan tangan kanannya.
Geram atas musibah yang menimpanya. Tatkala ia berpikir bahwa inilah kutukan yang tak terhindarkan. Baik yang dulu maupun sekarang juga tidak ada bedanya.
Detik-detik sebelum mereka sampai ke posisi Orion saat ini, ia teringat bahwa pukulannya barusan mengeluarkan api. Dan sekarang, saat ia mengepalkan tangan dengan kuat, kekuatan itu muncul lagi.
Bermula dengan sepercik api lalu berubah menjadi api yang cukup besar hingga menutupi kepalan tangan itu. Warna kejingganggan yang membara, terasa panas menyengat luar biasa.
“Ini hebat sekali!” teriak Orion berdecak kagum melihatnya.
“Apanya yang hebat, hah?!”
Kekagumannya lenyap dalam sekejap ketika salah satu dari mereka berhasil mengejar dan kini mencekik leher Orion. Saat itu jalan perkotaan dalam perumahan cukup sepi sehingga tak banyak orang yang tahu kejadian ini.
“Urgh ...le-lepaskan! Ukh!” Orion meronta-ronta kesakitan. Ototnya menegang dan busa putih keluar dari mulutnya. Tangan yang kini masih terselimuti oleh api pun tak kian memadam namun justru semakin membesar.
“Bocah tak tahu diuntung. Padahal kami berbaik hati dengan membawamu tanpa melukaimu sedikitpun. Tapi karena kau sudah memberontak, maka tak ada cara lain. Andai kau tidak bertindak gegabah,” ujarnya dan mempererat cekikan Orion.
Rasanya tulang leher Orion akan patah. Mungkin ia akan mati kali ini namun, tubuhnya selalu bereaksi yang tidak wajar. Instingnya bergerak di saat otak tak mampu berpikir.
Tetap meronta dan mengerang kesakitan, Orion berusaha untuk meraih tangan yang mencekik lehernya saat ini. Dengan tangan yang berbalut api membara itu.
“Hei, hati-hati pada anak itu!” Salah seorang lainnya memperingatkan, sebab ia tahu dan melihat kekuatan Orion yang keluar.
Setelah Orion menyentuh tangan pria tersebut, seketika api menjalar serta membakar lengan hingga ke tubuhnya dengan cepat. Seolah minyak tertuang di sana, Orion ikut terkejut saat menyaksikannya langsung.
Ia pun melepas cekikannya, Orion tersungkur dan melihat pria itu mengeliat kesakitan dengan tubuh yang terbakar hidup-hidup.
“Dasar monster!” kecam pria lainnya. Menatap tak percaya dan jijik pada Orion.
“Bukankah semua Pejuang NED sama saja!” sahut Orion dengan suara meninggi.
Karena kesal dan tak tahu harus apa sekarang, ia pun kembali berlari ke arah sebelumnya pergi. Sekujur tubuhnya gemetar ketakutan. Ia benar-benar takut jika karena kekuatan ini akan menjadikan Orion sebagai kriminal. Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca, perlahan air mata mengalir keluar membasahi wajah seraya ia menggigit bibir bawahnya sampai terluka dan berdarah.
Brak! Dan tanpa sadar juga, ia masuk ke rumah super besar itu lagi. Membanting salah satu pintu ruangan dan membuat kaget orang yang di dalamnya.
Sesaat ia terdiam mematung, lalu terduduk di lantai dengan kaki lemas. Kemudian terbatuk-batuk di hadapan mereka.
Tak lain adalah Gista dan Mahanta di dalam sana. Mereka tercengang dengan kedatangan Orion tiba-tiba.
“Dunia luar tidak seindah yang dulu kau bayangkan, 'kan?” celetuk Mahanta menghela napas pendek.
“Selamat datang kembali, Orion Sadawira.” Gista menyapa seraya menganggukkan kepala.
Dengan tubuh gemetar, Orion masih belum bisa menjawab apa-apa. Ia hanya sekadar duduk dan menundukkan kepala dalam-dalam. Enggan melihat wajah mereka berdua.
“Kenapa langkahku menuju kemari, sih?”
Bahkan Orion sendiri masih tak mengerti situasi. Karena insting membuat Orion datang kemari, seakan-akan ini adalah keputusan yang tepat untuknya bernaung.
Mahanta menghampirinya lantas mengangkat tubuh Orion dan membawanya duduk ke sebuah kursi pendek. Perlahan napasnya kembali teratur sedemikian rupa. Melihat tangan Orion yang terbakar, tampak ia mengerti situasi yang terjadi di luar padanya.
“Kau pasti barusan berkelahi. Mengingat kau tak dapat mengendalikan kekuatanmu, orang itu pasti akan mati,” tutur Mahanta berwajah serius.
Melirik ke arah Gista lalu kembali memandang wajah Orion dan berkata, “Tapi, tenanglah. Salah satu dari kami sudah mengurusnya, dan dia aman. Jadi tak usah merasa terbebani.”
“Mulai hari ini, kau mungkin akan terlibat hal yang lebih berbahaya selama kau ikut denganku. Apa kau bersedia, Orion? Dunia yang sekarang sudah jauh berbeda dari tahun-tahun yang lalu,” sambung Gista menjelaskan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 266 Episodes
Comments