Mahanta jadi enggan bicara, ia akhirnya keluar dari ruangan lalu disusul oleh Orion. Meninggalkan Gista seorang diri dengan Endy di sana.
“Hei, Orion. Apa kau tahu apa yang terjadi saat aku tidak ada?” tanya Mahanta.
“Tidak. Hanya saja Endy telah mengakui semuanya. Maksudku Pak Endy ...”
“Mengakuinya semudah itu? Tak kusangka.”
Orion pun mendahului langkah Mahanta. Ia menuju ke kamarnya seraya menatap telapak tangan. Ia masih merasakan sensasi hangat dari api itu, tapi tidak bisa dikeluarkan begitu saja. Terlalu sulit.
Terbesit dalam benak Orion, bahwa ia harus meningkatkan kekuatannya agar ia tak menjadi penghambat dalam Grup Arutala.
“Kau khawatir sesuatu yang berkaitan dengan kekuatanmu?” tanya Mahanta, lantas menghampiri Orion.
“Tentu saja. Aku jadi khawatir aku tak bisa mandiri jika terus dilindungi. Makanya kupikir, melatih kekuatanku yang tidak stabil?”
“Jangan terlalu dipikir keras. Aku sendiri cukup heran padamu ataupun pada Nona Gista, dia merekrutmu untuk bekerja tapi di sisi lain juga menyekolahkanmu,” ujar Mahanta.
“Soal itu aku khawatir kalau dia tahu aku siapa.” Orion membatin.
Selang beberapa saat ia membuka telapak tangannya, api kecil keluar dari sana. Seperti menyalakan lilin kecil, apinya sedikit goyah begitu angin sepoi-sepoi berhembus.
Orion terlihat senang melihat api itu keluar dari telapak tangannya.
“Wah, aku yakin kau bisa mengendalikan kekuatanmu, Orion. Aku ingin mengajarimu sesuatu, setidaknya agar kau bisa melindungi diri sendiri,” tutur Mahanta.
***
Di gedung sebelah, ruangan yang sering digunakan untuk latihan. Cukup besar dan luas untuk mereka.
Mahanta mencoba untuk mengajarinya kemampuan dasar.
“Sebelumnya kau bisa mengeluarkan kekuatan itu. Kebanyakan tanpa kau sadari, benar?” ujar Mahanta memastikan.
“Iya, benar. Kira-kira penyebabnya apa?” Orion bertanya dengan sangat penasaran.
“Bukan karena disebabkan. Melainkan kau melakukannya secara insting. Pertama, rasakan darah yang mengalir dari pembuluh darahmu. Dan coba arahkan menuju ke lengan atau telapak tangan.”
Perlahan angin muncul dari telapak tangan Mahanta. Berputar kecil dengan pelan, seiring berjalannya waktu angin itu semakin berputar dengan kencang. Jika benar-benar tidak dilihat, maka angin itu hanya dapat dirasakan tanpa bisa dilihat begitu saja.
“Kau lihat ini? Aku membuatnya bergerak persis seperti angin yang ada di sini.”
“Melalui peredaran darah? Itu sedikit rumit, tapi akan kucoba.”
Awalnya ia tak merasakan apa-apa karena sulit mengetahui ada di mana aliran yang paling ia rasakan. Mahanta pun kembali berkata bahwa merasakannya itu tidak butuh waktu untuk berpikir melainkan secara alami.
“Sama seperti saat kau sedang minum beberapa teguk. Kau akan merasakan air itu mengalir dalam kerongkonganmu, 'kan? Itulah yang aku maksud merasakan secara alami, bukan dengan berpikir.”
Orion menggangguk. “Baiklah. Aku akan mencobanya lagi.”
Sama seperti merasakan air masuk ke dalam tubuh. Ia pula merasakan aliran darah yang tak terhitung banyaknya mereka, mengalir ke sebagian tubuh hingga memompa jantung. Rasanya seperti merasakan nyawa yang kembali dihidupkan.
“Setelah kau dapat merasakan aliran darah itu, cobalah untuk memikirkan suatu eksitensi keluar dari tubuhmu. Kalau kau bisa, pusatkan itu ke telapak tangan,” kata Mahanta sambil menunjuk telapak tangan Orion.
Orion yang berhasil merasakannya dengan memejamkan mata, ia pun mulai merasakan suatu sensasi yang hangat. Kehangatan itu berubah menjadi panas, sebuah bola api yang bentuknya kecil itu keluar dari telapak tangan.
“Lihat, kau berhasil! Orion!”
“Wah, apa semua orang juga selalu merasakan proses seperti ini?”
“Ada yang seperti itu tapi juga ada yang tidak. Tentu saja, Pejuang NED yang tidak melewati tahap proses seperti ini adalah orang yang memiliki bakat,” jelas Mahanta.
Orion benar-benar telah menguasainya dalam beberapa menit. Api yang semula kecil kian membesar seiring berjalannya waktu. Kehangatan sesaat pun berubah menjadi hawa panas dan membuat wajah Orion berkeringat.
“Ingatlah momen ini agar kau terbiasa dengan bawaan kekuatanmu, Orion. Tetapi ini masih belum cukup untuk mempertahankan diri dari serangan musuh,” tutur Mahanta.
Orion semakin memusatkan kekuatannya itu, membentuk sebesar dan sepadat mungkin agar daya serang dan daya tahan dapat mengimbangi. Namun karena terlalu berfokus pada hal itu, kekuatannya lenyap dalam sekejap.
“Aku bilang jangan terburu-buru untuk membentuk kekuatannya. Nah, sekarang cobalah menyerangku dengan kekuatan yang bisa kau gunakan.”
Mahanta menyuruh Orion untuk menyerangnya. Sebelum itu, Mahanta menjaga jarak jauh dari posisi Orion saat ini.
“Lawan aku, Orion!” teriak Mahanta, seraya ia mengeluarkan angin yang begitu kencang dan besar di sekitarnya. Ia mengarahkan angin besar itu langsung menuju ke tempat Orion.
Orion tersentak saat melihat kekuatan yang begitu besar. Bahkan berkali-kali lipat dari kekuatan yang bisa ia keluarkan sekarang. Namun ia selamat berkat insting yang ada pada tubuhnya, menghindar dengan langkah cepat. Kegesitan Orion mampu menghindar serangan angin dari Mahanta.
Mahanta takkan berdiam diri dengan sengaja membuat pertahannya melemah. Ia melebarkan jangkauan serang dan terus menyerang Orion yang berlarian ke sana kemari.
Drap! Drap!
Langkahnya tak lagi cepat seperti saat ia pertama kali berlari dalam ruangan sebelumnya. Terlihat ia terengah-engah, Mahanta melihatnya dan sengaja memusatkan serangan tepat di dekat Orion.
Swoooshh!
Angin menerpanya begitu kuat, kencang hingga Orion terdorong mundur.
“Hah ...hah ...hah ...anginnya kuat sekali,” celetuk Orion dalam napas beratnya.
“Stamina yang kau miliki cukup buruk, Orion. Apa kau tak pernah berolahraga?” sindir Mahanta setelah ia mendekat padanya.
“Hah, memangnya kenapa?” ketus Orion. Dalam benaknya ia berpikir, “Aku 'kan pekerja kantoran. Mana mungkin aku sempat berolahraga. Apalagi aku selalu lembur karena atasan.”
“Terserah deh. Nih, sekarang aku berdiri tepat di depanmu. Serang aku sekuat tenaga, aku takkan melawan atau menyerang sedikitpun,” kata Mahanta.
“Baguslah!” pekik Orion dengan kesal. Ia memusatkan seluruh kekuatannya dalam kepalan tinju, seketika api berputar dan membara begitu besar.
Buakk!! Dengan itu, Orion meninju bagian perut Mahanta dengan keras. Sontak, kedua kaki Mahanta sedikit terseret mundur.
“Ah, apinya hilang lagi?”
“Hm, serang aku lagi!” kata Mahanta dengan semangat. Lalu ia mengambil beberapa langkah mundur.
“Jangan hanya gunakan sesukamu. Tapi perhatikan dengan baik. Rasakan lalu pikirkan dan pusatkan,” sambung Mahanta.
Orion kembali mempraktekkan apa yang barusan ia pelajari. Dengan tinju api, memusatkan kekuatan pada titik yang sama. Mahanta kembali mengeluarkan angin yang cukup besar berada di antara mereka berdua.
Orion berjinjit lantas melompat ke depan, seminimal mungkin ia takkan lagi menghabiskan tenaga dan napas sia-sia. Api berputar dalam kepalan tinjunya, dan menembus pertahanan angin.
Pak! Tapi Mahanta dengan mudah menangkap tinju Orion. Apinya pun menghilang tanpa jejak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 266 Episodes
Comments