“Jangan terlalu merasa kecewa, Orion.”
Gista tiba-tiba datang dan membuat keduanya terkejut. Mereka pun membelalakkan kedua mata tertuju pada pintu.
Kedatangan Gista membuat Orion dan Mahanta terkejut. Tidak biasanya Gista datang ke gedung sebelah lantaran ia selalu disibukkan sejumlah masalah di kota J-Karta ini.
“Anda datang kemari, apakah Nona Gista memerlukan sesuatu?” tanya Mahanta dengan wajah gelisah. Mahanta teringat dengan raut wajah Gista yang sebelumnya terlihat kesal dan marah.
“Aku datang untuk menemui Orion. Karena aku tidak pernah mengajarkannya sesuatu, kau menggantikannya, ya?” ujar Gista pada Mahanta.
“Iya, Nona Gista! Saya khawatir kalau hal buruk akan menimpanya jika tidak segera ditempa kekuatan api milik Orion,” jawab Mahanta dengan suara tegas.
“Tidak masalah. Aku justru senang. Untuk urusan Endy, dia akan sementara berada di kurungan bawah tanah. Berkatmu juga Orion, kerja bagus,” ucap Gista sembari menyunggingkan senyum.
“Aku tidak melakukan apa-apa. Adiknya Mahanta yang melakukannya,” kata Orion sambil menunjuk Mahanta.
Gista hanya terdiam dengan senyumnya. Lalu menganggukkan kepala, kemudian meraih kedua tangan Orion. Tangan Orion terasa panas, Gista tidak menyangka kalau kekuatannya juga mempengaruhi suhu tubuh Orion.
“Lain kali berhati-hatilah saat menggunakannya. Ini cukup besar dengan perbedaan dari kekuatan yang kamu keluarkan,” tutur Gista.
“Apa saya salah mengajarinya?” tanya Mahanta.
“Tidak juga. Tapi kurang efektif. Dia ini 'kan anak kecil, harusnya perlakukan dia lebih lembut. Tapi tak masalah jika sesekali diperlakukan lebih keras, sebab jika tidak begitu, ke depannya dia akan kesulitan menjaga diri,” pikir Gista.
Ia kemudian menengadah, melihat langit-langit ruangan yang tertutup rapat.
“Aku juga ingin mengajarkanmu tentang teknik memperluas jangkauan serang.”
“Eh? Tapi Nona Gista? Dia pasti akan kesulitan ...” Mahanta memprotes.
“Jangan bilang sulit kalau belum dicoba. Sekarang, aku ingin kamu kembali mempraktekkan apa yang sebelumnya kamu pelajari pada Mahanta,” pinta Gista kepada Orion seorang.
Tampak Mahanta tengah di ambang kecemasan. Ia bingung mengapa Gista selalu memperhatikan anak ini dan bahkan selalu mempercayainya setiap saat. Seolah-olah mengenalnya sejak dulu.
Mahanta masih khawatir, karena sebelum ini Orion masih belum cukup mampu untuk mengendalikan kekuatannya sendiri. Tapi Gista mencoba untuk mengajarinya teknik memperluas jangkauan serang. Yang di mana teknik kekuatan ini digunakan untuk membentengi diri sekaligus memblokir serangan lawan.
“Lakukanlah terus-menerus sampai kekuatanmu menyebar ke seluruh tubuh. Tidak hanya ke peredaran darah tapi juga alirkan ke seluruh organ dalam tubuhmu. Sampai kau merasa lelah, baru kamu boleh berhenti.”
Gista benar-benar tak main-main. Orion pun melakukannya dengan alami dan tenang. Padahal Gista hanya mengucapkan kata yang sama seperti Mahanta tapi perbedaannya dapat dirasakan.
“Sepertinya Anda berbakat mengajari seseorang. Kenapa saya baru tahu hal ini?” Mahanta jadi penasaran.
“Memangnya siapa yang pernah mengajarimu teknik ini sebelumnya? Apa kau lupa, Mahanta?” ujar Gista yang tidak percaya kalau Mahanta melupakannya.
“Maafkan saya. Saya benar-benar lupa,” ucap Mahanta sambil mengalihkan wajahnya.
“Kau bahkan lupa untuk menjemput Orion. Padahal masih muda tapi sudah pikun, heh,” sindir Gista seraya menghela napas.
Orion telah melakukannya selama 1-2 jam berlalu tanpa berhenti sedikitpun. Hawa di sekitar tubuhnya pun terasa berbeda, sedikit lebih panas dari suhu udara yang sebenarnya.
“Ngomong-ngomong Mahanta. Keadaan Raka, adikmu bagaimana? Apakah dia tidak apa-apa? Aku tadi sempat menuju kamarnya tapi dia tidak ada.” Gista bertanya.
“Tidak apa-apa, Nona Gista. Anda tak perlu khawatirkan masalah adik saya. Raka akan cepat pulih, beruntung dia tidak melawan Pejuang NED yang satu tingkat lebih darinya,” ucap Mahanta.
“Begitu.”
Sudah hampir 3 jam Orion tetap berdiri menstabilkan kekuatan itu. Ia pun akhirnya berhenti karena kelelahan, ia terengah-engah dan rasanya kedua kakinya melemas.
Bruk! Tanpa sadar, ia pun terduduk di lantai.
“Kau tak apa, Orion?” tanya Mahanta.
“Hah, iya? Iya. Aku tak apa. Tapi entah kenapa ini terasa lebih baik dari sebelumnya,” ucapnya dengan wajah senang. Orion tampak puas.
Gista pun ikut senang mendengarnya kalau Orion mampu mengendalikannya dari dalam selama beberapa jam.
“Jika kamu selalu melakukan hal ini setiap hari, maka kekuatanmu akan lebih stabil dari sebelumnya. Tubuhmu akan mengingat semua proses itu dan stamina yang kau miliki juga akan semakin meningkat,” tutur Gista.
Suhu udara tetap sama seperti beberapa jam yang lalu. Gista yang tetap berdiam diri di dekat Orion, tiba-tiba saja mengeluarkan es. Semula berbentuk kecil dari ujung sepatu hak yang ia pakai kemudian menyebar luas ke seluruh ruangan. Tak hanya di bawah, bahkan kekuatannya menyebar hingga ke dinding.
“Ini adalah teknik memperluas jangkauan serang.”
Kedua kaki Orion dan Mahanta pun terjebak dalam es. Mereka tidak bisa bergerak untuk sementara waktu. Ini memperlihatkan cara bagaimana teknik ini dapat memblokir serangan atau lawan itu sendiri. Di sisi lain, suhu udara yang begitu dingin menyeruak keluar tak tertahankan. Bahkan mengalahkan suhu udara yang panas. Asap dingin terlihat begitu jelas, tubuh Orion dan Mahanta seketika menggigil kedinginan.
“Apakah ini cukup jelas, dimengerti olehmu Orion?” tanya Gista.
Karena Orion duduk di lantai dalam kondisi terjebak karena es, ia pun tetap berdiam diri sementara.
Lalu menjawabnya, “Aku sangat mengerti. Karena wujud es bisa dilihat secara langsung. Memblokir sekaligus membentengi diri dapat dilakukan secara bersamaan. Aku semakin tertarik untuk mencobanya.”
“Ternyata Orion lebih suka mempertahankan diri daripada langsung menyerang, ya?” celetuk Gista.
Orion menggangguk dengan semangat.
“Entah kenapa terlihat seperti aku berada di istana kalau melihat es seperti ini,” gumam Orion sambil memandangi ke sekeliling.
Warna yang cerah dan indah. Orion berdecak kagum atas seni yang dibuat oleh Gista.
Mahanta mengayunkan tangan ke bawah dan hembusan angin kecil dapat dengan mudah menghancurkan batu es yang sebelumnya menjebak kakinya. Lalu ia bertanya, “Kau sangat menyukainya?”
“Es ini warnanya indah. Berbeda dengan kehidupanku sebelumnya,” celetuk Orion tanpa sadar.
Seketika Mahanta dan Gista terdiam. Mengerti tentang perkataan yang barusan Orion lontarkan, adalah sebagian dari masalahnya.
Langit-langit ruangan mulai terbuka dan menunjukkan betapa cerahnya hari ini. Sorot matahari menyengat sangat panas hingga membuat lapisan es itu mencair lebih cepat.
Sebelum benar-benar mencair, Orion tengah mencoba untuk memusatkan kekuatannya pada kedua kaki. Api melelehkan batu es lebih cepat sehingga kaki Orion pun bebas.
“Ini sempurna. Aku sudah benar-benar mengendalikannya,” ucap Orion memuji dirinya sendiri.
Orion lantas bangkit. Kedua kakinya yang sudah bertelanjang kaki sejak pulang sekolah pun mengubah cairan es menjadi uap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 266 Episodes
Comments