Sepertinya Orion seringkali tak sadarkan diri. Kali ini pun ia terbangun dalam kondisi tak biasa. Tubuhnya terikat dalam posisi duduk di kursi menghadap Gista yang tengah berpangku tangan serta Mahanta yang berdiri di samping sambil melambaikan tangan ke arahnya.
“Karena sudah bangun. Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Kapan dan kenapa kau mati? Lalu pelakunya siapa?”
Sadar-sadar sudah diberikan pertanyaan yang enggan Orion jawab. Saat itu Orion telah sepenuhnya sadar, ia hanya menatap mereka berdua dengan tatapan penuh curiga. Lalu melirik ke sembarang arah.
“Apa dia bisu?” pikir Gista.
“Harusnya sih tidak. Karena saat anak ini terkurung di ruang bawah tanah, dia masih sempat berteriak dan juga ...uhuk! Mengumpat,” jawab Mahanta dengan batuk disengaja.
Orion masih menghindar dari pandangan mereka berdua. Bahkan rasanya enggan sekali membuka mulut sekarang. Karena tahu, jika salah ucap sedikit pasti akan membahayakan nyawanya.
“Untuk saat ini aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku. Dan fakta kenapa tubuhku selalu memprioritaskan untuk bertahan diri, ini masih belum jelas pastinya. Entah karena darah yang diincar oleh Pejuang NED atau karena suatu sindrom NED itu sendiri.” Orion membatin dengan raut wajah gelisah.
“Bisa beritahu siapa namamu?” Gista kembali bertanya.
“Tenang saja. Aku takkan menyakitimu ataupun keluargamu. Aku hanya berniat untuk membantumu tapi sebelumnya aku harus tahu alasan kau mati dan itu kapan terjadi,” jelas Gista merundingkan.
“Apa yang kalian inginkan? Sepertinya Pejuang NED memang selalu bersikap kasar begini, ya.” Orion mendengus tanpa menatap wajah mereka.
“Maaf, bukan maksudku begitu. Hanya saja kekuatanmu masih belum stabil, di kota ini ada aku yang menguasainya dari balik layar. Banyak orang seperti kita di sini, kami melindunginya.”
“Jika aku adalah orang seperti mereka yang telah menyerangmu, maka sudah pasti kau akan menjadi tulang-belulang di ruang bawah tanah,” imbuh Gista mengingatkan Orion akan sel penjara yang pernah dilihatnya.
Barulah seperti itu, Orion mengalihkan pandangan ke arah mereka. Melihat dan akan mengingat wajah mereka berdua dengan baik sampai keningnya berkerut.
“Orion Sadawira. Aku tak mau menjelaskan kenapa, kapan dan siapa yang membuatku mati. Tapi yang jelas, aku lebih menyukai kematian daripada kehidupan.” Orion memperkenalkan diri.
Ia adalah pria tanpa ambisi, umurnya yang sudah tua juga tersembunyi dalam tubuh seorang anak kecil. Meski sulit dipercaya, bahkan bangkit kembali setelah mati pun hal yang tak ada bedanya.
Tubuhnya yang bergerak sesuai insting untuk bertahan hidup di luar, pula masih misterius. Akan tetapi Orion menduga-duga bahwa itu disebabkan karena darah yang disebut darah penghubung jiwa raga (membangkitkan jiwa yang telah mati). Membuat Orion terus hidup padahal dalam benaknya ia ingin sekali mati kembali.
“Hm, itu cukup lucu untuk didengar oleh anak berpakaian kemeja lusuh.” Gista bergumam.
“Anda ketus juga kalau bicara pada anak kecil. Jangan begitu, anak kecil itu 'kan butuh kasih sayang. Mungkin saja di kehidupan yang dulu dia sangat menderita, kekerasan pada keluarga itu menjadi cukup umum khususnya di tahun-tahun ini,” celoteh Mahanta, si pria kekar sambil memeluk tubuh Orion dengan penuh kelembutan.
“Ya, benar. Aku sangat menderita sampai rasanya ingin mati lagi,” sahut Orion dengan wajah yang semakin kusut. Terlihat ia marah ketika dirinya dipeluk oleh pemuda kekar satu ini.
“Wah, kata-katanya terdengar dewasa sekali, ya?” pikir Mahanta merasa heran. Ia pun melepaskan pelukannya lalu memandangi tubuh Orion dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Oh, sepertinya aku mengerti kenapa Anda bilang bahwa dia cukup lucu dengan pakaian kemeja lusuh,” celetuk Mahanta dan kembali mengamati setiap inci tubuh Orion dengan posisi duduk berjongkok.
“Ini pasti karena gaya bicara serta gaya pakaiannya yang tidak seperti anak kecil! Hahaha!” duga Mahanta lalu cekikikan.
Seketika Orion merasa tertohok. Tentu saja itu karena Orion adalah pria yang lebih tua daripada mereka. Tapi ia tetap diam dengan menahan perasaan kesal.
“Apa kau yakin, Orion? Kau telah hidup kembali dan sekarang ingin mati lagi? Aku cukup tahu kalau setiap orang pasti punya masalah di masa lalunya. Tidakkah kau ingin membalas mereka yang telah memperlakukanmu begitu buruk? Atau mungkin menebus dosa?” ujar Gista.
“Kalau Anda berkata begitu memangnya dia akan mengerti? Menebus dosa atau apalah itu, dia 'kan masih anak kecil yang masuk sekolah dasar,” sahut Mahanta. Berpikir bahwa apa yang dipikirkan Gista terlalu jauh untuk seorang anak kecil.
“Tidak. Aku serius. Aku bahkan berniat menyekolahkan dia, merawat dan hal-hal lain yang bisa aku lakukan untuknya,” kata Gista dengan cukup yakin.
“Wanita ini aneh. Dan entah kenapa aku merasa khawatir kalau bicara terlalu banyak di depannya. Apakah dia tahu sesuatu tentangku? Tidak mungkin.” Orion membatin seraya menggelengkan kepala.
“Memangnya ada orang menawari bantuan tanpa imbalan sedikitpun? Kau pasti bercanda, ya. Aku yakin kau menginginkan sesuatu dariku?” duga Orion dengan wajah menantang.
Mahanta yang kaget karena perubahan ekspresi anak kecil tersebut pun berbisik pada Gista.
“Apa Anda yakin memasukkan anak kecil seperti ini?” tanya Mahanta dengan berbisik.
“Kau tidak lihat cara bicaranya tadi. Dia anak pintar,” kata Gista sambil tersenyum tipis.
Seketika suasana di sana menjadi hening sesaat. Melihat Gista yang tersenyum entah kenapa mereka menjadi diam seolah-olah ini kali pertama Gista tersenyum.
Gista bangkit dari tempat duduknya lantas menghampiri Orion yang masih terikat. Ia melepas tali yang mengikat tubuhnya, lalu kembali memandang wajah Orion dengan posisi duduk berjongkok.
“Orion, aku akan sangat senang kalau mau ikut denganku. Tentu saja sebagai gantinya, aku akan merawatmu sampai dewasa dan membuatmu selalu hidup bahagia,” ucap Gista.
Orion terdiam dengan wajah berkeringat dingin. Ia merasa bahwa ini pilihan terbaik namun akan tetapi perasaannya tidak enak terutama pada Gista. Wanita ini pernah mengalahkannya dalam sekali serang, sudah pasti berbahaya. Jika ia tahu bahwa Orion memiliki sesuatu dari darah yang telah ia duga itu adalah darah penghubung jiwa raga, pasti ia akan dimanfaatkan.
“Aku bahkan tidak tahu, apakah sebelumnya aku benar-benar tertusuk oleh pedangnya atau tidak. Ini sedikit menjengkelkan, aku harus kabur.” Orion kembali membatin.
“Tidak mau!” teriak Orion lantas berlari pergi.
Sebisa mungkin ia menjauh dari tempat ini. Di mana pun ada pintu, akan selalu Orion terobos hingga menuju ke luar rumah super besar tersebut.
Hati nurani Orion seolah berkata, "Lebih baik pergi sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk."
Tapi takdir berkata lain. Berniat pergi tuk menjauhi nasib sial, namun saat keluar dari rumah Orion justru bertemu dengan 5 Pejuang NED yang wajahnya tak bersahabat.
“Ini 'kan bocah yang barusan bangkit?”
Mereka semua nampak berbeda dengan pria yang sebelum ini mengejar Orion.
“Dik, mau permen nggak? Kalau mau ayo ikut paman.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 266 Episodes
Comments
anggita
mampir ng👍like ae..
2022-11-06
1