Bagi para Pejuang NED, sebatas kapan, kenapa, di mana orang itu mati dan juga siapa yang membuatnya begitu adalah informasi yang sangat penting. Dengan begitu, setiap Pejuang NED akan lebih mudah mengoreksi siapa orang yang telah bangkit ini sebelumnya. Identitas rahasia pun akan terbongkar semudah membalik telapak tangan atau selembar kertas dalam buku.
Meskipun Orion tidak mengerti akan hal ini. Namun sejak awal pun ia berniat untuk menyembunyikannya karena kehidupannya di masa lampau lalu fakta mengenai tubuhnya menyusut masihlah misteri.
Hal itu juga beresiko jika suatu saat identitas Orion diketahui terutama oleh seseorang yang membunuhnya di masa lampau.
Begitu juga dengan darah yang mengalir dalam tubuh Orion, dikatakan darah itu membuatnya memiliki insting tuk menjauh dari mara bahaya. Dan itu disebabkan karena darah penghubung jiwa dan raga. Darah yang sangat berharga, yang akan diperjualbelikan hingga diperas sampai habis.
Kini, Orion berhadapan dengan tiga pria yang berada di bawah naungan Grup Dharmawangsa. Orion telah merasakan mara bahaya saat ini saat setelah menolak untuk menjawab pertanyaan mereka yang berkaitan dengan kematiannya.
“BERHENTI KAU!!!”
Ketiga pria itu berlari mengejar Orion yang tengah melarikan diri dari mereka. Orion bisa saja membuat mereka tak sadarkan diri namun kekuatannya membawa resiko besar dan ia juga tak tahu apa kekuatan mereka bertiga. Kalau bertindak gegabah pasti akan membuatnya mati kembali.
“Gawat, gawat, gawat! Aku harus cepat keluar dari lantai ini. Aku akan menggiring mereka ke keramaian!” pikir Orion di tengah pelariannya.
“K*P*R*T! S*AL! BOCAH D*NG*U! KEMARI KAU!” teriak mereka bersamaan seraya tetap berlari mengejarnya.
Suara teriakan mereka pun dapat didengar oleh banyak penghuni kamar hotel. Tak hanya itu, bahkan Gista dan ketua lainnya pun ikut mendengarkan sebab mereka bertiga berlarian di lorong dekat ruangan pertemuan.
Sontak terkejut, Gista bangkit dari tempat duduk dan membuka pintu untuk melihat situasi di luar.
“Argh! Apa mereka mengacau!? Anak-anak itu!” amuk Ketua Grup Dharmawangsa. Raut wajahnya berubah total dari semula tenang menjadi beringas. Lantas pergi.
“Kami akan pamit sebentar. Karena sepertinya ada masalah serius di luar,” ucap Gista berpamitan pergi.
Ketua lainnya hanya terdiam lantas perbincangan antar mereka dihentikan begitu saja saat setelah suara anak-anak yang tidak sesuai pada tempatnya.
Orion memutuskan untuk menaiki lift menuju ke lantai paling dasar, dan untuk sementara ia lolos dari maut kembar tiga. Tak menyangka di hotel mewah yang dipenuhi orang-orang berduit pun, Orion tetap bernasib buruk.
“Huh, bukankah mereka sudah dewasa. Perawakan mereka juga besar, apa tidak malu kalau berkata kasar begitu? Nanti hotelnya ternodai,” keluh Orion, penyuka hal glamor tapi tidak pernah memilikinya secara permanen.
Tentu saja karena mereka, Orion pula menjadi pusat perhatian. Setelah pintu lift kembali terbuka, tak menyangka kembar tiga itu datang dari arah barat, di mana tangga itu berada.
“Kenapa mereka cepat sekali?!” pekik Orion histeris.
Ia pun berlari dengan kecepatan penuh menuju lobby, berniat ia keluar dari tempat ini namun nasibnya yang buruk kembali menghadang, salah satu kakinya tersandung sesuatu benda.
Bruk! Ia pun jatuh tersungkur ke depan. Menahan malu dan rasa sakit, ia pasrah dengan posisi tengkurap.
Di sisi lain, Rumah Arutala. Mahanta tengah terburu-buru mengenakan kemeja hitam seraya menerima panggilan dari ponselnya.
Tertulis nama kontak Raka, adiknya menghubungi.
“Jangan biarkan satu pun orang menyentuh Orion! Satu pun!” amuk Mahanta bersuara keras.
Mahanta ikut histeris karena mendapat laporan dari adiknya yang memata-matai gedung hotel itu, mendengar bahwa Orion terkena masalah, Mahanta pun segera menuju ke sana dengan panik dan khawatir berlebih.
***
Drap! Drap!!
“Akhirnya terkejar juga. Bocah s*alan ini. Benar-benar ...”
Karena Orion terjatuh, mereka bertiga dapat menyusulnya. Tak ia sangka Orion harus tetap berada dalam posisi seperti itu, setelah beberapa saat, salah satu dari mereka mengangkat tubuh Orion yang ringan.
Berkata dengan nada sombong, “Heh! Kena kau sekarang!”
“Kalian tidak lihat ini di mana? Kalian juga tak berniat untuk mengeluarkan kekuatan itu di sini, 'kan? Bisakah kalian lepaskan aku sekarang. Kalau Nona Arutala tahu—”
“Nona Arutala bukanlah penghambat bagiku. Meski dia adalah Ketua Grup Arutala nomor 1. Itu tidak mengubah fakta bahwa wanita akan selalu berada di bawah laki-laki,” celetuknya dengan bangga.
“Tapi bukan berarti kalian bisa bersikap semena-mena begini. Apa tidak akan dihukum oleh Ketua kalian jika masalah ini terus berlarut?” ujar Orion.
“Hei, dia ada benarnya. Semua orang memperhatikan kita.”
“Ya, jangan pancing keributan terutama di tempat ramai seperti ini. Bisa-bisa kita diusir.”
Banyak dari mereka memperhatikan keempat orang yang berada di tengah-tengah lobby. Suasananya menjadi runyam, kericuhan di antara kembar tiga dengan Orion pun seketika hilang saat orang-orang melihat mereka dengan tatapan mengherankan.
Sebagian juga tampak mengasihani pada anak kecil yang diangkat oleh Tio persis mengangkat sampah. Orion pula kini hanya terdiam setelah mendengar mereka tak lagi mengoceh.
Perlahan, Tio menurunkan Orion. Situasi makin menghening. Di sisi lain, beberapa staf bagian pengurus hotel atau para pegawainya hanya terdiam sambil menggigit jari. Mereka tahu kalau ketiga orang yang membuat kericuhan tadi adalah Pejuang NED yang berada di bawah naungan Ketua Grup Dharmawangsa.
“Orion! Kau di sini?” panggil Gista lantas menghampirinya.
Tak lama setelah kedatangan Gista, pria yang merupakan Ketua Grup Dharmawangsa datang dengan raut wajah yang tak bisa dikatakan lagi. Ia tentunya sangat marah karena tahu anak-anak yang berada dalam kuasanya kini malah membuat masalah. Bahkan mempermalukan harga dirinya.
“Apa kalian selama ini tak pernah dididik dengan baik? Kalian sudah berusia 19 tahun, setahun telah terlewati yang itu artinya kalian telah beranjak dewasa.”
Ia mengomeli mereka bertiga panjang lebar tanpa jeda sedetik pun. Gista hanya terdiam mendengar ocehannya lantas memang itu tindakan yang diperlukan.
“Jangan buat aku malu. Ah, harusnya aku tak membawa kalian,” lanjutnya sambil memijat kening yang berdenyut sakit.
“Tidak baik kalau dilihat banyak orang kalau yang saat ini Anda lakukan hanyalah memperburuk keadaan. Karena memarahi mereka di depan umum akan membuat harga diri Anda jatuh. Benarkah apa yang saya pikirkan?” tutur Orion membuat pria berkumis itu terdiam seketika.
“Kalimatmu bagus,” bisik Gista memuji. Orion tersenyum puas mendengarnya.
Sesaat ketiga pria itu yang sebelumnya hanya diam menundukkan kepala pun akhirnya memperhatikan Orion dengan jelas.
“Tak aku sangka, anak ini bijak juga ...” batin mereka bertiga secara bersamaan.
Keadaan menjadi hening. Mereka pun kembali ke ruangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 266 Episodes
Comments