Siswi itu tampak girang sambil melambaikan tangannya pada Orion seorang. Orion merasakan sakit di dada karena tak menyangka akan bertemu dengan anak itu sekarang.
“Apa dia juga mengalami NED?” Satu hal pasti, inilah yang terbesit dalam benaknya.
“Lily, dia seumuran dengan kamu, jadi panggil saja namanya, Ori. Begitu, ya?” kata guru itu.
“Maafkan aku. Mungkin kamu salah lihat, bisa saja kamu berpikir bahwa aku adalah pamanmu karena mirip?” pikir Orion sambil tersenyum.
Dilihat sekilas raut wajah Lily, siswi yang memanggilnya dengan sebutan paman itu pun menjadi murung. Lily berpikir bahwa Orion adalah orang yang dimaksud karena terlihat mirip. Jelas saja mereka sudah saling mengenal saat Orion tengah terpuruk dalam keadaan, sesaat sebelum ia tiada.
Lily selalu datang setiap pulang sekolah ke tempat di mana Orion menyendiri setiap harinya. Setiap hari mereka bertemu, Lily juga lah yang selalu menghiburnya. Namun Orion sudah berbeda saat ini, meski dengan wujud saat ia anak kecil, ia sudah tak lagi sama dengan mereka yang masih hidup.
Melihat Lily tidak tumbuh meski 20 tahun telah berlalu, apakah mungkin Lily juga mengalami hal yang sama? Tapi Lily tidak menunjukkan suatu perubahan signifikan.
Ia sama seperti dulu, karena itulah Orion ragu untuk menyahut sapaannya. Orion harus berpura-pura karena jika tidak, maka hal buruk akan terjadi. Belum lagi Endy, motif kriminal itu masih belum jelas.
Kebetulan sekali bangku dekat Lily kosong, sehingga Orion duduk di sana. Sedikit tidak menyangka kalau saat ini ia duduk bersebelahan dengan temannya.
“Apa kamu yakin? Tidak mengenalku?” tanya Lily berwajah sedih.
“Sudah kubilang tidak. Lagipula mana ada seorang paman bertubuh mungil begini, 'kan?” jawabnya dengan tertawa hambar.
Lily pun berpangku tangan di atas meja. Berwajah sedih karena mendengar jawaban mengecewakan. Orion tak bisa apa-apa untuk saat ini, yang terpenting adalah menjaga anak-anak agar tidak terlibat dengan kekacauan yang mungkin akan terjadi.
Orion selalu berwaspada tingkat tinggi. Sejak masuk ke sekolah ini hingga melihat semua guru yang ada di ruangan. Memperhatikan dengan jelas bahwa tidak ada Endy di sana.
“Yah, semoga saja dia betulan ada di sekitar. Tidak di sekolah ini,” batin Orion.
Tepat setelah dimulainya pelajaran, seseorang melintas dari kelas. Terlihat dari jendela, seorang pria dengan potongan rambut cepak tengah berjalan ke suatu tempat. Sekilas Orion merasakan sesuatu dan benar saja saat ia melihatnya.
“Pria itu ...”
Melihatnya tak bisa membuat Orion berdiam diri saja. Ia bangkit dan mengatakan untuk ke kamar belakang sebagai alasan. Nyatanya ia pergi untuk membuntuti pria itu, ternyata firasat yang selama ini dirasakan tak pernah salah.
Orion yang biasa menghindari setiap masalah justru saat ini melakukan hal yang sebaliknya.
“Tenang saja aku hanya memastikannya saja.”
Berdiam-diam melangkah perlahan mengikuti pria itu. Jantungnya berdetak begitu cepat, keringat dingin bercucuran hingga napasnya terasa berat ketika semakin dekat dengannya.
Terasa begitu intens. Pekat akan kehadiran seorang Pejuang NED. Orion tak lagi bisa menghindar dari situasi.
Lorong sekolah juga terasa sepi. Tentu saja ini baru jam pagi, dimulainya pelajaran pertama dan menyibukkan semua murid serta guru yang mengajarkan mereka.
Orion sudah tak sanggup begitu menginjak bayangan Endy yang tiba-tiba berhenti bergerak. Reflek, Orion menubruk punggungnya lalu berteriak.
“Ah, maaf, pak! Saya tidak sengaja!”
Karena terburu-buru, kata-kata itu pun terlontar begitu saja. Endy pun menoleh padanya.
“Ya, tidak apa-apa.” Berbicara dengan ramah seraya duduk berjongkok, menjajarkan posisi antaranya dengan Orion.
Sontak Orion dibuat terkejut olehnya. Ia diam dengan wajah kebingungan sambil memegang keningnya.
“Apa kamu terluka?” tanya Endy.
Orion menyadari pria ini punya bekas luka di pelipis yang sama. Tak mengherankan bahwa firasat buruk ini menjadi kenyataan. Layaknya seorang peramal, Orion tengah berpikir bahwa pria ini akan melakukan sesuatu padanya sesaat lagi.
“Saya tidak masalah. Apa bapak sendiri baik-baik saja?” tanya Orion dengan perasaan bersalah.
“Tidak apa-apa, kok. Tapi lain kali berhati-hatilah. Oh, ya bukankah belajar sudah dimulai?”
“Maaf, pak. Tadi saya ingin ke toilet. Karena terburu-buru saya lari dan tidak sengaja menabrak bapak. Sekali lagi maafkan saya,” ucap Orion dengan tulus seraya menundukkan kepala.
Pria ini sekilas terlihat biasa-biasa saja. Apakah ini karena kemampuannya? Tidak, Orion sama sekali tidak merasakan apa pun selain tekanan batin ketika bertatap muka pada Endy.
“Bukan masalah. Lalu, toiletnya ada di ujung lorong ini.” Endy menunjuk ke arah belakang Orion.
Orion menoleh ke belakang lalu kembali bertatap muka dengan Endy. Kali ini ia harus melakukan sesuatu, untuk mengulur waktu.
“Bapak juga adalah guru di sini?” Orion bertanya namun berbeda dengan isi hatinya saat ini yang berkata sebaliknya.
Mana mungkin pria ini adalah seorang guru. Dan dijamin bahwa Endy takkan berkata jujur agar kebohongannya semakin terjamin. Ditambah ia memegang buku agenda kelas, menjelaskan bahwa ia guru sungguhan.
“Iya, tentu saja. Bapak adalah seorang guru.”
Dugaan Orion pun terbukti dalam sekejap. Namun satu hal yang disepelekan oleh Endy, adalah tidak mencurigai dirinya sebagai murid baru di sekolah.
Endy sama sekali tidak menanyakan soal Orion. Itu artinya Endy belum lama menyamar sebagai guru sekolah.
“Ah, begitu ya. Kalau begitu terima kasih.”
Tidak ada waktu untuk terus menyelidiki kebenarannya. Orion pamit undur diri dan berniat akan menemui seseorang yang juga bekerja di bawah Grup Arutala.
Endy menganggukkan kepala sambil tersenyum pada Orion. Wajah mungkin bisa menipu tapi tidak dengan hati. Endy tidak akan selamanya menyamar tanpa tujuan di sini.
Apa pun caranya, Orion harus mengorek sesuatu tentangnya. Semisal kekuatan apa yang dimiliki, motif kejahatan atau hal-hal lainnya.
“Akan berbahaya kalau aku berterus terang padanya. Apalagi dengan tubuh anak-anak seperti ini, dia takkan mudah percaya.”
Orion rupanya juga sadar kalau sebaris kalimatnya akan mengubah pandangan setiap orang di sekitar. Karena kalimatnya selalu rumit apalagi dilontarkan langsung oleh anak kecil.
“Mulai saat ini aku harus mengubah sikapku agar tidak terlalu dicurigai, ya.” Orion bergumam seraya mendesah lelah.
“Orion, kamu sudah ke toilet? Tidak tersesat, bukan?” tanya guru berkacamata pada Orion yang berdiri diam di daun pintu.
“Hampir, bu. Saya juga sempat nyasar ke kelas lain.”
Guru itu pun menghela napas lega melihat Orion bersikap normal seperti biasa. Cara bicaranya yang tetap sopan tapi bertingkah seperti anak di usianya pun tak lagi dicurigai.
“Harusnya Ibu mengantarmu, ya. Kalau begitu duduklah dan tulis apa yang di papan tulis, Orion.”
Orion mengangguk lantas kembali ke tempat duduknya. Kemudian mengeluarkan buku dan alat tulis, ketika jarinya hendak bergerak tuk menuliskan sesuatu, ia merasa ada sesuatu di dalam matanya.
“Duh, ini kenapa, ya?”
Orion pun mengusap matanya hingga berair. Ia sedang kelilipan sesuatu entah itu debu atau lainnya. Akan tetapi, ia terlihat linglung. Orion merasa telah melupakan sesuatu hari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 266 Episodes
Comments