“Tidak masalah.” Gista menggangguk lalu melihat dahi Mahanta yang terluka. “Itu sudah cukup membuktikan.” Kemudian Gista tersenyum tipis.
“Maksud Anda?”
Mahanta bertanya-tanya apa maksud dari mimik wajah serta ucapan Gista barusan. Terlihat tak wajar dan seolah mengetahui sesuatu tentang Orion.
Keesokan harinya. Pada pukul 10 pagi. Orion dan Mahanta berkumpul di salah satu ruangan yang sepi akan furnitur. Mirip seperti ruang isolasi namun sebenarnya di sana banyak sekali berkas-berkas penting dari NED.
“Orion, mulai hari ini kau akan pergi ke sekolah. Kau didaftarkan sebagai murid yang pertama kali bersekolah di luar setelah lama menjalani kursus pribadi di rumah (Home Schooling) kau mengerti?”
“Hah, baiklah.” Orion menjawabnya dengan helaan napas.
Mahanta menunjukkan sebuah foto seorang lelaki dengan potongan rambut cepak dan memiliki bekas luka sayatan di pelipisnya.
“Dan ini ...adalah tugas dari ketua. Jangan pernah ikuti atau hanya sekadar berbicara dengannya saja, ya? Karena pria ini, Endy adalah kriminal yang sering berkeliaran. Hanya kami saja yang tahu tindakan apa saja yang telah dia lakukan selama ini, termasuk membunuh orang tanpa jejak,” jelas Mahanta.
“Kalau aku ditugaskan begini, lalu sekolahnya bagaimana?” tanya Orion dengan kening bekerut.
“Hahaha.” Mahanta tertawa lantas mengusap-ngusap kepalanya dengan wajah bahagia. “Kau benar-benar ingin sekolah rupanya, ya. Tenang saja, terakhir kali dia ada di sekitaran sana. Selain jejak itu, tak ada lagi. Makanya ketua pikir ini akan menjadi masa percobaan yang pas untukmu,” celetuk Mahanta.
“Oh!” singkat Orion sambil menjaga jarak dan menghindar dari usapan Mahanta.
“Kau ini bocah yang tidak ada imut-imutnya, ya,” sindir Mahanta.
“Apa hanya itu penjelasannya?” sahut Orion kembali bertanya.
“Tidak ada. Info lainnya tidak begitu mendukung, ada yang bilang dia memiliki kemampuan ilusi, sulap atau bahkan mungkin memanipulasi pikiran. Masih tidak jelas apa kekuatannya karena itu dia sering kali menghilang dan membuat kami kerepotan.” Mahanta menggelengkan kepala.
“Aku cukup paham mengenai itu. Tapi apa yang dia lakukan di sekitar sana? Takkan dia sedang mengincar anak-anak saat pulang sekolah atau apa bukan? Memangnya dia penjahat kelamin atau sejenisnya?”
“Kau terlalu berpikir jauh tentang itu. Motifnya memang masih belum jelas sama seperti kekuatannya. Tapi yang kami tahu, Endy memang keseringan berada di sekitar anak-anak, di sekolah, di taman bermain atau tempat lain yang biasa ditempati anak-anak. Tapi sasarannya selalu orang dewasa,” jelas Mahanta agaknya ia menyeriusi perkataannya barusan.
Sebab ini adalah masalah yang cukup membingungkan. Kesimpulan mereka juga tak selalu mengarah apa yang sebenarnya diincar oleh Endy.
Mahanta juga bilang, dia sudah berkeliaran semenjak kebangkitannya. Sekitar 3 tahun yang lalu. Endy diketahui bahwa sebelumnya pria ini mati karena pendarahan di kepala karena kecelakaan lalu lintas. Kepribadiannya banyak berubah semenjak hari itu.
“Jadi kematiannya tidak menghubungkannya dengan tindakan itu?”
“Iya, itu benar. Karena itulah aku meminta dirimu untuk jangan terlalu dekat atau bicara dengannya. Sekalipun tidak sengaja, kau harus cepat menghindar.”
Mahanta memperingati Orion sebagaimana tugas yang diremehkan akan selalu berdampak buruk di akhir. Jadi Mahanta ingin Orion selalu berwaspada.
“Tidak perlu cemas mengenai itu, kami pun akan menjagamu dari kejauhan. Tapi tentu saja itu hanya bisa dilakukan oleh salah satu orang. Nanti kau akan bertemu dengannya,” imbuh Mahanta.
“Cemas juga tidak ada gunanya. Karena sering begini aku jadi terbiasa. Kau tidak perlu khawatir,” ucap Orion bernada sombong.
Mendadak sikap Orion begini lagi. Terlihat keren padahal hanya anak kecil yang baru bangkit, itulah yang dipikirkan Mahanta saat ini.
“Dari awal bertemu, entah kenapa aku berpikir kalau kau selalu bersikap seperti orang dewasa, ya?” celetuk Mahanta.
“Jangan buang-buang waktu denganku lagi. Aku akan pergi,” kata Orion lalu menggendong tasnya.
“Memangnya kau tahu di mana sekolahmu?” sindir Mahanta tersenyum mengejek.
***
Pada akhirnya Orion pun pergi ke sekolah yang letaknya tidak begitu jauh dengan arah rumah Gista. Ia pergi dengan Mahanta dengan mobilnya. Dan benar saja, ia bersekolah di sekolah dasar.
Kelas 3.
“Wah, anaknya sudah datang. Sendiri pula. Mandiri, ya ternyata.” Salah satu guru di sana memuji Orion. Meski saat ini Orion tengah menunjukkan wajah cemberut, marah dan campur aduk tak karuan karena hal ini.
Orion sudah setuju untuk terus bersekolah di tempat ini. Tapi tak pernah menyangka, semula ia pikir ada di kelas 6 tapi ternyata di kelas 3.
Sebelum masuk ke kelasnya, Orion tengah duduk di salah satu kursi. Tidak duduk di sebuah ruangan atau apa, ia berada di lapangan.
“Ibu bisa merapikan rambutmu sebentar, ya.”
Guru perempuan berkacamata itu menutupi tubuh Orion dengan kain hitam lalu menyiapkan gunting dan siap memotong rambut Orion.
Karena banyaknya kejadian, Orion sampai lupa kalau rambutnya sudah memanjang. Betapa malunya ia saat dilihat oleh sekumpulan murid yang berada di atasnya. Malu akan hal itu namun mimik wajahnya menjadi sangat kusut.
“Rambutmu ini sangat panjang. Apa selama home schooling, kamu tidak sempat memotong rambut?” tanya guru itu sambil meneruskan tindakannya saat ini.
“Ya, begitulah. Aku tidak sempat dan rasanya stress-ku bertumpuk.”
Guru itu terdiam dengan kebingungan. Tak mengerti apa yang dibicarakan Orion, terasa seperti mengobrol dengan orang yang lebih tua darinya.
“Apa cuman perasaanku saja ya? Cara bicara anak ini seperti orang dewasa?” pikir guru itu membatin.
***
Hari itu, adalah hari pertama setelah kebangkitannya dari kematian. Orion Sadawira telah bangkit setelah 20 tahun lamanya ia tiada. Harusnya saat ini ia sedang bersantai-santai dan duduk manis di teras rumah di usia 50 tahun.
Harusnya sih begitu ...
“Nah, anak-anak! Kalian kedatangan teman baru. Kenalkan namanya Orion Sadawira, dia anak yang selama ini belajar di rumah akhirnya memutuskan sekolah di luar. Yang akrab, ya!”
Kini ia berdiri di depan murid-murid kelas 3 SD. Harga diri sebagai orang tua yang sudah pensi terinjak-injak begitu mudahnya. Tapi mau bagaimana lagi? Tubuhnya sekarang menyusut, kembali ke usia anak kecil.
Menolak untuk sekolah pun juga percuma. Karena di sini, adalah tempat di mana Endy, kriminal yang sedang dicari tengah berkeliaran di sekitar sana.
“Paman Ori!”
Semua orang terkejut begitu salah satu siswi di kelas 3 ini memanggil Orion dengan sebutan, "Paman", tak terkecuali dengan Orion sendiri. Semula wajahnya kusut jadi terkejut saat melihat siswi itu.
Ternyata siswi tersebut adalah orang yang ia kenali. Namun hal yang menjadi membingungkan adalah, kenapa anak itu masih ada di bangku sekolah sedangkan 20 tahun lalu sudah terlewat.
Siswi itu tampak girang sambil melambaikan tangannya pada Orion seorang. Orion merasakan sakit di dada karena tak menyangka akan bertemu dengan anak itu sekarang.
“Apa dia juga mengalami NED?” Satu hal pasti, inilah yang terbesit dalam benaknya.
“Lily, dia seumuran dengan kamu, jadi panggil saja namanya, Ori. Begitu, ya?” kata guru itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 266 Episodes
Comments