Endy sekalipun tak bergeming begitu melihat sorot matanya yang tajam.
***
Malam telah tiba. Pertemuan yang sebelum ini dibicarakan Gista pun akan diadakan malam ini. Seperti yang Gista katakan, ia akan mengajak Orion ke sana. Dengan alasan, untuk memperkenalkannya pada yang lain termasuk Pahlawan Kota.
Mereka berangkat dengan menggunakan sebuah mobil yang disupiri. Gista dan Orion ada di bangku belakang.
Dalam perjalanan, pemandangan di perkotaan yang terlihat dari balik kaca mobil, sangatlah indah. Warna dari lampu-lampu jalanan dan warna lampu sen dari kendaraan lalu-lalang. Orion begitu menikmati pemandangan itu karena bernostalgia akan keadaannya yang dulu. Begitu pilu hingga ia tertawa.
“Ada apa?” Gista bertanya dengan heran, melihat Orion tertawa menatap kaca mobil.
“Tidak apa-apa, Nona Gista,” jawab Orion, tak lagi menatap ke arah luar lalu memejamkan mata sejenak.
Semilir angin dapat Gista rasakan dari Orion. Gista mengerti kalau Orion kini sedang berlatih untuk membiasakan diri dengan kekuatannya.
“Orion, apa kamu tahu tentang Pahlawan Kota? Jika nanti kamu sudah bertemu dengannya lebih dulu, maka aku menyarankanmu untuk jangan bertindak gegabah.”
Orion perlahan membuka kedua matanya. Lantas menoleh ke samping, menatap mata Gista yang sipit.
“Aku pernah mendengarnya dari adiknya Mahanta. Dia Pahlawan Kota, yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan gravitasi. Sejujurnya aku tidak begitu tertarik kecuali, alasan Nona Gista yang lain karena telah mengajakku untuk bertemu dengannya,” tutur Orion.
“Kamu masih ingat saat kita pertama kali bertatap muka? Aku menyerangmu dengan ilusi yang aku buat dari kekuatanku saat itu. Aku menggunakannya karena ingin tahu apa ada sesuatu dalam tubuhmu dan itu hampir mirip dengan tubuh Pahlawan Kota.”
“Jadi, Nona Gista ingin aku bertemu dengannya karena memang ingin mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan para Pejuang NED. Dan kebetulan Anda merasakan hal yang sama ketika menusuk tubuhku dan tubuh Pahlawan Kota itu?” pikirnya.
“Itu benar. Atau mungkin ...darah,” ucapnya dengan lirih.
“Hah, sudah kuduga. Wanita ini mengetahuinya,” batin Orion tak lagi terkejut.
***
Mereka akhirnya telah sampai ke sebuah hotel ternama dan tentunya sangat berkelas. Struktur bangunan yang dibuat dengan baik, ornamen di sekitar dinding lobby yang terlihat senada dengan lantai berwarna keemasan pun sangat elegan.
Orion yang dulu hanya pekerja kantoran biasa, tak pernah datang ke hotel yang sebegini mewahnya. Paling-paling hanya berbintang itu pun jika berurusan dengan perusahaan lain.
Merasakan kekayaan yang terpecik ke wajahnya pun begitu nikmat dirasa. Seolah berada di surga. Gista dan Orion berjalan berdampingan dengan pakaian formal berupa setelan jas, sejujurnya Orion merasa agak risih jika harus mengenakan setelan seperti ini.
“Rasanya aneh kalau aku memakai ini dengan tubuh kecil,” pikirnya membatin.
Pertemuan antar ketua organisasi ada di sebuah tempat yang sudah disediakan. Dan itu ada di lantai 15. Mereka berdua pun bergegas masuk lift dan menunggu sampai ke lantai tujuan.
Ting! Pintu lift pun terbuka setelah membawa mereka ke lantai 15. Berjalan di sepanjang lorong hingga berhenti di suatu ruangan yang paling ujung. Beberapa kali Gista mengetuknya, dan seseorang membukanya dari dalam.
“Nona Gista Arutala, Anda sudah sampai rupanya!” Salah seorang pria menyambut kedatangannya.
Terdiri dari 8 orang yang duduk di kursinya masing-masing dengan meja yang tertata membentuk persegi. Tidak ada furnitur lain selain kursi dan meja itu. Aksesori yang nampak pun hanyalah sebuah pot bunga yang berada di sudut ruangan.
“Eh, Orion?”
Tetapi, karena terlalu tidak memperhatikan. Orion yang sebelumnya berada di samping Gista, tiba-tiba menghilang.
“Anda tidak masuk?” ucap seorang pegawai hotel pada Gista yang masih berada di daun pintu.
“Apa kau barusan melihat ada anak kecil di sampingku?” Gista bertanya.
“Tidak ada Nona. Jika berkenan, saya akan membantu mencarikannya.”
“Baiklah kalau begitu. Dia anak kecil yang memakai setelan jas,” ucap Gista memberikan petunjuk.
Pegawai hotel itu pun mengangguk lalu saat Gista masuk ke dalam, ia pun segera keluar dan menutup pintu ruangan dengan rapat.
8 orang dengan Gista. Banyak di antaranya adalah seorang pria, sisa dari dua orang selain Gista adalah perempuan.
“Sepertinya Anda mengkhawatirkan sesuatu, Nona Gista?” Pria yang sebelum ini bicara padanya, ialah ketua Grup Ganendra.
“Iya, tapi akan lebih baik jika menyelesaikan ini dalam waktu singkat,” ucap Gista lalu duduk di kursi tersisa.
“Baiklah Nona Arutala. Kali ini masih sama, yang menyangkut masalah selama 7 tahun berturut-turut, kudengar Kota J-Karta juga terlibat selama 3 tahun terakhir, kira-kira sudah berapa anak?” Pria berkumis. Ketua Grup Dharmawangsa berbicara.
“Terhitung puluhan namun salah seorang Pejuang NED memiliki keterlibatan secara tidak langsung. Dia sendiri menyaksikan bagaimana anak-anak itu diculik. Dan dia menyerang bahkan membunuh antek-anteknya,” jelas Gista.
“Masalahnya semakin rumit kalau terus diperpanjang seperti ini. Kita harus memotong jalan agar dapat menemukan keberadaannya,” sahut seorang wanita berkulit coklat. Ketua Grup Raiya Meera.
“Mengingat lamanya musuh kita masih bergerak begitu bebas. Saya pikir, seseorang di antara kita terdapat mata-mata,” sindir Gista dengan sorot mata yang tajam.
Mengarah langsung pada salah seorang pria berkacamata dan bertubuh kurus, Ketua Grup Adi Caraka. Semuanya selain orang itu pun tersentak akan pernyataan Gista. Lantas meliriknya dengan heran.
“Anda tidak bisa bicara sembarangan begitu,” ketus Ketua Grup Ganendra.
“Oh, memangnya kenapa? Kalau saya bicara seperti ini, tentu karena saya sudah lebih dulu menyelidiki. Bagaimana pendapatmu, Tuan Caraka.” Gista berbicara dan sekali menatap pria berkacamata itu.
Situasi menjadi hening dan suram. Ketegangan di antara mereka terasa berbelit akan masalah-masalah yang nampak sepele.
Nyatanya, anak-anak diculik karena sebagian besar mereka diciptakan menjadi Pejuang NED secara paksa. Yang tidak lain adalah dengan membunuh mereka dan membangkitkannya dengan darah penghubung jiwa raga.
***
“Apa yang dilakukan anak kecil di lantai ini?”
“Aku tidak tahu. Tapi kalau kulihat tadi dia ini anaknya Nona Arutala.”
Terdengar dua orang pria tengah berbisik-bisik, mereka asik bergosip sendiri tentang anak kecil yang sedang mondar-mandir di lorong. Anak kecil itu diyakini adalah Orion, salah satu dari mereka bahkan menganggap Orion adalah anak Gista.
“Hush! Sembarangan. Nona cantik itu 'kan baru saja bertunangan. Mana mungkin langsung punya anak. Apalagi anak yang terlihat tengil seperti itu.”
Orion yang tak sengaja mendengarnya pun sontak terkejut, ia menoleh ke belakang dan menatap mereka dengan tajam.
“Hei, nak!” panggil seorang pegawai hotel dari arah depannya. Tampak ia memanggil Orion sambil melambaikan tangannya lalu menghampiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 266 Episodes
Comments