Mila memikirkan sesuatu, dan apa yang di alami Pak Jayan, sepertinya bukan hal yang wajar.
Tapi, apa?
Pak Jayan kan bukan keluarga Mbah Karti? Mana mungkin ada sangkut pautnya sama tanah milik Mbah Karti.
Tapi kenyataanya, batu nisan Mbah Karti masih miring. Dan Pak Jayan mengalami kejadian aneh. Seakan di ganggu oleh makhluk tidak terlihat.
Mila berbisik ditelinga Frans, "Ada yang janggal dengan kejadian yang di alami pak Jayan,"
"Aku tahu, aku akan mencari tahu," balas Frans berbisik.
Mereka lalu pamit pulang. Pak Jayan ke kamar dan berbaring disamping istrinya.
"Pak, ibu kok perasaanya tidak enak. Kenapa ya pak?" tanya istrinya sambil menatap suaminya yang memejamkan matanya.
"Sudahlah Bu, jangan berpikir yang macam-macam. Tidak baik, ayo tidur sudah malam,"
Pak Jayan sepertinya langsung lelap tertidur karena kelelahan tadi malam berputar-putar diladang.
Sedangkan Bu Jayan, entah kenapa gelisah dan tidak bisa tidur.
Tiba-tiba, lampu padam, dan hanya rumah Bu Jayan yang lampunya mati.
"Pak, bangun, lampunya padam,"
Bu Jayan membangunkan suaminya dengan menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Tidur saja Bu. Bapak cape," Pak Jayan enggan bangun, karena sudah sangat mengantuk.
Bu Jayan kesal dan cemberut lalu bangun dan berjalan keluar kamar mencari senter diruang tamu. Dia akan mencari lilin jika sudah menemukan senternya.
Bu Jayan, berjalan merambat di dinding. Tanganya berpegangan pada dinding agar tidak menabrak kursi atau lemari.
Semuanya gelap sekali, tidak nampak apapun.
Bu Jayan tiba-tiba menabrak bayangan hutan, dan saat sadar, Bu Jayan lalu menatap wajah bayangan hitam itu. Dan ternyata itu wajah Mbah Karti.
"Aaaaa...Han hantu...."
Bu Jayan langsung lemas, terkulai, pingsan, tidak sadarkan diri.
Bayangan hitam itu mendekati kamar Pak Jayan.
"Jayan.....Jayan...."
Pak Jayan tidak dengar dan tetap tidur terlelap.
"Bangun Jayan....kita ke kuburan...." ajak bayangan hitam itu.
Akhirnya pak Jayan, terbangun dan kaget, bayangan hitam itu berdiri tepat di depannya yang lagi tertidur.
"Mbah....Mbah Karti...."
Pak Jayan lalu pingsan karena shock dan takut.
Pagi harinya, Bu Jayan bangun dan kaget melihat dia tertidur di lantai diruang tamu. Matahari sudah masuk kedalam rumah melalui kaca jendela.
"Ahh, sakit sekali keningku," Bu Jayan memegang keningnya yang benjol akibat terbentur kursi.
"Kok aku tidur disini?" Bu Jayan perlahan bangun.
"Kenapa tadi malam seperti melihat hantu Mbah Karti? Kenapa dia kesini? Ada urusan apa" Gumam Bu Jayan sambil berjalan terseok ke kamarnya.
Pak Jayan masih pingsan. Bu Jayan mengira jika Pak Jayan masih tidur.
"Pak, bangun pak. Udah siang," Bu Jayan mendekati suaminya dan menggoyangkan badannya.
"Ampun, ampun Mbah...Ampun, jangan bunuh saya," Pak Jayan mengira jika istrinya adalah hantu semalam.
"Pak. Bangun pak. Aku istrimu, bukan hantu. Lagian siapa sih yang akan membunuhmu? Kenapa kamu ketakutan sekali?"
"Itu Bu...hantu. semalam ada hantu..." kata Pak Jayan.
"Ini pak minum dulu," Bu Jayan memberi minuman pada suaminya.
"Bapak, tidak merahasiakan apa-apa kan dari ibu?" tanya Bu Jayan.
Pak Jayan diam saja. Tidak menjawab.
"Ngga Bu. Rahasia apa?"
Pak Jayan lalu duduk.
"Soalnya, tadi malam, ibu juga melihat hantu Tapi hantu Mbah Karti," kata Bu Jayan.
"Apa?" Pak Jayan terkejut.
"Lalu, apa katanya?" Pak Jayan penasaran.
"Apa ya, ibu tidak ingat. Ibu pingsan saat melihatnya,"
Pak Jayan diam saja.
"Kenapa ya pak, kok hantunya ke rumah kita. Emang apa salah kita? Kita kan ngga mengambil hartanya. Kenapa dia kemari?"
Bu Jayan penasaran.
"Maaf Bu, Bapak sebenarnya menjual tanah milik Mbah Karti...." Akhirnya terpaksa Pak Jayan berterus terang.
"Apa!?" Bu Jayan shock dan melotot.
"Bagaimana bisa pak?"
"Ceritanya panjang Bu...." sahut Pak Jayan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments