Bab 2 Murni dan bayangan hitam

Sebuah bayangan seperti sedang menatap tajam wajah Murni. Dia melayang di udara dan menempel di langit-langit kamarnya.

Murni yang awalnya akan tiduran, kemudian menatap bayangan hitam yang melayang ditembok. Tanpa terasa kakinya berjalan mengikuti bayangan hitam itu.

"Kemana perginya?" dalam hati Murni berkata sendirian.

"Itu pasti hanya perasaan ku saja," Murni lalu kembali kekamarnya.

"Aku terlalu ketakutan dan sekarang aku mulai berkhayal melihat bayangan hitam," ucap Murni lalu masuk kedalam kamarnya.

Tiba-tiba, dia merasa kesakitan dibeberapa bagian tubuhnya. Murnipun menjerit dan menjambak rambutnya.

Dia meminta tolong dan berteriak. Tapi karena rumahnya sangat luas dan ada tembok tinggi disekelilingnya, maka tidak ada yang mendengar teriakannya.

Akhirnya, diapun terduduk disudut kamar sambil menjambak rambutnya sendiri. Sekarang, dia mulai tidak mengenali jati dirinya.

Hari menjelang sore. Mbah Karti pulang dari rumah Mbah Surip yang baru saja meninggal.

"Murni.....!" Mbak Kartu berteriak memanggil nama Murni.

"Murni....ibu pulang nak...." kata Mbah Karti lalu masuk kedapur dan menurutnya itu untuk membuang sial. Setelah pergi melawat maka sudah menjadi kebiasaan nya untuk masuk kedapur dan mencuci kakinya.

Menurut kepercayaan orang tuanya dulu, itu dilakukan agar roh jahat tidak ikut bersamanya dan menganggunya.

"Sepi sekali. Apa murni tidur?" kata Mbah Karti mengambil air minum dan meminumnya.

glek! glek!

Mbah Karti merasa sangat kehausan setelah seharian membantu dirumah tetangganya.

"Aku akan melihatnya dikamarnya," kata Mbah Karti lalu berjalan ke kamar Murni.

Mbah Karti membuka pintu perlahan. Lalu kaget saat melihat keadaan kamar yang berantakan.

Sorenya berserakan dilantai. Kapuk didalam bantal berhamburan disana sini. Mbah Karti lalu mencari Murni yang ternyata sedang meringkuk disudut kamar.

"Astaga Murni. Apa yang terjadi denganmu nak?" kata Mbah Karti lalu memapah Murni kekasur.

Mengambil bantal yang masih bagus dan tidak sobek. Hanya satu bantal yang bagus. Yang lainya sobek disana sini.

Mbah Karti lalu mengambil selimut dan menyelimuti Murni.

"He he he...." Murni tertawa terkekeh.

"Kamu siapa?" tanya Murni.

"Murni, jangan bercanda. Ini ibu. Kamu sudah makan belum?" tanya Mbah Karti sambil menyisir rambut Murni yang berantakan.

"Belum. Aku tidak lapar. Tidak mau makan. Aku mau bertemu Rangga. Aku kangen Rangga. Aku ingin ketemu dia," kata Murni mulai meracau.

"Murni, sadar nak. Rangga itu sudah kamu tolak. Dan kamu masih kuliah. Jangan bicara begitu,"

"Rangga....Rangga....." Murni terus menyebut nama Rangga.

Hingga akhirnya dengan susah payah, Mbah Karti menidurkan Murni.

Keesokan harinya. Murni semakin tidak terkendali. Dia mulai berteriak dan tidak mau memakai pakaian. Dia terus menyebut nama Rangga.

Dan dia tidak ingat namanya sendiri.

"Murni,"

Panggil Mbah Karti.

Murni diam saja dan hanya memainkan rambutnya yang panjang. Keadaanya sungguh sangat berantakan. Dan dia mulai berbicara sendiri dan tidak peduli dengan kehadiran beberapa orang yang menjenguknya.

"Mbah, sebaiknya, segera bawa Murni ke orang pintar. Kasihan dia," kata Wito RT di desa Kunti.

"Dimana ada orang pintar yang hebat? Kemarin apa yang terjadi dengan Mbah Surip membuat saya trauma," kata Mbah Karti.

"Jangan putus asa Mbah. Segera bawa Murni ke desa Jati. Disana ada orang pintar yang bisa mengobati sakit seperti ini," kata Wito.

"Ya sudah, pak Wito bisa bantu saya bawa Murni?" tanya Mbah Karti.

"Iya Mbah. Saya akan menemani Mbah Karti membawa Murni. Saya kasihan jika melihat keadaannya. Jika saja kakak sepupu saya masih hidup, maka dia tidak akan seperti ini," kata Wito.

"Sudahlah Wito. Jangan ungkit orang yang sudah tidak ada," kata Mbah Karti lalu memaksa Murni ke mobil Wito.

"Dia tidak mau pakai baju. Biar aku pakai kan selimut saja," kata Mbah Karti.

"Ya sudah tidak papa," kata Pak Wito lalu duduk di bangku stir.

"Apa Warni tidak pulang Mbah?" tanya Pak Wito.

"Lagi keluar negeri. Katanya pulang Minggu depan," kata Mbah Karti.

"Apa tidak sebaiknya Warni disuruh berumah tangga Mbah. Umurnya juga sudah cukup untuk punya suami," kata Pak Wito yang masih ada hubungan saudara sehingga berani berkata seperti itu.

"Sudah. Tapi memang belum dikasih ya mau bagaimana lagi," kata Mbah Karti.

"Oh ya, katanya si Mila sekarang ikut Warni ya Mbah?"

Mila adalah tetangganya belakang rumah Mbah Karti. Dia berusia 20 tahun dan memutuskan untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga dirumah Warni.

"Iya. Disini belum lama dipecat dari pekerjaannya. Kebetulan Warni butuh orang untuk bersih-bersih dirumahnya," kata Mbah Karti.

"Warni akhirnya sukses ya Mbah? Jadi guru, gaji ya juga besar. Apalagi di sekolah internasional. Tidak semua orang seberuntung Warni Mbah," kata Pak Wito.

"Ya, disyukuri aja Pak Wito. Semua itu juga tidak lepas dari kerja keras Warni. Orangnya memang prihatin sejak dulu. Tidak suka neko-neko. Tiap hari belajar dan tidak suka main kayak anak gadis yang lain," kata Mbah Karti terkenang pada Warni saat masih belia.

"Nah, itu Mbah rumahnya. Kita sudah sampai. Itu gapuranya," kata Pak Wito.

"Aku ngga mau turun! Aku ngga mau turun!" Seakan seperti sudah tahu jika akan di obati maka Murni berteriak tidak mau turun. Dia mengamuk didalam mobil.

"Aduh Mbah, gimana ini?" tanya Pak Wito yang juga kewalahan.

"Itu ada orang. Biar aku minta tolong dia untuk menggotong Murni," kata Mbah Karti lalu berjalan ke dua orang yang baru saja dari ladang.

"Pak, bisa bantu saya. Anak saya ada didalam mobil. Tidak mau di obati. Mengamuk," kata Mbah Karti.

"Ayo Prem, kita bantu Mbah ini," Kata temannya.

Mereka lalu menggotong dan mengikat kaki dan tangan Murni. Dia lalu dibawa masuk ke rumah Ki Sentot.

Ki Sentot juga orang pintar, dia sudah tahu jika ada tamu dari jauh.

"Bawa sini, biar aku obati," kata Ki Sentot.

"Iya Mbah," Kata Mbah Karti dan Pak Wito. Mereka lalu menunggu diluar.

Terdengar dari dalam Murni berteriak dan memaki Ki Sentot.

Murni mengamuk. Tapi sepertinya bukan Murni yang mengamuk. Melainkan roh jahat yang menempel ditubuhnya.

Murni melotot dan berusaha melawan Ki Sentot.

Namun akhirnya tidak terdengar lagi suara gaduh ataupun jeritan Murni. Dan saat itu Mbah Karti dan Pak Wito disuruh masuk kedalam.

"Kenapa dengan anak saya Mbah? Kok jadi seperti ini?" tanya Mbah Karti.

"Ada yang mengirim guna-guna padanya. Dia seorang pria. Tidak saya sebutkan namanya. Pokonya kalau mau selamat, Murni jangan bertemu dengan pria itu lagi," kata Mbah Sentot berpesan pada tamunya.

"Iya Mbah," kata Mbah Karti lega, setelah melihat wajah Murni yang tadinya pucat menjadi bercahaya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!