Bab 14 Mbok Darmi

Mila kembali kerumah setelah mendengar lamaran Frans untuknya. Dia bingung harus bagaimana?

Disatu sisi, dia sangat membenci keluarganya. Disisi lain, ada amanat dari Mbah Karti untuk menjaga harta peninggalannya.

Mila lalu duduk dan termenung. Mbok Darmi datang memberikan singkong rebus.

"Mikir apaan sih Mil? Makan singkong ini, masih anget," kata Mbok Darmi dan menaruh singkong di atas meja.

"Mila lagi bingung Mbok,"

"Kenapa? Ada masalah apa?"

"Frans melamar Mila. Mbok tahu ngga, Mila sangat benci dengan keluarga mereka. Tapi kata Pak Wito, agar Mila bisa menyelamatkan harta mereka yaitu, dengan menikah dengan salah satu keluarga mereka. Mila jadi bingung," kata Mila terus memikirkan hal itu sejak tadi.

"Frans orangnya lumayan baik, dia juga kelihatan beda dengan kakaknya. Mungkin kau harus pertimbangkan lamaranya. Lagian kamu kan belum punya calon. Kamu juga sudah pantas kok berumah tangga," kata Mbok Darmi saat ingat jika teman sebaya Mila bahkan anaknya sudah TK.

"Menurut Mbok begitu?"

"Iya Mil. Jika kau tidak menikah, maka kau akan kesepian di hati tua. Jika Frans melamarmu, menikahlah dengannya,"

"Baiklah Mbok, jika itu yang terbaik menurut Mbok Darmi. Mbok sudah seperti ibu Mila sendiri, sejak kedua orang tua Mila meninggal. Hanya Mbok tempat Mila berbagi suka dan duka,"

Kata Mila lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan Mbok Darmi.

Mbok Darmi mengelus rambutnya dan mendoakan dalam hati untuk kebahagiaan Mila.

*

*

Frans masuk ke kamar kakaknya. Dan akan mengatakan keinginannya untuk menikah dengan Mila. Gadis desa yang sudah menarik hatinya dengan kesederhanaan yang dia miliki.

"Kak, aku akan menikah dengan Mila, bulan ini, carikan hati baik," kata Frans sambil duduk disamping kakaknya.

"Apa? Gadis itu? Apa kau buta? Kau pergi jauh ke Jepang? Kenapa kau tidak bawa sekalian gadis dari negeri sakura itu? Kau malah akan menikahi gadis kampung yang tidak sekolah dan bekerja jadi pembantu? Apa kau sudah tidak waras!?" Alex kaget dan marah mendengar ucapan adiknya.

"Wanita di sana berbeda dengan gadis disini kak. Aku suka gadis desa seperti Mila. Dia memang tidak sekolah, tapi hatinya baik,"

"Kakak akan carikan gadis yang layak untukmu. Tidak rela kakak, kamu menikah dengan gadis seperti Mila. Apa yang bisa kamu banggakan dari dirinya?"

"Tidak kak, terimakasih. Tapi aku hanya ingin Mila,"

"Frans," pekik Alex tercekat di tenggorokan.

"Kakak, aku mohon, ini sudah keputusan ku. Dan aku memilih Mila untuk menjadi istriku," kata Frans tegas.

Frans lalu pergi dari kamar kakaknya. Sinta masuk dengan senyum yang merekah. Tadi siang dia baru saja membeli kalung perhiasan yang bagus.

Dia akan memperlihatkan pada suaminya.

"Mas, bagus ngga?"

"Lumayan," jawab Alex tanpa menoleh.

"Kok hanya lumayan. Dan kau tidak melihatnya. Ini model terbaru saat ini,"

"Aku tahu. Tapi ada yang lebih penting dari semua itu. Frans akan menikah. Dan dia memilih Mila untuk menjadi istrinya,"

"Apa!? Mila!? Gadis maling itu. Ohh tidak Alex. Dia tidak boleh menjadi bagian dari keluarga kita yang kaya raya ini,"

"Frans tidak mau mendengar nasehatku. Kau saja yang bicara dengannya," kata Alex putus asa.

Sinta lalu mengambil alih untuk menasehati Frans. Namun Frans tidak mau menurut padanya.

Setiap hari Sinta selalu mengatakan keburukan sikap Mila. Dia bahkan pernah akan mencuri harta peninggalan Mbah Karti. Namun semua itu tidak berguna. Frans tidak goyah sedikitpun.

Dia tetap pada pendiriannya. Sampai saking tidak bisa menggoyahkan keyakinan Frans, Sinta menemui orang pintar di daerah yang jauh, di kaki gunung Intan. Dia desa terpencil itu, Sinta meminta sebuah jimat agar Frans membenci Mila.

Sinta lalu pulang dari sana bersama suaminya dan menaruh jimat itu di kamar Frans.

Dan ternyata hasilnya mulai terlihat. Dua minggu menjelang pernikahan mereka, Frans mulai terlihat tidak begitu mengejar Mila lagi.

"Ada apa dengan badanku. Aku merasa badanku lemas," kata Frans berpegangan pada sebuah kursi dikamarnya.

Mila juga sedang menunggu Frans dirumahnya. Setelah Mila mengatakan untuk setuju menikah denganya, maka mereka mulai dekat dan akrab.

Hari ini , Frans berjanji akan datang dan makan masakan Mila. Mila sudah bersusah payah, memasak untuk mereka makan. Namun Frans tidak terlihat akan datang.

Satu jam berlalu, Mila bosan duduk didalam dan akhirnya duduk di teras.

Menunggu Frans.

"Aku sudah lapar, apa dia lupa?" bisik Mila berbicara sendiri.

Tiga jam berlalu. Karena yang ditunggu tidak datang dan Mila juga tidak mau ke rumah Frans. Maka diapun makan sendiri hasil masakannya.

Hingga akhirnya Frans benar-benar tidak datang.

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

jahat banget tuh si Sinta sm si Alex

2023-06-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!