Saat ini, semua warga sedang berkumpul dirumah Mbah Karti. Mereka tidak menduga, Sinta akan meninggal dengan cara yang tragis seperti itu.
Delum lama suaminya meninggal, dia juga tidak lama menyusulnya. Semua warga yakin, jika kematian mereka akibat warisan yang mereka jual.
Seorang tetangganya menasehati Frans. Sebagai adik dari mendingan Alex dan Sinta, agar mengembalikan tanah Mbah Karti yang dijual oleh kakaknya.
"Apa maksud Mbok Darmi, tanah yang dijual sama pak Kusni?"
"Iya, kemarin Pak Kusni datang untuk menjual tanahnya kembali. Tapi Bu Sinta menolaknya,"
"Jadi, apa yang harus saya lakukan Mbok?"
"Kalau pak Kusni datang, kamu setujui saja niatnya untuk menjual tanahnya kembali"
"Iya Mbok," Frans yang tidak tergiur dengan harta warisan, menyetujui usul tetangganya.
Setelah Sinta dikuburkan, Pak Kusni datang. Dan membawa surat tanah milik Mbah Karti.
Dia ketakutan, karena pernah di hantui arwah Mbah Karti. Dan mendengar nasib tragis Alex dan Sinta, membuatnya semakin takut.
Dia berniat mengembalikan tanah Mbah Karti dan menyuruh keluarganya yang lain untuk menandatangani kesepakatan itu.
Dia tidak mau bernasib sama seperti Alex dan Sinta.
"Pak Kusni. Wah kebetulan sekali, saya mau kerumah pak Kusni, ada hal penting yang ingin saya bicarakan," ucap Frans saat bertemu dengan pak Kusni dirumah Mbah Karti.
"Iya, mari kita bicara. Saya juga ada hal penting. Ini surat tanah milik Mbah arti, saya kembalikan, dan jual beli yang kemarin disepakati dengan Pak Alex dan Bu Sinta, saya batalkan, bagaimana?" Tanya Pak Kusni sambil menyerahkan surat tanah dan akta jual beli pada Frans.
"Ya, saya juga mau membicarakan hal ini. Tapi, masalahnya sebagian buangnya sudah di belikan mobil, lalu bagaimana? Apakah pak Kusni mau menerima mobil itu dan sisa uangnya? Terus terang kalau saya mengganti semua uang yang di pakai kakak saya. saya tidak punya," kata Frans.
"Ya sudah tidak papa. Mobilnya biar saya pakai. Yang penting, surat tanah ini saya kembalikan. Dan sisa uangnya, nanti biar saya ambil sekalian," kata Pak Kusni langsung setuju. Karena dia tidak bisa memaksa Frans untuk mengembalikan uangnya. dan jika mobil itu dijual, maka harganya juga akan turun dan rugi banyak.
Demi terhindar dari maka petaka, maka Pak Kusni menerima kesepakatan yang di berikan Frans. Dan merugi beberapa persen karena pembatalan jual beli tanah.
"ya sudah Mas Frans. saya pamit pulang," kata Pak Kusni setelah semua urusannya dengan Frans selesai.
Ditempat lain, hal aneh terjadi dengan pak Jayan. Pak Jayan baru saja pulang dari ladang. Dan entak kenapa dia bisa tersesat dan kembali lagi ke ladang setelah berjalan ke arah pulang.
Diapun menjadi bingung, hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Setiap hari dia keladang dan tidak mungkin bisa tersesat di kampungnya sendiri.
Tapi anehnya, setelah berjalan jauh, dia tetap kembali ke ladangnya. Seakan semua jalan tetap menuju pada tujuan yang sama.
"Aduh gimana ini? Kenapa kembali lagi kemari. Sudah tiga kali dan tetap tidak bisa pulang, ada apa?"
Pak Jayan lalu tertunduk lemas karena lelah.
Tiba-tiba langit mendung dan menjadi gelap.
"Mana mau hujan. Saya tidak bisa pulang, kok ya, ngga ada yang lewat, pada kemana orang-orang ini?"
Pak Jayan melihat ke langit yang semakin pekat dan gelap.
Tidak hujan. Tapi angin berhembus sangat kencang. Tiba-tiba buku kuduk pak Jayan menjadi merinding.
Melihat ke semak-semak, seperti ada yang bergerak.
"Siapa disana?" Teriak Pak Jayan.
"Ada orang? Siapa disana?"
Sebuah suara terdengar di udara. Menyebut nama pak Jayan.
"Jayan...kembalikan tanahku....Jayan....kembalikan tanahku..."
"Jangan nakut nakuti. Keluar kalau berani! Teriak Pak Jayan menantang suara tanpa wujud itu.
"Siapa kau! Jangan beraninya bersembunyi. Cepat tunjukkan dirimu!" Pak Jayan merasa ada orang yang sengaja menakut nakuti dirinya. Dia tidak percaya jika hantu Mbah Karti akan menemuinya dan meminta tanahnya.
"Mana mungkin orang mati bisa hidup kembali! Kalau berani, tunjukkan dirimu!" Teriak Pak Jayan.
Wuussshhhh
Tiba-tiba angin membuat Pak Jayan oleh dan terjatuh ketanah.
Tanah itu berlubang. Pak Jayan jatuh ke dalamnya. Dan daun-daun kering terbang kearahnya seakan ingin menguburnya hidup-hidup.
"Apa ini? Aku harus keluar dari sini," Pak Jayan berusaha bangun dan memanjat keluar dari lubang itu.
"Jayan...aku peringatkan. Kembalikan tanahku...." Suara itu menggema.
Pak Jayan pingsan karena debu dan tanah menutupi lehernya. Hanya kepalanya saja yang terlihat ke permukaan.
Tiba-tiba, pak Wito yang akan mencari daun pisang, tanpa sengaja melihat pak Jayan.
Pak Wito pun kaget melihat jika ternyata itu adalah Pak Jayan. Terkubur didalam tanah dan hanya terlihat kepalanya saja.
Pak Wito segera menolong pak Jayan yang pingsan karena lemas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
neng ade
satu persatu orang yg menjual tanah warisan mbah Kartu mendapatkan balasan nya..
2023-06-08
0