Bab 9 Lewat kuburan

Pulang dari sungai, Mila melewati jalan setapak tadi. Gerimis mulai membasahi dedaunan disepanjang jalan setapak. Gelap juga mulai menyelimuti awan yang tadinya putih terang.

Mila menoleh kearah kuburan saat sebuah petir menyambar dan mengagetkannya.

"Miring lagi," gumam Mila sedih.

Berulang kali, setiap nyekar, Mila selalu menyuruh orang untuk meluruskan batu nisan keluarga Mbah Karti. Tapi setiap kali sudah diluruskan, selalu miring kembali.

"Ini aneh. Pasti ada yang salah. Jika tidak, bagaimana batu nisan bisa miring terus?" Gumam Mila dan saat bahunya ditepuk dari belakang dia kaget dan berjingkat, hampir saja dia lari, saking kagetnya.

"Jangan takut, ini aku. Oh ya, dari tadi aku lihat, kamu menatap kesana terus. Ada apa?" tanya Frans yang tiba-tiba muncul dibelakang Mila dengan rambut basah.

Membuat wajahnya yang tampan semakin menawan. Beberapa helai rambut teracak menutupi dahi. Wajahnya bersih berseri, ditambah hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis nampak seksi.

Mila sesaat terpaku menatap ketampanan Frans. Namun setelah teringat jika dia adalah adiknya Alex, maka Mila menepis rasa terpana ya.

"Tidak ada. Dan kenapa kamu mengikutiku?"

Mila melanjutkan jalannya, karena tidak ingin berbicara lama dengan Frans.

Namun Frans terus menyamai langkah Mila dan berusaha menarik perhatiannya.

"Jika kau akan nyekar kesana, aku mau ikut," ajak Frans yang takut sendirian di kuburan.

"Nanti sore aku akan nyekar," kata Mila, " jika kau mau ikut, datang kerumahmu jam tiga sore,"

"Oke, aku akan datang tepat waktu. Tidak kurang dan tidak lebih," gurau Frans.

Mila hanya menggelengkan kepalanya dan berusaha tidak tergoda oleh candaan Frans.

Jam tiga sore.

Frans sedang mandi, dan saat dikamar mandi, dia kaget.

"Astaga! Aku lupa!"

Dengan cepat, Frans menyiram tubuhnya dan keluar lalu memakai baju.

Saat keluar kamar, menabrak Sinta, kakak iparnya.

"Maaf, kakak, aku sedang buru-buru,"

"Kau mau kemana?"

"Aku akan nyekar bersama Mila,"

"Apa? Dengan Mila?"

"Iya, kenapa? Kakak mau ikut?"

Sesaat Sinta melengos.

"Ehm, kakak sedang sibuk. Besok kalau senggang, baru akan nyekar," ujar Sinta yang memang jarang ke kuburan begitupun dengan suaminya.

"Kak, Alex apakah mau ikut?" tanya Frans pada istrinya.

"Ehm, kakakmu ada urusan penting, kalau begitu kau saja yang pergi kesana," kata Sinta lalu berlalu.

Tok! tok! tok!

"Mila!" Panggil Frans.

Namun tidak ada sahutan.

"Mila!"

Karena tidak ada sahutan, maka Frans berpikir jika Mila sudah pergi kesana terlebih dulu.

Frans lalu pergi ke kuburan. Sampai disana dia tidak melihat Mila.

Kaget! Saat melihat batu nisan yang miring milik keluarganya.

Lalu seperti terdengar suara rintihan dan tangisan.

"Ahh, ini hanya perasaan ku saja!"

Suara itu hilang, Frans lalu mulai menyapu daun kering. Dan menaburkan bunga diatas pusara mereka.

Greekkkk!

Batu nisan itu seperti bergerak ke kiri. Tadi padahal miring ke kanan.

Detak jantung Frans semakin kencang. Kakinya kelu untuk bangun dan berlari. Dia sedang berlutut berdoa.

Dalam hati berbisik. "Dimana Mila? Kenapa tidak datang? Katanya mau kesini?"

Greeeekkkk!

Suara itu kembali terdengar.

Sekarang batu nisan milik Mbah Karti juga miring ke sebelah kiri. Tadi miring ke sebelah kanan.

"Bulu kudukku...." gumam Frans dan menyelesaikan doanya.

Frans lalu bangun. Namun tiba-tiba dia merasakan kakinya seperti ada yang memeganginya.

"Aduh! Jangan Mbah! Ampun! Jangan ganggu saya! Ampun!"

Frans tidak berani menoleh. Kakinya tertinggal dibelakang dan nyangkut ke akar pohon yang merumbai.

Saat dia gemetar ketakutan. Sebuah tangan lembut terasa dikakinya. Menyentuhnya.

"Ampuuunnnn!"

"Ini aku!" Kata Mila jongkok dikaki Frans untuk menyingkirkan akar yang merumbai di kakinya.

"Mila?!" Frans kaget sekaligus senang.

"Kenapa kau berteriak?"

"Ohh, tidak papa...aku memang takut pada akar pohon," jawab Frans tidak mau ketahuan oleh Mila jika dia takut pada hantu.

"Sudah berdoa?" tanya Mila lalu menabur bunga karena melihat sekelilingnya sudah bersih.

"Sudah,"

"Aku akan berdoa dulu," kata Mila lalu berdoa untuk semua keluarga Mbah Karti.

Frans berdiri dibelakang Mila dan menatap ke sekeliling.

Dia merasa takut saat melihat bayangan hitam di sebuah pohon.

"Mila, sudah belum, ayo kita pulang," kata Frans ketakutan.

Mila sekarang mengerti jika Frans ternyata penakut.

Mila lalu berjalan keluar dari kuburan. Frans terus dekat dengannya saat berjalan.

"Kenapa kau tidak ada dirumah. Tadi aku kerumahmu,"

"Kau tidak datang tepat waktu. Jadi aku kemari lebih dulu,"

"Tapi, tadi aku tidak melihatmu disini,"

"Oh, aku ke makam keluargaku dulu. Ayah dan ibuku sudah tiada. Lalu aku melihatmu berdiri seperti patung tadi,"

"Apa? Patung? Ohh, jangan kau pikir aku takut, tadi itu, aku hanya risih menyingkirkan akar pohon di kakiku. Kau tahu, aku biasa tinggal di kota. Akar seperti itu tidak ada disana," sahut Frans menutupi rasa malunya.

"Ohh, jadi kau takut pada akar pohon?" Mila mencibirkan bibirnya

"Hehe, iya...."

Mila merasa geli saat teringat Frans meminta ampun tadi. Ah pasti dia pikir melihat hantu, hingga harus meminta ampun, batin Mila tersenyum kecil.

"Kenapa ketawa?"

"Ngga. Lucu aja! Ingat kejadian tadi,"

Pipi Frans memerah karena malu. Bagaimana pun tadi dia berteriak minta ampun.

Ah, sial! Kenapa tadi aku pakai minta ampun segala!

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

akui aja Frans klo kamu takut dan ceritakan juga apa yg terjadi .. dngn begitu kan pasti ada solusi nya

2023-06-08

0

Azaidane Azaidane

Azaidane Azaidane

si frans lucu.. hihihi

2023-01-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!