Murni sudah sembuh seperti sedia kala. Dan kembali normal juga bisa beraktivitas seperti biasanya. Dia mulai merindukan teman-teman kuliahnya. Namun setelah apa yang terjadi, maka Mbah Karti tidak mengijinkan Murni pergi kuliah di tempat sebelumnya.
"Murni, sudah siap belum. Ibu akan menemanimu," kata Mbah Karti pada Murni yang sudah pindah ke universitas yang lain.
"Ibu dirumah saja. Murni bisa sendiri. Ibu kalau mau ke pasar tidak papa," kata Murni lalu berpamitan dan berangkat ke kampus.
"Baiklah, hati-hati ya," kata Ibunya.
Murni lalu berjalan ke jalan raya. Kampungnya berada setengah kilometer dari jalan raya. Murni akan naik angkot ke tempat kuliahnya.
Meskipun kaya raya. Tapi Mbah Karti hidup sangat irit. Dia tidak memberikan uang jajan banyak untuk Murni. Dan tidak ada motor atau mobil dirumahnya.
Mbah Karti selalu membeli tanah setiap uangnya sudah terkumpul. Alhasil, dia menjadi tuan tanah dikampung ya. Setiap ada yang mau jual tanah, selalu dia beli dengan harga paling murah. Dan biasanya dia akan mendapat kan harga termurah saat orang itu kepepet dan butuh uang.
Tanahnya semakin banyak. Bahkan tanah persawahan di sekeliling kampungnya adalah miliknya.
Semua tetangganya akan pergi kerumahnya jika butuh uang. Namun itu dengan jaminan tanah. Jika tidak ada jaminan tanah maka tidak akan di gubris sama mbak Karti meskipun orang yang butuh sakit keras atau sangat mendesak.
Pokonya kalau mau berurusan uang dengan Mbah Karti harus punya jaminan tanah baru Mbah Karti akan menolongnya.
Seperti itulah sifat Mbak Karti yang kikir. Dia tidak mau berbagi apapun dengan tetangganya meskipun uangnya banyak. Dia juga tidak akan membantu jika tidak ada imbalannya.
Murni berulang kali mengingatkan ibunya akan sikapnya yang terlalu pelit dan kikir. Namun bukanya sadar malah dia akan di caci maki oleh ibunya.
Didalam perjalanan ke kampus, Murni ingat apa yang terjadi semalam.
Seorang tetangganya menangis dan sampai memegang kaki Mbah Karti meminjam uang. Namun karena tidak punya jaminan maka orang itu pulang dengan tangan kosong.
Hati Mbah Karti tidak bergeming untuk membantunya. Murni yang ibapun, memberikan tabungannya untuk dipinjamkan pada orang itu.
Tapi karena ibunya melihatnya maka uang Murni diambil kembali dan Mbah Karti sangat marah melihat Murni yang mudah percaya dengan orang yang datang untuk meminjam uang.
Murni menarik nafas berat mengingat hal itu.
"Murni......" Murni menikah saat melewati kuburan kuno. Karena seperti ada yang memanggil dirinya yang sedang melamun.
"Tidak ada orang. Tapi aku tadi seperti mendengar suara memanggil namaku," ucap Murni.
"Kuburan....kenapa perasaanku menjadi tidak enak begini?" ulang Murni dan mempercepat langkahnya.
Tiba-tiba langit menjadi gelap dan hujan mengguyur deras.
Murni berlari menuju sebuah rumah kosong yang ada didekat kuburan itu.
"Hujan, aku lupa bawa payung. Gimana ini? Bajuku bisa basah sampai dikampus jika tidak segera reda," kata Murni.
"Mana sepi lagi....Kenapa aku harus lewat jalan ini. Aku tidak ingat jika ada kuburan disini. Kok aku jadi merinding ya...." kata Murni lalu merasa jika buku kuduknya merinding.
Dan tiba-tiba dia melihat orang mirip Rangga lewat.
Murnipun mengejar orang itu.
Murni tidak peduli jika hujan mengguyur deras. Dia terus mengejar seorang pria mirip Rangga.
Dan memanggil namanya.
"Rangga!"
Begitu Murni memanggil nama Rangga sebuah cahaya mirip api tiba-tiba seperti masuk kedalam dirinya.
"Sakiiitttt!" Murni berteriak.
Ternyata menyebut dan mengingat tentang Rangga membuat dia kembali membuka mata batinnya dan iblis jahat itu masuk kembali ke dalam tubuhnya.
Murni pingsan dijalan.
Pak Wito yang kebetulan lewat dengan motornya kaget melihat seorang wanita tergeletak dijalan raya dalam kondisi bawah kuyup.
"Ada orang pingsan. Biar aku tolong. Hujan-hujan kok ada yang pingsan. Mana dekat kuburan, kasihan sekali...." kata Pak Wito lalu membalikkan wanita itu.
Dan saat melihatnya pucat pasi, maka Pak Wito kaget dan menyebut namanya.
"Murni....." Pak Wito segera membawa Murni pulang kerumah Mbah Karti.
Mbah Karti yang sedang mengelap lantai teras yang licin, kaget melihat Pak Wito datang.
"Mbah, Murni pingsan dijalan. Didekat kuburan," kata Pak Wito sambil memapah Murni masuk kedalam rumah.
Pak Wito terpaksa mengikat tubuh Murni ke tubuhnya karena dia dalam kondisi pingsan. Jika tidak di ikat maka bisa jatuh saat motornya berjalan.
"Apa Murni pingsan?" Mbah Karti lalu melihat kondisi anaknya.
"Bagaimana bisa seperti ini pak?" tanya Mbah Karti sangat cemas.
"Ngga tahu Mbah. Aku melihatnya sudah pingsan dijalan," kata Pak Wito.
Mbah Karti lalu memanggil tetangganya yang agak pintar. Meskipun ilmu kebatinananya dibawah Mbah Surip. Namun hanya dia yang ada saat ini dan bisa di mintai tolong jika menyangkut hal gaib.
"Tidak bisa di selamat kan," kata tetangganya saat melihat Murni sudah biru. Dan detak jantungnya berhenti.
"Apa?" Mbah Karti kaget.
"Iya Mbah. Murni sudah meninggal," kata tetangganya itu.
Mbah Karti tidak bisa berkata lagi. Dadanya sesak dan dia menangis disamping Murni.
"Murni....apa yang terjadi nak....kenapa bisa jadi begini...." Mbah Karti terus menangisi Murni.
Dan tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi. Saat tetangganya tahu jika Murni tiada maka mereka semua datang ke rumah Mbah Karti.
Ada yang membawa beras, sayur, dan segala macam bahan untuk dimasak keperluan merawat orang yang sudah tiada. Seperti itu memang sudah menjadi tradisi. Mereka akan datang dengan membawa makanan mentah dan matang, untuk diberikan pada keluarga yang terkena musibah.
Jarang orang datang membawa uang. Ada juga yang pergi ke pasar mendadak dan membeli bahan pokok untuk diberikan pada keluarga yang terkena musibah.
Mbah Karti masih menangisi jenasah Murni. Tapi sebuah keajaiban terjadi. Murni yang pucat pasi tiba-tiba terbangun dan membuka matanya saat semua orang sudah berkumpul dirumahnya.
Dia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.... hahaha hahaha,"
"Ada hantu!" Sebagian anak kecil yang ikut berlari keluar saat melihat Murni terbangun.
"Murni...." Mbah Karti kaget dan berhenti menangis.
Dia tidak takut sama sekali bahkan tersenyum saat melihat Murni hidup kembali.
"Murni...."
"Hahahaha.. hahaha...bubar. Kalian semua pergi.Cepat pergi....." Teriak Murni seperti orang tidak waras.
Semua tetangganya saling berpandangan. Dan Murni yang tertawa melempari mereka dengan barang-barang menyuruh mereka semua pergi dari rumahnya.
"Pergi.....pergi....." teriak Murni.
Semua tetangganya meninggalkan belanjaan mereka dirumah Mbah Karti dan pergi.
Saat semua orang sudah pergi, Murni lalu mengunci pintunya dari dalam. Dia lalu mengambil semua belanjaan itu dan memainkannya. Melempar beberapa barang ke seluruh ruangan.
"Murni... hentikan. Kamu membuat takut semua orang...." kata Mbah Karti yang tidak berani mendekati Murni karena dia seperti sedang mengamuk.
"Hheeeehhhh" Murni bersuara keras dan seperti bukan suaranya.
"Hheeeehhhh"
Mbah Karti mundur dan menjauh dari Murni
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
neng ade
masih misteri apa yg sebenar nya terjadi sm Murni .. mungkin ada kaitan nya sm ibu nya yg kikir dan pelit hingga ada yg merasa sakit hati
2023-06-08
0