Mila pergi untuk nyekar ke makam keluarga Mbah Karti. Hanya Mila yang rajin kesana dan mendoakan mereka. Tidak ada saudara dari Mbah Karti yang datang untuk nyekar.
Milalah yang selalu membersihkan kuburan mereka dan menaburkan bunga disana.
"Kok masih miring? Harusnya sudah lurus," bisik Mila dalam hati.
"Kenapa batu nisannya masih miring. Bukankah Pak Alex dan Bu Sinta sudah meninggal. Dan semua tanah sudah dikembalikan? Lalu apa lagi yang membuat mereka tidak tenang di alam sana?" gumam Mila sambil berdoa untuk ketenangan keluarga Bah Karti.
Pulang dari kuburan, Mila lalu kerumah Mbah Karti. Dia akan menemui Frans.
"Mila, kenapa kau tidak mengajakku kesana? Aku akan ikut denganmu, nyekar makamnya Simbah," kata Frans yang takut jika pergi ke kuburan sendirian.
"Ada yang aneh dimakam Mbah Karti. Meski tanahnya sudah dikembalikan. Kenapa batu nisannya masih miring. Padahal kemarin sudah di luruskan oleh warga," kata Mila curhat pada Frans, tunangannya.
"Maksudmu, punya Mbah?"
"Ketiga-tiganya," jawab Mila lalu mengambil sapu.
"Kenapa kotor sekali. Apa kamu tidak membersihkannya?!" Mila melihat lantai yang kotor.
"Kamu saja Mila. Aku cape dan ngantuk," jawab Frans.
"Kamu kan yang nempati rumah ini. Masa aku yang harus bersih-bersih?"
"Mila, tolonglah. Kamu kan calon istriku. Masa kamu ngga mau bantu aku bersih-bersih. Lagian rumah Simbah ini sangat besar. Mana bisa aku membersihkannya sendirian?"
Frans lah yang sekarang menempati rumah Mbah Karti. Dan tidak ada kejadian aneh, selama dia menempatinya.
Mila akan datang siang hari, membantu Frans membersihkan rumah Mbah Karti yang luas, karena dia calon istrinya Frans.
Tetangga yang melihat hal itupun menjadi senang, karena memang Mbah Karti dan keluarganya menganggap Mila lah yang paling berhak atas hartanya.
Meskipun dia hanya pembantu, tapi selama ini hanya Mila yang mengurusi dan peduli dengan mereka. Karena hal itulah, maka Mbah Karti dan Bu Warni, menyerahkan semua hartanya untuk Mila.
"Jeng, enak ya jadi si Mila. Bukan anak bukan saudara, tapi dapat warisan dari Mbah Karti,"
"Jangan ngiri jeng. Mila itu, selagi keluarga Mbah Karti masih hidup. Dia yang mengurus mereka dari sehatnya sampai sakit. Dan bahkan saat Bu Warni duduk dikursi Roda. Siapa juga kalau bukan Mila yang mengurusnya. Di Ambulans sendirian dari kota ke kampung. Wajarlah kalau Mbah Karti dan Bu Warni merasa Mila lebih dari saudara,"
"Iya sih," jawabnya lalu berlalu dari rumah Mbah Karti.
Mila sudah selesai beres-beres dan akan pulang, tapi Frans memegang tangannya membuat Mila kaget.
"Mau kemana?" tanya Frans memegang pergelangan tangan Mila.
"Pulang. Kan sudah selesai," jawab Mila.
"Duduk sini dulu. Kok buru-buru amat mau pulang. Aku sendirian. Kamu temani aku ya?"
"Kan kita belum resmi menikah. Kalau aku sama kamu seharian dirumah lalu ada tetangga yang tahu, nanti dikira macam-maxam. Jadi Fitnah," Mila melepaskan tangan Frans.
Frans nampak kecewa. Dan melepaskan genggamannya.
"Ya sudah kalau mau pulang,"
"Kita baru tunangan, belum menikah. Aku tidak bisa lama dirumahmu," Mila lalu pamit pada Frans.
"Kalau begitu, tunggu dulu. Aku akan kerumahmu saja, ngga enak sendirian dirumah," Frans lalu bangkit dan mengambil kunci rumah. Dia akan mengunci rumah Mbah Karti dan pergi kerumah Mila.
Mila dan Frans berjalan. Dan saat dijalan, melihat Pak Wito menggendong Pak Jayan.
"Itu kan pak Jayan? Kenapa di gendong seperti itu?"
"Mana?" Frans nampak mencari dan akhirnya melihat Pak Jayan pingsan di gendong oleh Pak Wito.
"Aku akan membantu Pak Wito," Frans lalu berlari kecil dan membantu pak Wito menggendong Pak Jayan.
Mila berjalan di belakang mereka. Ingin tahu apa yang terjadi.
Sampai dirumah, disambut oleh istri pak Jayan yang kaget melihat suaminya pingsan.
Pak Wito lalu menceritakan jika dia menemukan Pak Jayan di sebuah lubang dan hanya kepalanya yang terlihat.
Pak Jayan lalu siuman. Pak Jayan menceritakan apa yang dia alami.
Frans dan Mila saling berpandangan. Pak Wito juga kaget mendengar cerita pak Jayan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
neng ade
pak Katan hrs kembalikan tanah mbah Karti jika tidak akan terjadi seperti kejadian Alex dan Sinta
2023-06-08
0