Bab 10 Orang kaya baru

Sebagian tanah Mbah Karti dijual oleh Alex dan istrinya.

Mereka menjualnya pada sebuah PT yang akan menggunakan tanah itu untuk perumahan.

Uang hasil dari penjualan itu, sebagian di belikan mobil mewah oleh Sinta dan juga Alex. Sebelumnya, Alex tidak pernah membayangkan akan memiliki mobil semewah itu.

Diapun lalu belajar mengemudi, begitu juga istrinya. Para warga yang melihat polah mereka menjadi gerah.

"Dasar OKB!"

"Apaan okb?" tanya juminten yang akan berangkat kerja jalan kaki ke pabrik.

"Orang kaya baru. Masa gitu aja kamu ngga tahu sih?" temannya menjadi kesal.

"Aku ngga tahu kalau okb. Aku tahunya rejeki nomplok!" sahut juminten.

"Jangan iri dengan rejeki seperti itu. Biar kita miskin tiap hari kerja dan uangnya habis hari ini juga. tapi berkah," kata temannya.

"Ya, itu sih aku juga sudah tahu. Tapi kan kalau dapat warisan dan tiba-tiba kaya raya. Apa kamu tidak pengen?" Juminten geleng-geleng kepala.

"Aku sih, tidak kepengen seperti mereka. Itu kan harta keluarga Mbah Karti. Kata Bu Warni, itu dikasihkan ke Mila. Karena dia yang setia dan sayang sama mereka. Ehh, giliran Bu Warni sudah meninggal. Keluarganya pada rebutan dan nikmati hartanya. Kasihan si Mila. Sepeserpun tidak dibagi,"

"Si Mila yang kerja jadi pembantu itu?"

"Meskipun pembantu. Tapi hanya dia yang ada saat mereka sudah dan sakit. Keluarganya pada kemana? Giliran udah meninggal dan hartanya banyak. Baru pada datang, dan ngejualin warisannya. Ngga berkah kalau aku bilang!"

"Jangan-jangan, itu yang bikin batu nisan di kuburan mereka selalu miring, mana ada sejarah batu nisan miring seperti itu? Baru dengar akuh," ucap Juminten.

Tiba-tiba Frans yang sedang lari pagi, tertarik dengan pembicaraan mereka. Dan mereka tidak tahu, jika Frans adalah adik dari Alex. Orang yang baru saja mereka bicarakan dengan asyik.

"Kedengarannya seru. Pasti cerita horor," gurau Frans.

"Wah orang ganteng, mau tau aja;" celetuk Juminten.

"Siapa yang okb, dan sedang kalian bicarakan?" tanya Frans yang sebenarnya sejak tadi mendengar mereka berdua bergosip.

"Ohh itu. Pak Alex dan Bu Sinta. Lihat aja tuh. Lagi belajar mobil. Tapi hasil jual tanah milik Mbah Karti. Padahal, ngga ada tuh pesan wasiat jika tanahnya boleh dijual. Tapi sama mereka dijual, mau dijadikan perumahan," jelas juminten.

"Ohh, kalian pengen?" Gurau Frans.

"Ngga! Kami takut! Nanti di hantui sama arwah Mbah Karti dan keluarganya,"

"Terus, siapa yang boleh memiliki warisan Mbah Karti menurut kalian?" pancing Frans.

"Ya Mila. Soalnya sejak mereka sakit-sakitan, hanya Mila yang setia merawat mereka hingga mereka tiada. Sedangkan keluarganya. Ngga ada yang datang apalagi ngurusin. Sebelum Bu Warni meninggal, juga sudah pesen kok, kalau rumah yang dia tinggalin untuk si Mila. Eh, malah saudaranya pada ndak terima. Katanya cuma pembantu kok mau minta warisan," kata temannya juminten.

"Ohh, apa Mila yang rumahnya di belakang itu?"

"Nah, bener itu. Kok kamu tahu?" Mereka berdua kaget dan saling berpandangan.

"Iya, aku kan adiknya Pak Alex dan Bu Sinta yang kalian bicarakan itu," kata Frans ngeprank mereka berdua.

"Apa!? Astaga! Bagaimana ini?" Juminten dan temannya saling berpandangan. Kaget dan gemetar.

"Tenang. Kenapa kalian ketakutan begitu?"

"Ehm, sudah ya, kami duluan. Sudah terlambat, Juminten, Ayo lari...."

Mereka berdua lalu lari terbirit-birit.

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

Semoga aja si Frans itu tak seperti saudara nya si Alex dan si Sinta

2023-06-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!