Hari ini, Mila bertunangan dengan Frans. Disaksikan oleh beberapa warga yang diundang ke rumah Mila.
Setelah acara tunangan selesai, hanya tinggal Frans dan Mila berdua saja.
Mereka lalu pergi ke kuburan untuk nyekar. Sampai disana, mereka terkejut, karena kuburan milik Alex seperti berlubang.
"Kenapa kuburannya seperti ini?" tanya Frans bingung, sambil menatap Mila.
"Apa?" Mila pun kaget.
Frans lalu mengambil cangkul yang ada di kuburan, dan mulai menguruk gundukan tanah yang berlubang itu.
Setelah berdoa mereka lalu pulang. Mila menjadi merinding jika teringat perkataan neneknya dahulu.
"Kata nenek, jika kuburan berlubang seperti itu, maka tandanya, akan ada yang meninggal," ucap Mila dan membuat Frans tersenyum.
"Itukan hanya mitos Mila. Jangan terlalu percaya pada hal demikian,"
Ditempat lain, Pak Jayan sedang berbelanja dengan istrinya. Uang hasil penjualan tanah itu, dibelanjakan berbagai macam barang yang mereka senangi.
Beberapa tetangga lalu mulai berbisik-bisik. Mereka tahu, jika tanah yang di jual pak Jayan itu sebenarnya adalah milik Mbah Karti.
Sinta tidak tahu, jika Mbah Karti punya tanah lain yang suratnya hanya di ketahui oleh Pak Jayan. Dan tetangga juga enggan mengatakan pada Sinta.
Mereka mengatakan pada Mila tentang yang yang dijual oleh pak Jayan.
"Mil, kamu tahu ngga? Pak Jayan batu saja menjual tanah. Dan tanah itu milik Mbah Karti. Sayangnya, entah bagaimana suratnya, kok ada sama pak Jayan?" kata seorang tetangganya.
"Apa mbak? Kok bisa?"
"Iya, kan dulu Mbah Karti kalau mau apa-apa melewati Pak Jayan. Mungkin suratnya ada disana, lupa diambil. Lalu Mbah Karti meninggal. Makanya, pak Jayan kaya mendadak Mil,"
"Astaga, Pak Jayan kenapa tidak mengembalikan pada keluarganya, atau mengatakan jika itu tanah milik Mbah Karti?"
"Ya, namanya juga uang banyak Mil. Kalau sudah gitu, semua juga akan mengakui itu miliknya, sekarang, katanya lagi mau dibangun perumahan disana, di beli sama pak Kusni,"
"Kasihan Bu Warni. Dulu, banting tulang, kerja keras, dan ngumpulin uang. Sebagian di belikan tanah, oleh Mbah Karti. Tapi saat meninggal, warisannya di nikmati oleh orang-orang yang tamak," Mila sedih mengingat mendiang Bosnya.
"Lihat tuh, Pak Jayan dan Istrinya baru saja belanja, nah tuh, beli mobil baru segala," kata tetangganya yang melihat pak Jayan dan istrinya belanja. Dan tidak lama kemudian, sebuah mobil di turunkan di rumahnya.
"Tenang, saja mbak, rejeki yang tidak berkah, karena mengambil hak orang lain, pasti juga akan habis dan belum lagi, mereka akan mendapatkan karmanya,"
Mila lalu masuk kedalam rumah dan menangis. Dia sedih, karena terlambat menyelamatkan semua harta Mbah Karti dan Bu Warni. Bagaimanapun, padahal mereka sudah berpesan pada Mila untuk menyelamatkan harta mereka dari orang-orang yang tamak.
Tapi Mila tak berdaya. Saudaranya memojokkan nya lalu mengatakan hal yang tidak-tidak padanya. Jika Mila mengambil surat-surat itu, maka polisi akan datang menangkapnya.
Sayangnya, Mbah Karti, tidak membuat surat wasiat yang kuat diatas materai. Dan hanya dikatakan saat sedang berdua saja dengan Mila, tanpa ada saksi.
Malam ini, tiba-tiba mati lampu. Mila lalu pergi ke warung untuk membeli lilin. Saat dijalan, dia melihat bayangan hitam, pergi kerumah Sinta.
"Ahh, apakah itu maling?" gumam Mila.
"Tapi gelap, mungkin itu Frans,"
Tidak lama kemudian, Mila mendengar teriakan dari rumah Mbah Karti.
"Itu seperti suara Mbak Sinta?"
Mila mencoba masuk untuk melihat apa yang terjadi. Dalam gelap, Mila menggedor-gedor pintu. Namun, semua pintu dan jendela tertutup dari dalam.
Hanya suara jeritan Sinta yang berulang kali terdengar dan dia seperti berlari kesana-kemari namun pintu terkunci dari dalam.
Suara teriakan Sinta terdengar oleh Mila yang berada diluar pintu.
"Mbak, buka pintunya, ada apa?" teriak Mila dari luar.
"Frans, apa kamu didalam? Apa yang terjadi? Buka pintunya?" Mila kembali berteriak dari luar karena panik dengan teriakan Sinta yang berulang kali.
Sampai akhirnya, tidak terdengar suara teriakan lagi. Namun Mila tetap tidak bisa masuk, karena pintunya dikunci.
"Mbak, Mbak Sinta?" Tidak ada sahutan.
Mila lalu memanggilnya sekali lagi, tapi tetap hening. Tidak ada suara siapapun dari dalam.
Karena menyangka semua sudah tenang, maka Mila lalu kewarung untuk membeli lilin.
"Tinggal satu Mila, lilinnya," kata penjual warung.
"Ya sudah mbak, ngga papa, daripada gelap," kata Mila lalu pulang dan lewat rumah Mbah Karti lagi.
Sampai dirumah Mbah Karti, para tetangga sudah berkumpul dirumahnya. Frans pulang saat Mila pergi ke warung. Frans membuka pintu dengan kunci duplikat yang lain.
Dan saat membuka pintu, dia kaget, melihat ruang tamu berserakan. Kursi terbalik dan meja tergeser seakan terjadi aksi kejar-kejaran.
Lalu melihat kakak iparnya tergantung dilampu hias di ruang tamu dengan kain panjang.
Matanya melotot dan ludahnya keluar. Dia sudah meninggal saat Frans menurunkannya. Frans lalu berteriak dan para tetangganya muka berdatangan.
"Bu Sinta sudah tiada. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Sementara semua pintu dalam keadaan terkunci?" tanya Frans.
"Arwah yang melakukannya," bisik seorang tetangganya.
"Apa!?" Frans tidak percaya dengan hal demikian.
"Kematiannya hampir sama dengan suaminya. Mungkin Arwah Mbah Karti dan Bu Warni yang melakukan semua ini," kata tetangganya.
"Tidak. Tidak mungkin," kata Frans.
Tapi memang tidak ada orang yang masuk. Semua pintu dan jendela masih terkunci.
Merekapun lalu mengurus jenazah Sinta. Dan rencananya akan di kuburkan di sebelah kuburan suaminya yang belum lama meninggal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments