Mila dan majikannya Warni masih tinggal di kota. Karena disana rumahnya Bu Warni dekat dengan rumah sakit. Dan lebih mudah bagi Bu Warni untuk cek dan periksa jika ada keluhan.
Akhirnya rumahnya yang dikampung terbengkalai. Mila semakin tidak tega untuk meninggalkan Bu Warni, dan tetap menemaninya.
Setelah kematian Murni, Mbah Karti, tinggallah Bu Warni sendirian. Dan kemana- mana hanya ditemani Mila, uang bekerja sebagai asisten rumah tangga dirumahnya.
Setelah membersihkan kaki Bu Warni, Mila lalu memapahnya ke kursi Roda. Semakin hari, Bu Warni semakin kurus.
"Mila, sebaiknya kamu segera berumah tangga, nanti biar saya urus semua biaya nikahnya," kata Bu Warni.
"Belum ketemu jodohnya Bu," jawab Mila tersipu malu.
"Kamu jangan sampai seperti saya. Tidak menikah dan punya anak. Semua harta yang dikumpulkan menjadi sia-sia," kata Bu Warni dengan sedih.
Pikiranya melayang dimasa jayanya beberapa tahun silam. Dia enggan berumah tangga dan akhirnya karena usianya yang semakin bertambah, tidak ada satupun pemuda yang melamarnya.
Dan akhirnya di bilang perawan tua, kadang Bu Warni merasa kesepian dirumahnya yang besar meskipun sudah ada Mila.
Seandainya waktu bisa diputar kembali, dia akan berumah tangga dan tidak berambisi mengejar karir di kota besar.
Sekarang, saat dia mendekati usia tua, dia benar-benar sendirian. Tidak ada suami dan anak yang bisa diajak berbagi keluh kesahnya.
"Mila, kalau saya tiada, saya mau kamu menempati rumah saya yang di kampung. Dan kamu urus semua tanah saya," kata Bu Warni pada Mila.
"Iya Bu,"
"Mila, kamu sudah saya Angga seperti saudara saya sendiri. Bahkan uang masih sepupu dan keponakan tidak ada yang peduli sama saya," kenang Bu Warni dengan sedih.
"Padahal, saya selalu mengirimkan uang untuk mereka setiap tahun. Dulu saat mereka masih kecil, setiap bulan saya juga membantu biaya sekolah mereka. Setelah mereka besar dan berumahtangga, mereka lupa dan tidak ingat saya," Bu Warni mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
Mila hanya mendengarkan keluh kesah majikannya. Dan didalam hatinya semakin iba melihatnya.
Keesokan paginya, seperti biasa, Mila akan membangunkan majikannya.
Mila melihat majikannya tidur dengan sangat pulas.
Mila lalu berjalan mendekatinya dengan hati-hati. Semakin diperhatikan semakin ada yang janggal. Seperti tidak ada suara nafasnya dan gerakan didadanya.
Karena khawatir, Mila lalu memegang kakinya. Ternyata kakinya sudah sangat dingin seperti es. Dan Mika memegang pergelangan tangannya, ternyata, tidak ada denyut nadi disana.
"Ibu....bangun Bu...." Mila curiga jika majikannya sudah tiada. Meskipun begitu, Mila tetap membangunkannya.
"Bu, bangun Bu...." Mila lalu memanggil dokter yang biasa merawat majikannya.
Dokter datang dan memeriksa pasiennya. Setelah itu keluar dan menyatakan jika Bu Warni sudah tiada.
"Apa dokter? Sudah meninggal?" tanya Mila berurai air mata.
Shock, bingung, dan tidak tahu harus bagaimana. Tapi Mila segera ingat pesan Bu Warni. Jika dia akan dimakamkan dikampung halamannya.
"Iya mbak, Bu Warni sudah meninggal,"
"Ya, terimakasih dokter...." kata Mila lalu mengurus jenazah majikannya.
Mila memanggil ambulans dan menemani jenazah itu selama dalam perjalanan semalaman.
Rasa takut tiba-tiba sirna dari dalam diri Mila. Yang ada hanya rasa sedih dan kehilangan.
Tidak menduga jika majikannya akan tiada malam ini.
Sampai dikampung, Mila lalu memanggil warga dan mengatakan jika Bu Warni sudah tiada.
Maka semua saudara yang jauh pun diberi kabar. Dan anehnya, semua saudaranya berduyun-duyun datang.
Padahal saat Mbah Karti meninggal, mereka ada yang datang ada yang tidak.
Seorang keponakan yang pas kecil pernah diutus oleh Mbah Karti juga datang, namanya Alex.
Dia datang bersama istri nya Sinta.
Alex dan Sinta mengatur semua dari hari pertama Mila datang bersama jenazah itu.
Alex lalu mendekati Mila saat jenazahnya sudah di kuburkan.
"Ini untukmu," kata Alex memberikan amplop berisi uang untuk Mila.
"Ini gaji dan bonus karena kamu sudah mengurus saudara saya," kata Alex.
"Apa?" Mila kaget dan terkejut.
"Mulai sekarang kamu sudah tidak bekerja lagi. Saya dan istri saya akan tinggal disini. Dirumah ini," kata Alex.
"Tapi....." Mila kaget dan takut untuk menyampaikan pesan majikannya.
"Tapi....Bu Warni berpesan agar saya tinggal disini," meskipun takut, tapi karena itu pesan terakhir Bu Warni, maka Mila harus menyampaikanya.
"Apa? Maksudmu, kamu mau tinggal dirumah ini? Hahahaha ngaco kamu! Kamu kan hanya bekerja jadi pembantu. Dibayar. Masa kamu juga mau harta warisannya," kata Alex lalu istrinya mendekati dan ikut nimbrung.
"Benar, kata suamiku. Kamu hanya bekerja sama Bu Warni. Kamu bekerja lalu dibayar. Tidak ada hubungan saudara apalagi keluarga. Kamu sama sekali tidak berhak atas peninggalan Bu Warni," tegas istrinya menatap sinis pada Mila.
"Terserah kalian. Saya hanya menyampaikan pesan almarhum sebelum meninggal. Dan jika kalian tidak suka, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi yang jelas, Bu Warni berpesan agar saya tinggal dirumah ini setelah beliau tiada," kata Mila yang sudah bekerja pada Bu Warni lebih dari sepuluh tahun bahkan hingga majikanya tiada.
"Sudah, kamu pulang saja! Ini gajimu!" kata Alex.
"Tidak perlu. Saya sudah dibayar oleh Bu Warni sebelum beliau tiada. Dan maaf, saya tidak bisa menerima uang anda," kata Mila tegas.
"Dasar sombong! Ya sudah. Kamu tidak usah datang lagi kemari. Biar saya dan istri saya yang mengurus semuanya sampai hari ketujuh," kata Alex kesal pada penolakan Mila.
"Baiklah, saya permisi," Mila lalu pamit dan pulang kerumahnya.
Hatinya sedih karena wasiat Bu Warni tidak bisa dia jalankan. Saudaranya sangat serakah dan mulai sibuk berbagi warisan.
Mereka mulai menghitung dan berebut untuk bagian yang paling banyak. Semua mengaku saudara dan pernah dekat dengannya selama masa hidupnya. Mila sedih melihat pemandangan itu. Bahkan saat tanahnya masih merah, tidak ada yang peduli. Dan hanya peduli pada tanah warisannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
neng ade
serakah banget sih .. cuma mikir warisan .. wkt msh hidup ga ada yg peduli..
2023-06-08
0