Malam ini, Mila tidak bisa tidur. Angin berhembus sangat kencang. Deru suaranya bising memekakkan telinga. Buku kuduknya berdiri dan membuatnya merinding.
Mila berjalan dan menutup jendela yang masih terbuka. Tirainya terbang seakan angin mengamuk dalam dinginnya malam.
Mila menatap pepohonan diluar rumah bergerak dalam remang-remang cahaya rembulan.
"Tidak biasanya malam terasa sunyi seperti ini? Apa yang akan terjadi?" kata Mila berbicara lirih.
Tiba-tiba dia melihat bayangan hitam dalam hujan yang baru saja mengguyur berjalan ke arah rumahnya.
"Siapa?" tanya Mila dari dalam rumah ketakutan.
Bayangan hitam itu sepertinya berdiri di teras rumahnya.
"Apakah itu hantu?" Mila merinding lalu mengintip dari jendela ruang tamu.
Bayangan hitam itu malah berbalik, dan dengan gesit Mila menutup tirainya dan membalikkan badannya bersandar pada tembok sambil mengelus dadanya.
Tok! tok! tok!
Bayangan hitam itu mengetuk pintu rumah Mila.
Mila mendiamkannya. Dia tidak berani membuka pintunya karena dirumah sendiri an.
Tok tok tok!
Ketukan pintu kembali terdengar.
Mila meringis. "Jika dia hantu, mana mungkin mengetuk pintu. Kenapa tidak langsung masuk saja menembus pintunya. Kan hantu," kata Mila lirih.
"Apa ada orang? Saya kehujanan. Saya Frans, sepupu Alex," setelah mendengar jika dia ternyata masih ada hubungan saudara dengan Mbah Karti, maka Mila tidak takut lagi.
Mila berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Silakan masuk,"
"Bisa saya minta air hangat? Saya tidak tahan cuaca dingin," kata Frans.
"Ya, biar saya ambilkan. Silakan duduk dulu," sahut Mila berjalan kedapur.
Mila datang dengan nampan berisi air hangat dan teh manis hangat.
"Silakan diminum,"
Glek, glek.
"Terimakasih," kata Frans setelah menenggak minuman itu hingga habis.
"Saya ada payung, silakan pakai payung saya jika mau kerumah Mbah Karti," kata Mila memberikan payung.
Bagaimana pun menerima tamu dimalam hari bagi seorang wanita sangat riskan dan bisa melanggar norma masyarakat.
"Baik, terimakasih, oh ya, aku Frans Malik. Aku adik dari Alek Malik. Aku baru pulang dari Jepang,"
"Ya, Bu Warni kadang bercerita tentang dirimu," kata Mila.
"Besok akan saya kembalikan. Sekarang saya permisi dulu," kata Frans berjalan kepintu.
Mila segera menutup pintunya begitu Frans sudah pergi.
"Bahkan dia jauh-jauh datang dari Jepang untuk meminta jatah warisan. Memalukan. Wajahnya begitu tampan, tapi ternyata juga haus akan warisan, orang jaman sekarang, memang tidak bisa ditebak," Mila ngoceh sendirian sambil berjalan ke kamarnya.
Pak Wito, malam ini pulang larut malam dan melewati kuburan.
Lamat-lamat saat motornya pelan karena hujan terdengar suara Isak tangis di kuburan.
Pak Wito pun jadi merinding. Dia segera melajukan motornya dengan sangat cepat. Tapi naas, bukannya melaju kencang, motor itu malah mogok. Pak Wito pun semakin ketakutan dan perasaanya tidak enak.
"Malah mogok. Mana hujan lagi," keluh Pak Wito sambil mengamati motornya.
Suara tangisan itu sayup-sayup hilang dan beberapa saat lagi terdengar kembali. Dan suara itu berasal dari kuburan keluarga Mbah Karti.
Pak Wito pun meninggalkan motornya disana dan berlari kerumah karena tidak tahan lagi mendengar suaranya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pak Wito mengambil motornya yang dia tinggal dan dalam keadaan terkunci.
"Benar dugaanku. Suara tadi malam dari arah sana," kata Pak Wito sambil memanaskan motornya.
"Nah, sekarang mau hidup. Kenapa tadi malam malah mati?" gumam Pak Wito menggelengkan kepalanya.
"Ah, aku dikerjain ini," pak Wito lalu pergi dari tempat itu dan menceritakan kejadian itu pada tetangga di desanya.
Merekapun mengaitkan suara tangisan itu dengan warisan yang di buat rebutan.
Juga karena Mila tidak mendapatkan hak apapun. Padahal saat Bu Warni masih hidup berpesan agar Mila yang menempati rumahnya karena jasanya dan kesetiaan nya pada Bu Warni.
Namun, ternyata Mila disepelekan oleh para saudaranya. Tidak diberi apapun seperti keinginan mendiang yang sudah tiada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
neng ade
Semoga pak Wito bisa membantu masalah ini .. kasihan juga arwah bu Warni dan juga Mila
2023-06-08
0