Setelah menandatanganinya dan menjadi saksinya, pak Jayan keluar dan menunggu pak Kusni yang baru saja membeli tanah.
Pak Jayan duduk diatas motornya, melihat Pak Kusni keluar, maka Pak Jayan segera melompat turun dan akan menemuinya.
"Pak, pak Kusni!" panggil pak Jayan lalu mendekat.
"Bisa mampir kerumah saya? Saya juga mau menjual tanah," bisik pak Jayan pelan.
"Oh ya, bisa pak, kebetulan saya memang mau berinvestasi tanah. Jadi saya lagi butuh tanah yang banyak untuk saya beli,"
"Wah, kebetulan kalau begitu pak, mari ke rumah saya," ajak Pak Jayan.
Istri Pak Jayan kaget saat Pak Kusni dayang kerumahnya. Bu Jayan sedang terlilit hutang banyak dan tidak tahu jika suaminya akan menjual tanah.
"Gini pak, saya mau menjual tanah di desa Papringan. Ini suratnya," kata Pak Jayan dan membuat Bu Jayan kaget.
Kapan suamiku punya tanah di desa Papringan? Kok aku tidak tahu, gumam istrinya dalam hati.
"Kira-kira bapak mau beli berapa?" tanya Pak Jayan.
"Untuk daerah sana dan luas tanah ini, saya beli tujuh ratus juta," kata Pak Kusni.
"Tidak bisa di naikin lagi pak?" kata pak Jayan.
"Ya segitu kalau bapak mau," kata Pak Kusni melihat surat lembar demi lembar.
"Ya sudah pak. Saya mau jual," Pak Jayan senang sementara istrinya matanya melebar karena kaget.
Pak Kusni lalu pamitan pulang. Bu Jayan segera menutup pintu rapat agar tidak ada tetangga yang dengar.
Berjalan mendekati suaminya.
"Pak, kok ibu tidak tahu jika Pak Jayan punya tanah seluas itu?" tanya istrinya penasaran.
"Ohh itu, sudah Bu, yang penting kita jual. Ibu jangan banyak tanya, ibu senang kan, kalau bapak punya uang banyak," kata Pak Jayan mengambil kalkulator.
Dia mulai menghitung-hitung uangnya yang akan dia terima.
"Ya, ibu senang. Ibu bisa lunasi utang. Tapi ibu kaget saja. Kok selama ini bapak tidak berterus terang kalau punya tanah seluas itu. Padahal kepala ibu hampir pecah mikirin hutang dan bingung cara bayarnya,"
Ditempat lain, Mila bertemu dengan Pak Wito dijalan. Pak Wito lalu menceritakan apa yang dia alami semalam.
"Bapak sudah ceritakan hal itu pada keluarganya, tapi mereka tidak percaya Mila, mereka tetap menjual semua tanah milik Mbah Karti," ucap Pak Wito curhat ke Mila.
"Saya juga yakin, pak, jika apa yang saya dan bapak alami ada sangkut pautnya sama tanah Mbah Karti yang dijual sama Alex," kata Mila sedih.
"Gimana ya pak, kita kan bukan bagian dari keluarganya. Jika ikut campur, maka dianggap salah. Tapi Mbah Karti minta tolong agar kita membantunya," Mila seperti putus asa.
"Ya karena kita orang lain, mereka tetap lebih berhak Mila. Kecuali, kamu menjadi bagian dari keluarganya. Jadi kamu bisa menyelamatkan harta Mbah Karti,"
"Maksud pak Wito?"
"Ya, kamu menikah sama salah satu keluarganya. Jadi jika sudah menjadi anggota keluarga, maka bisa memberikan nasihat dan peringatan pada mereka,"
Mila berfikir sejenak.
"Hanya itu caranya Mila, jika kau peduli pada Mbah Karti," kata Pak Wito lalu pulang kerumahnya.
"Menikah? Dengan salah satu keluarga mereka? Tidak! Aku benar-benar benci dan sakit hati pada mereka,"
Puk!
Tiba-tiba bahunya di teluk oleh seseorang dari belakang.
"Kok bengong dijalan," kata suara itu. Mila tahu betul itu suara siapa?
"Frans. Kamu bikin aku kaget,"
"Aku punya jalan keluar dari masalahmu,"
"Kamu nguping pembicaraan kami"
"Aku tidak sengaja mendengarnya. Ayo kita menikah....jadilah istriku," ucap Frans menatapnya intens dan lekat. Sangat serius dengan nada suaranya. Tidak ada gurauan apalagi candaan.
Mila terpaku mendengarnya. Kaget dan Shock.
Tidak menduga Frans akan seberani itu melamarnya dan mengajaknya menikah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
neng ade
ya Mila menikahkan dngn Frans.. dngn cara itu harta mbah Kartu bisa diselamatkan
2023-06-08
0
Siti Lestari
semangat ya kak
2022-11-07
0