Bab 4 Rumah untuk Mila

Selang satu jam setelah mati dirinya, tiba-tiba Murni pingsan kembali. Dan Mbah Karti mendekatinya untuk memeriksa keadaannya.

"Murni....." Mbah Karti memegang pergelangan tangan Murni.

"Gimana Mbah?" tanya seorang tetangganya yang datang untuk melihat lagi keadaan Murni.

"Sudah tidak ada...." kata Mbah Karti sambil menggelengkan kepalanya dan kedua matanya menangis karena apa yang baru saja terjadi.

Murni awalnya dinyatakan meninggal, namun tiba-tiba bangun lagi, dan setelah itu satu jam setelahnya dia pingsan, lalu meninggal.

"Ibu sudah ikhlas Murni...." kata Mbah Karti berbisik di telinga putrinya.

Tetangga berdatangan kembali dan merawat jenazah Murni.

Murni lalu di makamkan dimakan keluarga didekat ayahnya.

Mbah Karti dirumah sendirian. Dan tiba-tiba Warni datang dari kota.

"Kamu terlambat....Murni sudah dimakamkan...." kata Mbah Karti.

"Saya mau ke kuburannya jika begitu..." kata Warni anaknya yang besar.

Warni lalu pergi ke kuburan Murni. Dan disana menangis serta mendoakan adiknya.

Warni sangat sedih karena dia terlambat datang. Dia baru saja pulang dari luar negeri. Dan berada didalam pesawat.

Malam harinya,

Warni dan Mbah Karti sedang duduk bersama diruang tamu.

"Bu, kok bisa sampai seperti ini bagaimana kejadiannya?" tanya Warni pada ibunya.

"Ibu juga tidak tahu Warni, ibu sudah membawanya ke orang pintar. Dan dia juga sudah sembuh. Tapi tiba-tiba, dia seperti orang kesurupan kembali. Dan kali ini, sampai menemui ajalnya,"

"Usianya masih sangat muda, tapi harus meninggal dengan cara seperti ini. Warni sangat sedih Bu,"

"Ibu juga sedih Warni. Tapi ini memang sudah ginaris. Sudah takdir. Biar Adikmu tenang disana, sudah jangan di bicarakan lagi," Mbah Karti lalu pergi kekamarnya.

Warni juga pergi kekamarnya untuk istirahat malam ini.

Beberapa tahun kemudian....

Mbah Karti sakit keras dan Warni tidak tinggal di kota lagi.

Warni memutuskan untuk mengajar di desanya. Kebetulan ada sekolah dan setelah melamar, dia diterima bekerja karena pengalaman yang sudah dimiliki.

Semakin hari, penyakit Mbah Karti semakin parah. Sampai akhirnya, Mbah Karti pun meninggal dunia.

Sekarang Warni tinggal seorang diri dan hanya bersama Mila tetangganya.

Rumah besarnya menjadi semakin sepi. Untunglah ada Mila yang tetangganya yang setia bekerja denganya dan menemaninya dua puluh empat jam.

Mila adalah anak orang miskin dan punya saudara banyak. Karena dia miskin dan tidak bersekolah, maka dia memutuskan untuk bekerja pada Warni. Warni orangnya baik dan sayang pada Mila.

"Mila, kalau ada yang melamar, terima saja. Jangan seperti saya, tidak menikah," kata Warni.

"Belum ada yang sreg," jawab Mila polos.

"Oh ya Mila, surat-surat tanah milik ibu sudah kamu masukkan kedalam lemari kamar saya kan?"

"Sudah Bu..." Mila seakan tengah memikirkan sesuatu.

"Mikirin apa Mila?" rupanya hal itu diperhatikan oleh majikannya, Warni.

"Ehm, itu, mikirin tanah ibu kan banyak. Tapi semuanya tidak terurus. Sayang sekali...." ucap Mila membayangkan jika dia yang punya tanah sebanyak itu, maka dia akan memanfaatkannya.

Warni lalu berfikir sejenak. Dia lalu tersenyum.

"Sebaiknya siapa yang bisa kita pasrahkan tanah itu ya Mila? Biar ditanam apa gitu kan dari pada penuh sama rumput,"

"Gimana kalau pak Wito saja Bu, nanti bagi hasil,"

"Ehm, ya sudah, besok aku akan mengatakan pada pak Wito. Sayang sekali, tanahnya sangat luas dan banyak tapi tidak dimanfaatkan,"

Keesokan harinya Warni menemui pak Wito. Pak Wito senang sekali karena akan di pasrahi semua tanah milik Mbah Karti oleh Warni.

"Nanti biar saya urus semua tanah itu mbak Warni," kata Pak Wito girang

"Mbak Warni tenang saja. Pokoknya tahunya beres. Nanti setiap panen biar saya bagi dua,"

"Iya pak, kalau begitu saya permisi," kata Warni lalu pamitan pulang.

Beberapa tahun kemudian, akhirnya semua tanah Warni digarap dan di kelola oleh Pak Wito.

Hingga bertahun-tahun lamanya. Sampai semua tetangganya juga di jadikan buruh tani untuk menggarap tanah milik Mbah Karti.

Sepuluh tahun kemudian....

Bu Warni sakit keras, dan ternyata setelah di periksa dia terkena sakit gula dan terpaksa kakinya di amputasi.

Selama di rumah sakit, Mila dengan setia menemaninya. Sampai akhirnya Bu Warni harus dibawa ke Jakarta untuk penanganan yang lebih baik.

Milapun dengan setia menemani Bu Warni. Dirumah, Mila juga sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Bu Warni.

"Ini siapa Bu," tanya seorang tetangganya yang lewat depan rumahnya saat Mila menemani Bu Warni yang makan sambil duduk dikursi roda.

"Ini anak saya," kata Bu Warni tiba-tiba membuat Mila terkejut sekaligus terharu.

"Untung ada kamu Mila. Saya tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Ada saudara, tapi pada jauh semua. Kamu dengan setia mengurus saya. Jika saya meninggal nanti, rumah saya yang di kampung untuk kamu saja..." kata Bu Warni.

"Jangan berkata begitu Bu, Ibu pasti berumur panjang, saya akan disini menemani ibu...." kata Mila mengusap air matanya yang menetes di pipinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!