Satu bulan Bu Warni meninggal. Semua saudaranya sering ngumpul dan hanya berbicara soal pembagian warisan. Mila yang melihat itu, semakin sedih.
Dan saat sedih, dia akan ke kuburan untuk nyekar dimakan majikanya juga keluarganya. Dia mendoakan agar mereka tenang disana.
Dan anehnya, tiba-tiba batu nisan yang awalnya lurus, menjadi miring semua. Milik Murni, Mbah Karti dan juga Bu Warni, semuanya miring. Dan saat akan dibetulkan setelah satu menit kemudian akan kembali miring.
Mila terkejut dan kaget pada apa yang di saksikanya.
Mila lalu pulang dan berbicara pada warga dikampung tentang hal yang dilihatnya.
"Saya sedih mbok, mereka tidak ada yang menghargai Bu Warni. Perjuangan Bu Warni membangun rumah dan membeli tanah. Sampai tidak menikah, giliran sudah meninggal mereka saling berebut warisan. Selama Bu Warni sehat, dan sakit, pada kemana saja? Tidak ada yang menjenguknya. Alasannya sibuk dan banyak urusan," kata Mila kesal dan menumpahkan unek-unek nya pada saudaranya.
"Iya ya Mil, mbok juga heran pada kelakuan saudaranya itu. Pada ngga punya perasaan," kata Mbok Darmi.
Sewaktu Mila sedang berbicara pada Mbok Darmi, tiba-tiba Sinta datang dan menatapnya dengan sinis.
"Mil, katanya Bu Warni punya tas branded ya. Itu harganya jutaan loh. Kamu simpan kan?" kata Sinta pada Mila.
"Ohh, itu sudah dikasihkan kesaya mbak. Pas beliau sakit, tasnya suruh saya yang pegang dan diserahkan ke saya," kata Mila heran sampai tas ya g sudah diberikan padanya saja harus diungkit oleh Sinta.
Dia cuma menantu, dan itupun dari keponakannya. Tapi lelaguanya sok, seakan dia yang punya.
"Mana, saya mau lihat," Mila lalu mengambil tas itu dan memperlihatkan ya pada Sinta.
"Ini tasnya mbak," kata Mila yang memang belum membuka apa saja isi tas yang diberikan oleh Bu Warni.
Shinta dengan cepat melihat tas itu dan memeriksa isinya.
Saat memeriksa dia menemukan dompet kecil. Dia lalu membukanya dan terkejut saat melihat isinya. Ada cincin berlian didalamnya.
"Ini punya kamu Mil?" tanya Sinta memperlihatkan cincin itu.
"Itu punya Bu Warni,"
"Ohh, kalau gitu kenapa tidak kamu kembalikan? Kamu mau maling ya?" teriak Sinta dan segera memasukkan cincin itu kedalam tasnya.
"Mbak, itu diserahkan kesaya, bukannya saya maling," kata Mila membela diri.
"Ah, kamu banyak alasan. Bu Warni juga sudah tiada. Bagaimana saya tahu jika dia memberikanya atau tidak," kata Sinta menatap Mila dengan tajam dan bengis.
"Mbak mau bawa kemana tas itu?" tanya Mila saat Sinta memakainya hendak pergi.
"Ini milik Bu Warni. Kamu kan cuma kerja dan digaji. Kamu tidak berhak dengan harta peninggalannya. Itu untuk kami saudaranya," kata Sinta akan membawa pergi tas itu.
"Jangan Mbak. Itu milik saya. Bu Warni sendiri sudah berpesan agar saya yang menyimpannya. Jangan diambil mbak, kasihan Bu Warni, nanti tidak tenang disana," kata Mila sedih melihat kelakuan Sinta.
"Sudahlah. Kamu sok tahu. Ini akan saya bawa pulang. Kalau kamu maksa, nanti saya laporkan kamu pada pihak berwajib. Kalau kamu sudah mencuri barang milik majikannya," kata Sinta dengan mata melotot dan bibir sadis.
"Ya sudah mbak, bawa saja jika mbak mau. Tapi yang jelas, saya bukan pencuri. Saya bekerja pada Bu Warni puluhan tahun. Dan saya tahu siapa yang pencuri dan siapa yang bukan,"
Kata Mila merasa risih dengan sikap semua saudaranya yang haus akan harta warisan.
"Jika ada lagi yang kamu simpan, kamu bilang ke saya ya, jangan sampai kamu miliki sendiri. Kamu cuma bekerja kok sok," kata Sinta lalu pergi melenggang meninggalkan kediaman Mila.
Mila terduduk mengisap air matanya disamping Mbok Darmi yang sejak tadi hanya diam saja melihat tingkah polah semua saudara Mbah Karti.
"Sudah Mil, jangan disesali,"
"Mila ngga papa jika tas sama cincin itu diambil. Tapi, Mila sedih, karena selama hidupnya mereka tidak peduli, dan setelah beliau tiada, mereka menyerakahi Hata peninggalannya,"
"Mbok juga heran sama mereka. Sepertinya sudah buta mata hatinya. Matanya sudah silau sama harta dunia. Padahal kalau mati tidak dibawa. Apalagi harta warisan, itu sangat sakral," ujar Mbok Darmi.
Sampai dirumah Mbah Karti, Sinta langsung masuk kamar dan menemui suaminya.
"Lex, lihat yang aku bawa. Cincin berlian...." kata Sinta sambil berputar memakai tas dan cincin berlian didepan suaminya.
Suaminya takjub.
"Darimana kamu mendapatkan semua itu ma?" tanya Alex yang sedang menghitung uang di brangkas milik Mbah Karti dan Warni.
"Dari pembantu itu. Dia maling pa. Masak, katanya tas sama cincin mewah kaya gini dikasihkan ke pembantu. Mana ada bos sebaik itu. Itu hanya cerita karangannya dia saja. Emang dasarnya dia mau maling. Untung mama tahu lebih cepat, jadi mama ambil kembali saja," kata Sinta lalu duduk disamping suaminya.
Matanya hijau melihat uang bendelan sangat banyak yang sedang di hitung suaminya satu per satu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
neng ade
kualat tuh si Sinta .. ntar juga dia dpt akibat nya
2023-06-08
0