Dinda terus menggerutu, dengan ulah Raja yang tiba-tiba menciumnya. Namun kemarahannya segera terhenti saat mendapat telepon dari Robert kalau Rasya mengamuk.
"Baik kak, aku akan segera datang. Tolong bujuk Rasya sampai aku sampai sana." ucap Dinda dan segera mematikan ponselnya, Dinda segera mengambil tasnya dan meminta sopir mengantarkannya, Namun Raja segera mencegah pak sopir dan mengganti dirinya yang membawa mobil.
"Apa yang kamu lakukan? cepat keluar, aku sedang buru-buru menemui Rasya." ucap Dinda.
"Aku akan mengantarkan kamu, Mungkin aku bisa membantu menenangkannya." ucap Raja. Dengan terpaksa Dinda pun menyetujuinya karena tak punya pilihan lain.
"Ada apa dengan Rasya? dan kita mau kemana?" tanya Raja membuka pembicaraan setelah beberapa menit dalam keheningan.
"Rasya mengamuk, mungkin dia bosan dan kak Robert tidak paham itu. Kita ke kantornya kak Robert."
"Kasian Rasya, masih kecil tapi sudah punya tanggung jawab yang besar. Mereka semua egois, hanya Karena melindungi aset, mereka mengorbankan cucunya."
"Apa kamu juga tau semua tentang ini?"
"Tentu saja aku tau semuanya, keluarga mu dan keluarga ku mereka memiliki kesempatan untuk menyerahkan beberapa aset saham kepada cucunya, agar tetap aman dari mereka yang ingin menguasai."
"Jika Raja sudah tau semuanya, apa dia juga tau kalau seharusnya dia yang menikah denganku bukan mas Sultan? Ah tidak, aku tidak boleh berfikir jauh kesana, entah dia tau atau tidak, yang jelas aku menikah dengan mas Sultan bukan dengannya." Gumam Dinda.
Mereka pun akhirnya sampai di perusahaan dan bergegas untuk menemui Rasya yang sudah membuat heboh seisi kantor.
"Rasya apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Dinda saat melihat ruangan Robert berantakan. Rasya segera memeluk Dinda yang masih shock dengan ulah Rasya.
"Maafkan aku Dinda, ini semua salahku. Seharusnya aku paham dengan maksud Rasya dan tak memaksanya untuk lanjut."Ucap Robert mencoba menjalankan.
"Jangan marahi dia, wajar kalau dia melakukan itu, namanya juga anak-anak." imbuh Robert.
Dinda berjongkok dan menyetarakan tubuhnya dengan Rasya yang saat baru selesai meluapkan emosinya.
"Rasya apa yang sudah kamu lakukan? Mama sudah mengajari kamu cara bersikap yang baik, tapi kenapa kamu malah mengecewakan mama. Mama sudah menuruti semua kemauan mu tapi kenapa kamu tidak mau menuruti kata-kata mama." ucap Dinda dengan lembut agar Rasya paham dengan maksudnya.
"Maafkan Rasya ma, Rasya cuma bosan di sini Rasya mau sama mama, tapi paman gak mau mengantarkan Rasya bertemu mama " Jelas Rasya. Dinda mengusap pucuk rambut Rasya. Saat ingin lanjut menasehati putranya itu, Rasya lebih dulu berteriak memanggil papa, Seketika hati Dinda begitu sakit, mendengar anaknya memanggil orang lain dengan panggilan papa.
Dinda hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya, namun ia harus segera kembali tersenyum.
Dinda benar-benar tak tau harus bagaimana untuk menjelaskan tentang laki-laki yang di anggapnya sebagai papa, karena Dinda tak punya bukti untuk menunjukkan kepada Rasya kalau papanya kembar. Sedangkan Raja bersikap seolah -olah dirinya memang papanya untuk meyakinkan Rasya, membuat Dinda akan sulit untuk memisahkan mereka.
Dinda benar-benar menyesal kenapa tidak menceritakan semuanya dari awal, jika sudah begini, bisa menjadi kesempatan Raja untuk bisa mendekati dirinya terus menerus.
"Mama ayo kita pulang!" Ajak Rasya.
"I-iya sayang, kamu duluan, mama mau bicara dengan pamanmu sebentar." jawab Dinda.
"Oke ma, Rasya duluan sama papa ya."
"Aku tunggu di parkiran." ucap Raja sebelum pergi bersama dengan Rasya.
Dinda menghampiri kakaknya, "Kakak bisa lihat kan, bagaimana cara Raja mendekati Rasya. Apa yang harus aku lakukan kak, dia mendesak ku untuk menjalankan amanat dari mas Sultan, untuk menikah dengannya. Tapi aku tidak siap dan tidak bisa hidup di bawah bayang-bayang mas Sultan yang ada dalam diri Raja. Tapi aku juga tidak bisa mengecewakan Rasya yang sudah bahagia bisa bersama laki-laki yang dia kira papanya. Aku juga tidak bisa menyalahkan Raja yang melakukan itu karena dia hanya ingin menjalankan amanat dari kakaknya untuk menjaga Rasya. " jelas Dinda.
"Kakak tau perasaanmu. Ikuti kata hatimu, apapun keputusanmu kakak akan mendukung. Tapi kalau boleh kakak sarankan, lebih baik kamu coba dulu berdamai dengan keadaan dan belajar menerima Raja berada di dekatmu. Kamu juga masih ingat kan kalau sebenarnya yang seharusnya menikah denganmu itu Raja bukan Sultan. Siapa tau ini memang takdir kalian untuk bersama." ucap Robert.
"Terimakasih kak, atas sarannya. Aku akan mencobanya, tapi aku tidak akan memaksa jika memang aku tidak bisa." jawab Dinda. Sebelum pamit pulang.
To Be continued ☺️☺️☺️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
Dinda dilema
2022-11-29
0
Kurniaty
Dinda selalu harus memilih diantara dua pilihan.
Sukses thoor & lanjut
2022-11-23
0