Part 12 pesan terakhir

Saat terbangun, Dinda menyadari suaminya sudah tidak bergerak lagi, bahkan tubuhnya sudah dingin dan kaku. Dinda takut terjadi sesuatu pada suaminya.

Dinda langsung berteriak kepada papa mertuanya dan juga adik iparnya. Teriakan itu membuat seluruh penghuni rumah bergegas menghampiri kamar Dinda.

"Pa, Mas Sultan kenapa pa, dia tidak mau bangun. A-aku sudah berusaha membangunkannya tapi tetap tidak mau bangun," ucap Dinda ketakutan. Mahendra hanya bisa menenangkan, sampai sang perawat menggelengkan kepala. Menyatakan jika Sultan sudah tiada.

"Sultan." Ucap Mahendra tak kuasa menahan air matanya saat mengetahui jika Sultan telah pergi.

"Kak Sultan." Pangeran segera menghambur dalam pelukan kakaknya yang sudah terbujur kaku di ranjang.

"Kakak, kenapa kakak pergi secepat ini. Kakak bilang sama aku kalau kakak akan merasakan ulang tahunku bersama, kenapa kakak malah pergi. Bangun kak." Pangeran pun berusaha membangunkan Sultan namun tidak bisa.

Dinda yang baru menyadari jika suaminya telah tiada, tak bisa berkata apa-apa. Dia benar-benar syok dan tak percaya jika suaminya pergi secepat itu, bahkan belum sempat melihat anaknya lahir. Hingga akhirnya Dinda pun jatuh pingsan.

****

Saat terbangun, Dinda menyadari dirinya berada di rumah sakit dan tak tau sudah berapa lama dia pingsan. Dinda pun ingat dengan suaminya dan bergegas ingin turun dan menemui semuanya, namun apa yang dilakukan Dinda di ketahui Suster dan suster tersebut berusaha menahan dan menenangkan Dinda.

"Lepaskan aku sus, aku ingin menemuinya suamiku, dia sendirian sus dia menungguku." pekik Dinda dan terus memberontak.

Sampai akhirnya Robert datang untuk menenangkan adiknya.

"Tenang Dinda, tenanglah. Suamimu sudah tenang, dia sudah tidak merasakan sakit lagi. Ikhlaskan dia Din. biarkan di tenang." ungkap Robert.

"Tidak kak, suamiku belum mati, dia berjanji akan menunggu anaknya, dia berjanji tidak akan meninggalkan aku. Kenapa sekarang dia ingkar kak, kenapa Mas Sultan ninggalin aku, kenapa?"

"Kak, tolong lepaskan aku, aku ingin marah padanya, aku ingin memukulnya. Karena dia sudah mengingkari janji. hiks... hiks..." Robert pun hanya bisa memeluknya dan menenangkan adiknya.

"Baiklah, kakak akan membawamu menemuinya. Agar kamu bisa melampiaskannya."

Akhirnya Robert pun membawa Dinda di salah satu makam, dimana nisan itu tertulis dengan jelas nama Sultan dan tanah yang menutup tubuhnya pun masih basah.

"Suamimu sudah tenang di sini. Rasa sakit yang di deritanya sudah berakhir. Biarkan dia beristirahat dengan tenang, Lupakan semua janjinya, Mungkin hanya janji yang bisa memberikan, agar kamu melupakan jika dia dalam keadaan sekarat."

Dinda terduduk di samping batu nisan suaminya, ia pun pemeluk dan mencium nisannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Kerena tak sempat untuk mencium suaminya untuk terakhir kalinya. Ternyata Dinda sudah pingsan selama dua hari, dan itu membuat Mahendra memakamkan putranya tanpa kehadiran Dinda. dan kini Dinda hanya bisa melihat suaminya yang sudah terkubur dengan tanah.

"Mas, kenapa kamu pergi secepat ini, Kenapa kamu tidak menunggu sampai anak kita lahir, aku kamu tak ingin melihat wajahnya? Apa kamu tidak ingin melihat anakmu menggegam jemari mu? Kamu jahat mas, kamu jahat mas, kamu benar-benar jahat. Ninggalin aku sendirian, hiks...hiks..." ungkap Dinda tak kuasa menahan kesedihannya.

Setelah puas, meluapkan semua perasaannya pada suaminya, Dinda pun meminta untuk di antarkan kembali ke rumah suaminya.

"Apa kamu baik-baik saja? jika kamu belum siap, Kamu tinggal saja di hotel, kakak akan menemanimu." tanya Robert yang kuatir dengan kondisi adiknya jika kembali ke rumah Sultan dan mengenang semuanya.

"Aku baik-baik saja." jawab singkat Dinda lalu segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam mansion. Robert tak bisa mencegah, ia hanya dapat berpesan untuk menghubungi dirinya jika sewaktu-waktu.

Dinda segera masuk ke dalam rumah, dan mendapati mertua dan adik iparnya yang sedang termenung, kerena berduka.

"Pa," Panggil Dinda dan mengejutkan Mahendra.

"Dinda, kamu sudah pulang." Ucap Mahendra.

"Iya." Namun dinda segera masuk ke dalam kamar, Saat membuka pintu yang dia lihat bayangan suaminya saat masih hidup yang tengah terbaring menunggu dirinya. Dinda pun langsung banjir Ari mata, saat laki-laki yang sepanjang hari hanya merebahkan tubuhnya di ranjang kini sudah tiada lagi. Bayangkan, saat awal-awal pernikahan hingga suaminya tak mampu lagi bergerak, terus saja melintas di depan Dinda.

Dinda pun duduk di sisi ranjang, tempat suaminya merebahkan tubuhnya, dan mengusap bantal yang selalu di gunakan untuk merebahkan kepalanya. Dinda pun mengambilnya dan memeluknya, Tangisnya pun pecah kembali, ia belum bisa melepaskan suaminya pergi untuk selamanya.

Setelah puas menangis, Dinda pun ingat dengan pesan suaminya, jika meninggal untuk membuka brankas yang ada di ruang kerjanya.

Dinda pun melangkahkan kaki menuju ruang kerja suaminya dan ia pun mencari brankas yang di maksud suaminya.

Setelah cukup lama mencari, akhirnya Dinda pun mendapatkannya, dan ternyata di sana sudah tersimpan beberapa dokumen dan juga sebuah amplop putih yang berisi kertas dengan tulisan tangan.

Dinda pun lebih dulu membukanya, karena rasa penasaran itu.

Untuk istriku sayang,

Aku tulis ini semuanya, setelah pernikahan kita, Aku segera menuliskannya karena mungkin setelah ini aku tidak akan bisa memegang pena lagi.

Terimakasih karena kamu sudah mau menerimaku sebagai suamimu.

Terimakasih sudah mau menjadi istri pertama dan terakhirku.

Sayang, mungkin kamu akan membaca tulisanku ini setelah aku tiada. Dan saat itu pasti kamu sedang menitikkan air mata.

He... He... maaf jika aku membuatmu menangis.

Sebenarnya, aku menikahi mu karena aku ingin memiliki keturunan yang terlahir dari rahmi mu. Sebelumnya, aku mendengar bayi yang lahir dari rahimmu akan menjadi pewaris dari kekayaan yang sudah di siapkan. Karena kabar itu, aku pun memaksa papa untuk menikahkan denganmu, dengan harapan kelak jika aku mati, aku memiliki penerus yang luar biasa yang bisa aku tinggalkan.

Maaf jika aku tidak jujur padamu dari awal. Karena aku tidak ingin melihatmu marah.

Oya aku juga sudah menyiapkan nama depan untuk anak kita nanti jika kamu hamil, jika dia laki-laki kasih nama dia Rasya dan kalau dia perempuan tolong kasih nama Tasya. Namanya indah kan, nama itu aku siapkan dengan banyak pertimbangan.

Dan satu lagi. Aku juga sudah siapkan warisan untuk anakku, semuanya sudah ada dalam dokumen, untuk penjelasannya nanti, pengacara yang sudah aku tunjuk untuk menjelaskannya.

Ah, tenyata menulis sedikit saja tanganku sudah lelah dan tak sanggup untuk melanjutkannya.

Sebelum aku berhenti menulis, aku cuma bilang kalau aku mencintaimu. Dan terimakasih sudah menjagaku di sisa hidupku. Setelah aku mati, lanjutkan hidupmu sesuai keinginanmu.

^^^Salam sayang dari suamimu^^^

...SULTAN...

Setelah membacanya, Dinda pun memeluk kertas tersebut, peninggalan suaminya yang terakhir.

To Be Continued ☺️☺️☺️

Terpopuler

Comments

Umine LulubagirAwi

Umine LulubagirAwi

pagi2 bacanya bawang sekali. 😭🤧🤧
semngt mlnjutkn hidup, Dinda.
masih ada mertua dan kakakmu

2022-10-28

0

Kurniaty

Kurniaty

Akankah raja jadi pengganti yang tepat buat Dinda & anaknya kelak
Sukses thoor & lanjut.

2022-10-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!