Usia pernikahan Dinda dan sultan sudah beranjak tiga bulan namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda kehamilan yang dirasakan Dinda. Walau begitu, Sultan tak mempermasalahkan hal itu. Dia masih tetap memperlakukan Dinda sebagai istri kesayangan.
Setiap pagi Sultan selalu melakukan aktivitas yang sama untuk membangunkan Dinda, menyisir rambut istrinya,dan saat makan pun kadang Sultan selalu menyuapi Dinda. Sultan pun tak mengizinkan Dinda untuk membantu di dapur.
"Mas, seharusnya aku yang mengurus dan melayani mas bukan malah sebaliknya." Protes Dinda, saat Sultan sibuk menyisir rambut Dinda.
"Selama aku masih bisa melakukannya, akan aku lakukan, mungkin suatu hari nanti kamulah yang akan merawat Aku saat aku sudah tidak berdaya." Ucap Sultan sambil memainkan rambut istrinya yang sangat ia sukai.
"Aku janji, akan jadi istri yang baik."
Sultan pun hanya tersenyum, dan Dinda dapat melihatnya dari cermin yang ada di hadapannya.
******
Hari ke hari kesehatan Sultan terus menurut, berat badan pun turun drastis, Bahkan rambutnya terus luruh dan mampir habis. Setiap pagi Dinda selalu melihat suaminya mual dan muntah, namun Sultan tetap bersikeras tidak ingin berobat ke rumah sakit.
Malam itu mas Sultan mual dan muntah-muntah di kamar mandi, Dinda pun menghampiri dan gosok-gosok punggung nya agar lebih baikkan.
"Mas, muntah lagi kita ke rumah sakit ya, kita periksa biar tahu penyakit mas apa."ajak Dinda yang semakin yakin jika suaminya mengidap penyakit yang serius.
"Gak usah sayang mungkin mas masuk angin saja," tolak Sultan.
"Sayang bisakah, buatkan aku minuman yang hangat." pinta Sultan setelah keluar dari kamar mandi.
"Iya mas akan aku buatkan, ayo mas istirahat dulu di ranjang." Dinda pun memapah Sultan untuk istirahat dan ia pun segera turun ke dapur untuk membuatkan minuman hangat.
Namun perasaan Dinda sudah tidak enak dengan kondisi suaminya. Dinda pun memutuskan untuk datang menghampiri kamar papanya untuk bicara.
Tok..
Tok...
"Papa bisakah Dinda bicara sebentar." ucap Dinda di balik pintu.
"Ada apa Dinda malam-malam ke kamar papa," tanya Mahendra saat membuka pintu.
"Pa, tolong bujuk mas Sultan untuk periksa ke dokter. Akhir-akhir ini aku sering melihat mas Sultan muntah-muntah. Aku takut terjadi apa-apa dengan mas Sultan dan baruan mas Sultan muntah lagi." Jelas Dinda cemas.
"Baiklah papa akan menemui Sultan." Mahendra pun pergi ke kamar untuk menemui Sultan dan Dinda pun membuntuti dibelakang.
"Sultan, kita ke rumah sakit ya, lihatlah dirimu terlihat sangat pucat." ajak Mahendra.
"Tidak pa, aku baik-baik saja. jangan khawatirkan aku." jawab Sultan dengan lemah karena tenaganya yang habis terkuras.
"Tapi nak-" belum sempat Mahendra melanjutkan ucapannya Sultan sudah menggelengkan kepalanya.
"Baiklah papa tidak akan memaksa lagi. Dinda jaga suamimu, jika ada apa-apa cepat panggil papa. Papa keluar dulu." Mahendra pun keluar kamar.
"Iya pa." sahut Dinda.
******
Keesokan harinya, Sultan tidak membangun istrinya, tidak seperti biasanya, Sultan masih terlelap dalam tidurnya.
Dinda pun terbangun, tapi pagi nya terasa hampa. Biasa suaminya yang membangunkan dirinya tapi sekarang suaminya masih terlelap tertidur.
"Kenapa mas, membuat ku bergantung, disaat sekarang kamu sedang sakit, hariku seakan hampa, sapa dan senyummu mulai menghilang, aku terasa ada yang kurang mas." gumam Dinda air matanya lolos begitu saja.tak dapat ku bendung.
Saat Dinda hendak pergi ke kamar mandi gejolak di perutnya mulai melanda, Dinda mulai merasa mual, dengan segera pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perut.
"Kenapa akhir-akhir ini aku sering mengalami mual. Apa mungkin penyakit lambung ku kambuh?" tanya Dinda dalam hati.
Tanpa di sadari menyadari ternyata Sultan sudah berdiri di belakang Dinda, membuat Dinda terkesiap saat punggungnya di sentuh.
"Ada apa sayang, apa kamu sakit?" tanya Sultan.
"Aku gak papa mas, kenapa mas disini seharusnya mas tetap istirahat di ranjang." jawab Dinda lalu menegur suaminya.
"Aku tadi, mendengar mual-mual di kamar mandi, aku bangun karena aku takut istri ku kenapa-kenapa." jawabnya.
"Aku tidak papa mas."
Saat akan keluar tiba-tiba Sultan pingsan tepat di hadapan Dinda dan untungnya Dinda berhasil menahan tubuhnya hingga tidak terjatuh ke lantai.
Dengan segera Dinda pun teriak memanggil Mahendra.
"Papa... papa... tolong mas Sultan pa.." Teriak Dinda sdengan sekuat tenaga.
"Mas, bangun mas jangan buatku takut cepat bangun." Dinda pun menggoyang tubuh suaminya dan berharap dia sadar.
Tak lama kemudian, Mahendra dan pangeran yang sudah kembali dari Jepang menghampiri dan langsung memanggil ambulan untuk membawa Sultan ke rumah sakit.
Suara sirine ambulan pun berbunyi, Dan Dinda pun ikut serta mendampingi Sultan ,air matanya tak hentinya mengalir dan tetap memang erat tangan Sultan, pikiran Dinda saat itu menjadi kacau takut terjadi sesuatu pada suaminya.
Sesampainya di rumah sakit Sultan langsung dilarikan ke ruang ICU.
Dinda hanya bisa menunggu diluar hingga Mahendra dan Pangeran datang menyusul. Dinda pun langsung memeluk papa mertuanya dan menangis.
"Pa, Mas Sultan, pa." ucap Dinda masih menangis.
"Tenang sayang, Sultan pasti kuat."Mahendra pun tak kuasa menahan tangisnya melihat kondisi putranya.
"Pa, apa yang sebenarnya yang terjadi pada suamiku, kenapa mas Sultan gak pernah cerita tentang penyakitnya?" tanya Dinda.
"Maafkan papa nak, papa sudah berjanji dengan Sultan untuk merahasiakan penyakit nya padamu."jelas papa.
"Mas Sultan sakit apa pa, tolong katakan, Dinda mohon." rengek Dinda agar mertuanya mau jujur.
"Baiklah papa akan katakan, sebenarnya Sultan mengidap kanker darah. Sultan mengetahui penyakitnya itu pun sudah stadium tiga. Dokter memvonis persentase hidup Sultan sangat kecil, Sultan dapat bertahan hidup sekitar enam bulan sampai satu tahun. Mendengar vonis dokter, Sultan memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya untuk bersama orang yang disayanginya dan tidak mau melanjutkan pengobatannya. Katanya itu hanya sia-sia. Papa sudah membujuknya namun Sultan tetap menolak nya." Jelasnya
Mendengar penjelasan Mahendra, tubuh Dinda langsung lolos begitu saja, tak mampu menerima kenyataan, jika selama ini suaminya sedang berjalan melawan penyakitnya.
"Mas, andai mas bilang, aku akan menghiasi hari-harimu dengan kebahagian, andai mas bilang aku akan merawat mu, andai mas bilang-" Dinda tak dapat ku lanjutkan.
Dinda hanya bisa melihat suaminya dari di balik kaca- pintu ruang ICU yang tengah terbaring tak berdaya ditubuhnya banyak alat-alat medis untuk membantu Sultan bertahan.
Disisi lain Mahendra dan Pangeran sedang berbicara.
"Pa, aku sudah menghubungi kak Raja dan mama, mereka akan segera datang. Apapun yang terjadi mereka berhak tahu keadaan Kak Sultan saat ini." ucap pangeran.
"Iya nak, mereka berhak tahu."
Mahendra pun hanya bersandar di bangku dan sesekali menarik nafas panjang, mencoba untuk tidak menangis, pangeran mendampingi papanya, sedangkan Dinda tetap berdiri di pintu melihat tubuh suaminya.
"Kakak ipar istirahat lah, kakak sudah terlalu lama berdiri disini."ucap pengeran.
"Aku tak papa pengeran." Dinda pun memeluk pangeran dan menangis lagi.
"Sabar kak, Kakak harus kuat demi kak Sultan."
Sepanjang hari Dinda hanya bisa duduk menunggu, karena belum diizinkan untuk melihat suaminya sampai di pindahkan ke ruangan.
Dinda hanya dapat mengingat semua kebersamaan bersama suaminya, perhatian dan kasih sayang yang diberikan.
"Mas,.aku belum siap jika harus kehilanganmu, tolong bertahan untuk ku. Akan ku kembalikan semua kebahagiaan yang mas berikan pada ku, agar mas juga bisa merasakan bahagia sama yang seperti aku rasakan."
To Be Continued ☺️☺️☺️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Mutia Kim🍑
Please kasi sultan sehat aja thor, itu pasti si Dinda lagi hamil. Rasanya hancur banget sih kalo hamil tanpa ada suami di sisinya 😭
2022-11-01
1
Kurniaty
Beri motifasi sultan Dinda,biar sultan mau berobat.
Sukses thoor & lanjut.
2022-10-25
0
Umine LulubagirAwi
malam2 bacanya sedih gni. 😭😭😭🤧🤧🤧
2022-10-21
1