Part 8

Hari-hari yang Dinda jalani dengan begitu berat, Menunggu siang dan malam dan berharap sebuah keajaiban. Ya walaupun sangat kecil kemungkinan untuk sembuh, setidaknya Dinda ingin melihat suaminya bahagia disisa usianya.

Tak ada yang bisa Dinda lakukan selain duduk di samping Sultan, dan menunggunya entah sampai kapan.

Dinda tak ingin melewatkan barang sedetik untuk jauh dengan suaminya, dia sudah berjanji akan selalu menemaninya berjuang. Dengan nanar Dinda memandang sekujur tubuh suaminya yang benar-benar sangat kurus, namun lambat laun matanya terpejam saat kantuk menyerangnya.

******

Dinda terbangun saat merasakan ada belaian lembut di kepalanya yang terasa begitu nyaman. Perlahan Dinda mulai buka mata dan langsung disuguhi sesuatu yang membuat nya bahagia. Sungguh suatu keajaiban yang tak terduga Dinda bisa melihat lagi suaminya membuka mata dari tidur panjangnya dan memberikan senyum manis pada istrinya seperti yang di lakukannya dulu.

"Pagi sayang." Sapa Sultan dengan nada lemah dan senyuman di bibirnya, itulah yang sangat di rindukan yang membuat Dinda candu

Dinda pun langsung menghambur dalam memeluknya.

"Mas...mas Sultan sudah sadar, aku sangat bahagia, aku sangat rindu mas." Dinda pun menangis namun Sultan hanya tersenyum dan membelai.

Tak lama Mahendra, Pangeran dan Raja pun menghampiri Sultan saat tau kabar Sultan telah sadar.

"Pa, Pangeran dan... " suara pelan Sultan memanggil mereka.

"Ini Raja, saudaramu nak," jelas Mahendra.

"Raja..."sebut Sultan

"Iya aku sudah kembali."sahut Raja.

"Aku sangat bahagia, kalian bisa berkumpul disini." ucapnya dengan suara lemah.

"Sudahlah kak, kami juga sangat senang, kak Sultan sudah sadar." saut Pangeran dan Sultan hanya tersenyum.

"Sayang, terimakasih sudah menjaga dan menemaniku, maaf sudah membuatmu lelah" ucap Sultan saat tau jika selama dirinya koma istrinya tak pernah meninggalkannya dan Dinda hanya menggeleng kan kepala.

"Mas, aku akan selalu menemani mu, melewati ini semua, jangan kuatir aku akan selalu ada disisi mas, apa lagi kita sebentar lagi punya bayi."

"Bayi...?" Sultan sedikit kaget.

"Iya mas, istri mu ini sekarang sedang hamil enam Minggu. jadi mas harus kuat biar kita bisa sama-sama menjaga bayi kita." jawab Dinda dan ia pun tak kuasa menahan air mata saat memberi kabar bahagia tersebut.

"Jangan menangis, Aku gak mau melihat air mata mu sampai jatuh."

Dinda pun segera menghapus sisa air mata yang menetes dan menarik nafas mencoba untuk tidak menangis lagi.

Sultan pun menyentuh dan mengusap perut Dinda.

"Sayang jadilah anak pintar, jangan nakal, kasihan nanti mamamu, Papa ada disini akan menemanimu."

"Dinda, jaga dirimu dan anak kita. Maafkan aku jika sayang harus melewati masa-masa ini dengan keadaan diriku yang tak berdaya."

"Jangan kuatir, mas Sultan ada di sampingku itu sudah lebih dari cukup, mas banyak-banyak istirahat biar cepat pulih."

Sultan pun kembali mengalihkan perhatiannya pada papannya.

"Pa..."

"Iya nak ada apa?"

"Maafin Sultan, sudah banyak nyusahin papa. sebentar lagi Sultan punya anak, cucunya papa. Sultan sangat bahagia papa."

"Iya nak, papa juga bahagia akan mendapatkan seorang cucu. Sultan harus kuat ya biar nanti bisa melihat kelahirannya." ucap Mahendra dan Sultan hanya tersenyum.

"kakak, gak usah kuatir aku pasti juga akan jagain ponakan ku dan kakak ipar" saut Pangeran.

Dinda merasa bahagia melihat suaminya sadar namun, namun ia juga sedih mengetahui kenyataan bahwa kankernya sudah menyerang organ lainnya,yang membuat Sultan tak dapat makan menggunakan mulutnya, hanya bisa mengandalkan nutrisi yang diberikan lewat infus agar Sultan bisa bertahan untuk sementara.

*****

Beberapa hari kemudian Sultan memaksa untuk pulang dengan banyak alasan memaksa yang memaksa Dinda dan Mahendra untuk menyetujui permintaan Nya.

"Mas, seharusnya mas tetap dirawat disini."

"Gak, aku gak mau menghabiskan sisa hidupku disini, aku ingin pulang, aku ingin menghabiskan sisa umur yang ada untuk berkumpul dengan keluarga, terutama bersamamu.

"Baiklah jika itu yang mas mau, asalkan mas bahagia Aku pun tak dapat memaksa." jawab Dinda yang akhirnya menyetujui keputusan Sultan.

Akhirnya mereka membawa pulang Sultan dengan membawa dua orang perawat untuk membantu merawat Sultan di rumah.

"Mas, sekarang permintaan mas sudah terpenuhi, mas harus kuat dan harus semangat demi calon bayi kita." ucap Dinda saat membantu Sultan untuk merebahkan tubuhnya di kasur.

Dinda mulai sekarang lebih tegar dan tak pernah menampakkan kesedihannya dihadapan Sultan. Ia hanya memberikan senyuman manis yang selalu di perlihatkan untuk suaminya.

"iya,aku akan mencoba bertahan jika mampu.jangan kuatir kan aku,sayang juga harus banyak istirahat dan jaga kesehatan."

Kenyataan tentang penyakit, Sultan lambat laun Dinda sudah mulai menerima nya. Namun kenyataan lain tiba-tiba bermunculan disaat yang tak tepat. Tentang sebentar tentang dirinya.

Tiba-tiba, Pangeran datang ke kamar kakaknya untuk mencari Dinda.

"Kakak ipar, ada yang mencari kakak." ucap Pangeran.

"Siapa?"

"Gak tahu. Kakak temuin aja langsung."

"Sayang temuin saja, siapa tahu tamu penting." Ucap Sultan.

"Baiklah, tapi aku gak pernah punya tamu penting, aku keluar dulu mas istirahat saja duluan." Dinda pun turun dan menghampiri orang yang mencari dirinya.

"Nona Dinda?"seseorang berdiri dan menyapa Dinda.

"Iya saya sendiri, silahkan duduk pak, dan sebelumnya ada perlu apa anda mencari saya?" tanya Dinda dengan sopan.

"Saya Aldi asisten apa Robert, beliau memerintahkan saya untuk membawa Anda menemui beliau."Jelas Aldi.

"Maaf ya pak, saya gak kenal dengan pak Robert, mungkin anda salah orang."

"Tidak nona, alamat yang diberikan sudah benar. Bisakah anda ikut saya sebentar untuk bertemu atasan saya."

"Maaf pak, saya tidak bisa, tolong sampaikan kan kepada pak Robert permintaan maaf saya."

"Maaf nona kalau anda tidak mau ikut, saya akan tetap disini menunggu sampai anda mau ikut dengan saya."

"Memaksa."gumam Dinda.

"Baiklah tunggu disini, aku izin dulu dengan suamiku." Dinda pun kembali ke kamar untuk izin pada suaminya.

"Baik nona."

Dan setelah mendapatkan izin suaminya untuk pergi sebentar. Dinda pun mengikuti Aldi untuk bertemu dengan pak Robert yang katanya mengenal Dinda.

Pak Lukman membawa Dinda ke sebuah hotel berbintang. Dinda pun ragu-ragu namun pak Aldi meyakinkan,tidak akan terjadi apa. Dinda pun berjalan membuntuti Aldi sampai tiba di salah satu kamar VVIP

setelah di izinkan masuk aku dan Aldi pun masuk kedalam.

"Pak, nona Dinda sudah datang."ucap Aldi.

"Suruh dia menunggu sebentar."ucap seseorang di kamar mandi.

"Baik pak."

"Nona, silahkan duduk dan menunggu sebentar, saya permisi dulu."

"Tunggu pak, jangan tinggalkan saya disini sendiri. Kalau bapak tetap pergi saya juga ikut pergi."ucap Dinda dan Aldi sedikit berfikir akhirnya iya mengiyakan untuk ikut menunggu.

"Baiklah nona, saya akan menemani nona."

"Terimakasih pak."

Tak lama seseorang muncul dari balik pintu kamar mandi. Berbadan tinggi, dan kekar memakai handuk di pinggangnya.

Pak Aldi langsung berdiri dan membungkuk Dinda pun ikut-ikutan.

"Aldi pergilah aku ingin berbicara empat mata dengan Dinda saja."

"Tidak, pak Aldi gak boleh pergi." tahan Dinda.

"Non, pak Robert hanya ingin berbicara dengan Anda jadi tolong jangan menyusahkan saya, pak Robert bisa memecat saya."

mendengar ucapan Aldi, Dinda pun membiarkannya pergi.

To be continued ☺️☺️☺️

Terpopuler

Comments

Umine LulubagirAwi

Umine LulubagirAwi

siapa lg nh pak robet? 🤔

2022-10-24

0

Umine LulubagirAwi

Umine LulubagirAwi

kok morgan? 🤔

2022-10-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!