"Aku kembali adikku, Sudah waktunya aku menjemput kalian. Ayo kita kembali Ke kota dimana tempat seharusnya kamu tinggal." Ucap Robert.
Robert pun berjongkok mendekati keponakannya yang takut.
"Hai boy, Jangan takut, aku ini pamanmu dan aku datang kemari untuk menjemputmu. Apa kamu mau jalan-jalan dengan paman terus kita beli mainan yang sangat banyak." Bujuk Robert.
Rasya mendongak untuk melihat wajah mamanya dan seketika Dinda paham lalu menganggukkan kepalanya. Rasya pun keluar dan mendekati Robert.
"Apa kau benar pamanku?" tanya Rasya meyakinkan.
"Iya sayang, aku adalah pamanmu. Aku paman Robert, kakak dari mamamu." Jawab Robert seraya mengulurkan tangannya.
Tangan mungil Rasya menjabat Tangan Robert. "Apa kata-kata paman tadi benar? mau membelikan mainan untuk Rasya?" tanya Rasya lagi. Tak dapat di pungkiri, Rasya hanyalah anak yang berusia enam tahun, mendengar mainan hal yang membuat Rasya semangat.
"Tentu saja, paman akan membelikan banyak sekali mainan yang Rasya mau. bahkan jika perlu kita beli pabriknya." jawab Robert membuat Rasya kegirangan.
Robert pun bangkit berdiri dan menatap adiknya yang hanya diam saja. "Dinda, Sudah waktunya kembali, Sudah waktunya Rasya mendapatkan semua kekayaannya." bujuk Robert.
Dinda pun akhirnya menyetujuinya dan mereka pun berangkat ke kota dimana akan banyak kenangan yang akan kembali muncul.
Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu hingga membuat Rasya tertidur. Akhirnya mereka sampai di mansion yang akan menjadi tempat tinggal Dinda dan Rasya.
"Mulai sekarang, kamu akan tinggal di sini. Rasya adalah seorang milyarder yang dan tanda tangannya sangat di butuhkan semua perusahaan di bawah pimpinannya."
"Aku benar-benar gak menyangka, dari sejak dalam kandungan Rasya memiliki harta yang begitu banyak. Aku tak habis pikir kenapa Mereka menyerahkan semuanya pada Rasya Kakak dan juga Anak papa Mahendra masih ada."
"Mereka memikirkan semuanya dalam jangka panjang. Papa dan juga pak Mahendra merupakan pembisnis yang memiliki pengaruh besar dalam dunia bisnis. Mereka hanya ingin melindungi asetnya jika suatu hari terjadi sesuatu dan makanya Mereka memilih anakmu."
"Ah aku masih juga tidak paham kak dengan permainan ini semua. Aku hanya minta satu hal. Jangan renggut masa tumbuh kembang Rasya, dia masih anak-anak, Belum waktunya dia mengerti dunia bisnis."
"Tentu, aku pun tidak akan membiarkan Rasya kehilangan masa bermainnya. Percayalah padaku. Aku akan berusaha membuat jadwal Rasya tertata dan aku minta satu hal padamu. Jika suatu hari kamu ingin menikah lagi, Tolong kenalkan dulu padaku. aku tidak ingin Laki-laki manapun yang hanya memanfaatkan kamu saja. Sudahlah sekarang pergilah ke kamarmu. Dan istirahat, besok kamu dan Rasya ada jadwal pertemuan."
Dinda pun mengangguk dan segera pergi ke kamar yang di tunjukkan pembantu. Sedangkan Rasya di bawa ke kamar barunya.
****
Keesokan harinya, Rasya membuat Gempar seisi mansion. Bagaimana tidak, Rasya berteriak memanggil Dinda, tak ada yang bisa menenangkan Rasya sebelum Dinda datang menghampiri.
"Rasya, Kamu kenapa nak?" tanya Dinda dan langsung menggendong Rasya.
"Mama kita dimana? Rasya takut. Rasya mau pulang." ucap Rasya di iringi Isak tangis.
"Cup sayang, jangan takut. Kan ada mama di sini. Kita tidak akan pulang sayang. Ini rumah kita." bujuk Dinda.
"Gak mau! Rasya mau pulang. Rasya takut tidur sendirian." Rengek Rasya yang tak terbiasa tidur di tempat lain selain rumahnya sendiri.
Robert yang baru datang pun segera menghampiri kamar keponakannya itu.
"Ada apa Din? apa yang terjadi dengan Rasya?" tanya Robert.
"Dia minta pulang. Kerena tidak terbiasa tidur di tempat lain makanya dia begini. Tenang saja kak, aku bisa mengatasi putraku." Jawab Dinda lalu segera mendudukkan Rasya di sisi ranjang.
"Rasya, dengarkan mama. Rasya bilang mau bertemu papa. Kalau Rasya ingin pulang bagaimana kita bisa datang ke makam papa. Rasya berhenti menangis ya, nanti mama juga nangis kalau Rasya nangis. Kan Rasya bilang gak mau buat mama menangis." bujuk Dinda sambil melihatkan wajah sedihnya pada Rasya. Segera saja Rasya berusaha menghentikan Isak tangisnya dan menghapus air matanya.
"Mama, Ayo kita ketemu papa, Rasya mau ketemu papa." Rengek Rasya lagi.
"Iya sayang. Setelah kita sarapan, kita akan temui papa ya." Dinda pun menghapus air mata Rasya saat Rasya menyetujuinya dengan mengangguk.
Robert yang melihat, yang bisa membayangkan betapa tersiksanya Dinda setiap hari, melihat wajah Rasya yang sangat mirip dengan Sultan. Sekeras apapun Dinda berusaha melupakan, tak mungkin Dinda bisa melupakan Sultan.
Robert pun menghampiri dan berjongkok di depan Rasya.
"Rasya, Kalau Rasya berhenti menangis. Paman akan bawa Rasya pergi beli mainan. kan kemaren gak sempet beli karena Rasya sudah tidur duluan." Bujuk Robert.
"Paman janji?" tanya Rasya memastikan lalu mengulurkan kelingking mungilnya.
Robert segera melilit kelingking mungil Rasya dengan kelingkingnya untuk sebua janji. "paman janji, sekarang berhenti menangis dulu dan Rasya segera mandi habis itu kita sarapan. Kata mama Rasya suka Ayam goreng. Tu bibi sudah buatkan ayam goreng yang banyak biar Rasya puas makannya."
Rasya pun menyetujuinya dan segera meminta Dinda untuk memandikannya.
"Aku tunggu di meja makan. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu nanti." Robert pun segera keluar kamar, sedangkan Dinda mengurus Rasya.
Setelah selesai, Mereka pun menghampiri meja makan dan Rasya minta ayam goreng untuk sarapan.
To Be Continued ☺️☺️☺️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
Semoga ga ktmu kmbrnnya sultan.
2022-11-05
0
Kurniaty
Jangan sedih ya Din saat kamu nyekar kemakam sultan, ikhlaskan dia biar tenang disana.
Sukses thoor & lanjut.
2022-11-05
0
Susi Soamole
lanjut
2022-11-05
0