Saat Dinda membuka mata alangkah terkejutnya ia melihat Raja duduk dilantai dan tertidur sambil menyandarkan kepalanya di sudut sofa dan yang lebih mengejutkan lagi, Dinda sedang memegang erat tangan Raja.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Dinda lalu menghempaskan tangan Raja dari genggamannya.
Raja yang baru bangun tidur karena kaget dan kebingungan.
"Kenapa berisik?"
"Apa yang kamu lakukan disini dan memegang tanganku?" tanya Dinda lagi dengan kesal.
"Hai... bukanya kamu yang memegang tanganku erat sekali sampai tak bisa ku lepaskan." Raja menuduh balik membuat Dinda terdiam dan kembali mengingat-ingat kejadian malam dan membuat Dinda sadar.
"Maaf." ucap Dinda setelah sadar jika dirinya yang salah.
Saat berdebat dengan Raja, seperti biasa gejala mual kembali menyerang Dinda dan segera saja Dinda bergegas ke toilet mengabaikan Raja yang bertanya.
"Kamu nggak papa Dinda?" tanya Raja, saat Dinda keluar dan nampak kuatir padanya.
"Aku nggak papa, jangan cemaskan aku." Jawab Dinda.
Dinda pun kembali melihat kondisi suaminya yang masih belum sadar juga. Dinda duduk di kursi di samping suaminya dan menggegam tangan lalu ciumnya.
"Mas,.sampai kapan mas akan terbaring seperti ini, Aku ingin melihat mas bangun. Aku sangat rindu senyuman mas, sangat rindu belaian mas, mas cepat sadar aku sangat rindu."
Rasa lelah mulai benar-benar terasa, Setelah hampir dua Minggu menjaga Sultan tanpa istirahat. Dinda benar-benar ingin menepati janji untuk menjaga suaminya sesuai permintaannya. Dinda ingin mengistirahatkan tubuhnya di sofa namun baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba Dinda ambruk, untung saja Raja segera masuk dan menangkap tubuh Dinda yang tiba-tiba pingsan.
Raja pun langsung memanggil suster dan membawanya untuk diperiksa.
Dokter segera menangani dan memeriksa Dinda, karena kondisinya yang lemah, dokter memasang infus untuk memulihkan kondisinya.
Perlahan Dinda kembali sadar dan ia pun mendengar apa yang dikatakan dokter.
"Bagaimana dok keadaan nya, dia sakit apa?" tanya Raja, namun dokter itu malah menjulurkan tangannya membuat Raja bingung lalu menjabat tangan dokter itu.
"Selamat ya pak, istri bapak tengah mengandung enam minggu. Tapi bapak harus benar-benar menjaganya, karena istri bapak kondisinya cukup lemah." jelas dokter
Raja yang mendengar ucapan dokter malah menggaruk kepalanya, mungkin dokter tersebut berfikir Raja adalah suaminya Dinda, secara karena Raja yang menemani Dinda.
"Iya dok, terimakasih atas sarannya, saya pasti akan menjaganya dengan baik." Jawab Raja.
"Mas Sultan, sebentar lagi kita akan punya bayi. Anak mama doain papa ya,biar cepat sembuh biar bisa menyambut kelahiran mu nanti." gumam Dinda sambil mengelus perutnya.
Raja menghampiri Dinda yang masih terbaring.
"Kamu dengar tadi. Kamu sekarang tengah hamil dan usia kandungan mu sekarang enam Minggu, jaga kandungan mu,dan banyak-banyak istirahat."jelas Raja.
"Jika bukan karena istri saudara ku, sudah ku lempar kau jauh-jauh, menyusahkan orang saja." imbuhnya.
"Apa.., kak ipar hamil, aku akan punya ponakan baru, ini adalah kabar menggembirakan, papa harus tahu tentang ini." Pangeran yang tiba-tiba muncul mengagetkan keduanya.
"Punya adab gak sih, main nerobos aja" Jawab Dinda dengan ketus.
"Maaf kakak ipar, aku gak bisa menahan nya dengar kabar gembira ini."
"Yang lebih bahagia saat ini seharusnya mas Sultan," ucap Dinda dengan nada sedih.
"Sudahlah, kakak ipar istirahat saja dulu biar lebih baik."Pangeran coba menghibur kakak iparnya sedangkan Raja pergi menebus vitamin untuk untuk Dinda.
"Oya kak jangan diambil hati omongan kak Raja ya,.dia itu memang seperti itu berbeda jauh Dangan kak Sultan
****
Saat Mahendra mengetahui manantu nya sudah hamil, dia meminta Dinda untuk pulang ke rumah agar bisa banyak istirahat. Namun Dinda tatap menolak dengan alasan yang sama.
"Pa, jangan kuatir, aku gak papa,aku gak mau meninggalkan mas Sultan sendirian."
"Dinda papa tahu. Tapi kamu sekarang sedang hamil, kamu harus menjaga anak dalam kandungan mu."Bujuk Mahendra namun Dinda tetap menolak membuat Mahendra menyerah juga.
"Raja,.tolong jaga Dinda dan Sultan,papa mengandalkan hanya bisa mengandalkan mu." Mahendra menepuk pundak Raja sebelum pulang.
"Kamu dengar kan, selama Sultan belum sadar kamu juga tanggung jawabku jangan membantah, atau kau ku lemparkan kejalan."
"Coba saja kalau berani, melemparkan istri saudaramu ke jalan."tantang Dinda membuat Raja gregetan.
"Awas saja, kalau kau merepotkan ku, akan ku tendang dari ruangan ini. Dasar wanita sungguh selalu membuat ku muak." gertak Raja.
Setiap saat Dinda akan menghampiri suaminya dan duduk disampingnya lalu pegang tangannya yang kurus terasa tinggal kulit dan tulang.
"Mas, kapan mas akan sadar, sudah dua Minggu lebih mas juga belum sadar. Apa gak kasihan dengan aku dan juga dengan anak kita. Iya mas kita sebentar lagi punya anak, mas mau anak kita laki-laki atau perempuan? Buat ku apapun jenis kelaminnya nanti pastilah dia sangat lucu. Mas cepat sadar ya, biar kita bisa sama-sama menjaga bayi kita.a Aku tahu mas pasti kuat, mas dengar kan semuanya, dengarkan suaraku." Dinda pun terus berbicara dengan suaminya yang belum sadar dan berharap mendengar semua yang dikatakannya.
Dinda pun menempelkan tangan Sultan di perutnya berharap Sultan bisa merasakan bahwa dirinya sedang ditunggu malaikat kecil yang akan memanggilnya ayah. Air mata Dinda pun tak terbendung lagi, membayangkan apa yang akan terjadi nantinya jika suaminya tak bangun.
Namun sesuatu tak terduga atau bisa dibilang suatu keajaiban Dinda merasakan salah satu jemarinya bergerak. Dinda pun segera meminta Raja untuk segara memanggil dokter untuk memastikan.
"Mas Sultan mendengar ku, apa mas sudah sadar?" tanya Dinda dengan penuh harapan.
Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Sultan. Para dokter meminta Dinda dan Raja menunggu di luar sampai pemeriksaan selesai.
Tak hentinya Dinda mondar-mandir menunggu dokter keluar.
"Bisakah kamu duduk, aku bosan melihat mu mondar-mandir dari tadi." Tegur Raja.
"Aku ini menghawatirkan mas Sultan. apa kau tak kuatir dengan saudara mu?"
"Tentu saja aku kuatir, tapi apa dengan mondar-mandir bisa menyembuhkan kan Sultan?"
Dinda yang mendengar celetuk Raja membuatnya sm sedikit emosi.
Dokter pun keluar, dan Dinda dan Raja menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Sultan dok?"tanya Raja.
"Bapak Sultan sudah mulai sadar, namun belum sepenuhnya. Kita lihat sampai besok perubahan apa yang akan dialami bapak Sultan."
"Maaf pak, saya ingin bicara penting dengan bapak, apa bisa ikut saya sebentar?"ajak dokter .
"Baik dok."
"Kamu tunggu sini, dan jangan kemana-mana, aku pergi sebentar." Ucap Raja dan pergi bersama dokter, Dinda pun hanya mengangguk dan melihat Sultan dari balik pintu. Air mata pun tak terbendung lagi setiap melihat kondisi suaminya. Dinda hanya bisa berdoa agar suaminya bisa kembali pulih dan bisa berkumpul dengan keluarga di rumah.
Andai mas Sultan memberitahu tahu dari awal tentang penyakitnya ini, kemungkinan sembuh bisa jadi masih tinggi,namun melihat keadaannya sekarang Dinda pun berfikir sampai kapan suaminya akan sanggup bertahan.
To be continued ☺️☺️☺️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Kurniaty
Semoga sultan bisa mendengar apa yang Dinda ucapkan.
Sukses thoor. & lanjut.
2022-10-25
0
Umine LulubagirAwi
syukur sultan sdh sadar. smoga lkas mmbaik
2022-10-24
0