Sebelum pergi ke pemakaman, Dinda membawa Rasya pergi ke rumah kakeknya untuk pertama kalinya. Rasya berhak tahu seluruh anggota keluarganya termasuk kakek dan juga pamannya.
"Ini rumah siapa lagi ma? tanya Rasya sambil melihat rumah megah dari balik kaca jendela mobil.
"Itu rumah kakek mu. Ayo turun! kita ajak kakek untuk pergi bersama ke makam." Ucap Dinda dan Rasya pun turun mengikuti sang mama.
Saat sampai di halaman, Dinda mengedarkan pandangannya mengingat semua kenangan yang pernah ada enam tahun lalu ia menghabiskan waktu hampir satu tahun tinggal bersama laki-laki yang mencintainya dengan tulus.
Dinda ingin mengetuk pintunya namun lebih dulu di buka oleh seorang laki-laki tua yang kini duduk di kursi roda.
"Papa." sapa Dinda namun Mahendra tak merespon sejenak mungkin karena lupa.
"Kak Dinda..." panggil Pangeran yang baru menuruni anak tangga dan masih ingat betul dengan kakak iparnya itu. Pangeran segera menghampiri dan memeluk Dinda untuk melepas Rindu.
"Apa kabar pangeran. Sudah lama kita tidak bertemu."
"Aku baik kak, bagaimana dengan kakak." tanya balik Pangeran.
"Aku juga baik." jawab Dinda lalu melepas pelukannya.
Pangeran berjongkok dan membantu papanya untuk mengingat wanita yang ada di depannya.
"Pa, ini kak Dinda, Menantu papa, Istrinya Kak Sultan. Papa ingat kan." jelas Pangeran.
"Papa, kenapa jadi begini? Apa papa lupa denganku?" tanya Dinda sambil mencium punggung tangannya.
"Dinda ... " Mahendra pun menangis saat ingat jika yang berbeda di depannya adalah menantunya.
"Iya pa, ini Dinda. Maaf Dinda tidak pernah jenguk papa."
"Dinda." ucap Mahendra mengingat-ingat kembali.
Pangeran pun membawa Dinda masuk ke dalam rumah dan menceritakan semua yang terjadi setelah Dinda memutuskan untuk meninggalkan rumah mertuanya.
"Papa mengalami kecelakaan tiga tahun lalu. Mobil papa ada yang menyabotase hingga membuat remnya blong. Namun untungnya papa bisa selamat, tapi karena kejadian itu papa mengalami gegar otak dan menjadi pikun."Jelas Pangeran, membuat Dinda semakin sedih dan juga bersalah kerena tak bisa merawat papa mertuanya.
Tanpa Dinda sadari, Rasya sudah tidak ada di sampingnya. Rasya berjalan mendekati sebuah ruangan Karena rasa penasarannya sapa sosok lelaki yang ia masuk di ruangan tersebut.
Tanpa rasa takut, Rasya membuka pintu ruangan itu sangat pelan, lalu ia melihat pria itu sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Rasya memastikan sampai ia yakin dengan apa yang dia lihat.
Setelah berbicara dengan Mahendra, Dinda baru menyadari Rasya yang tidak ada disampingnya.
"Dimana Rasya? Pangeran apa kamu melihat Rasya?" tanya Dinda bingung.
"Rasya... kamu dimana sayang?" panggil Dinda dan Rasya pun mendengarnya. Rasya segera kembali tanpa menutup pintunya lagi.
"Iya ma." jawab Rasya dan segera berlari menghampiri Dinda.
"Kamu dari mana Rasya, bikin Mama takut saja?" Tanya Dinda sambil mengusap lengan putranya, namun Rasya hanya menggeleng.
Dinda pun segera membawa pergi Rasya untuk pergi ke makam Sultan, membawa Rasya untuk menemui papanya yang selalu di tanyakan.
Sesampainya di pemakaman, Dinda segera menaburkan bunga yang sudah ia beli sebelumnya.
"Rasya, kemarin Rasya tanya papa dimana. Sekarang mama antarkan Rasya menemui papa. Papa ada di sini sayang, tidur disini dari sejak kamu belum lahir. Ayo sapa papa bilang kalau Rasya datang menemui papa," ucap Dinda sambil menahan air mata.
Namun reaksi Rasya di luar dugaan. Rasya menolak melakukan apa yang di perintahkan mamanya.
"Gak mau. Mama bohongin Rasya. Papa belum mati kan ma, Papa masih hidup kan." Jawab. Rasya dan membuang bunga yang di pegang Dinda hingga berhamburan, bahkan Rasya menghambur taburan bunga yang ada di atas makam Sultan.
"Rasya, apa yang kamu lakukan. Mama tidak pernah mengajari kamu untuk melawan, berhenti." Bentak Dinda seketika Rasya menghentikannya dan memandang sang mama dengan tatapan tajam, sebelum menangis lalu berlari meninggalkan makam.
"Rasya kamu mau kemana? " teriak Dinda dan hendak mengejar.
" Biarkan aku saja yang mengejarnya kak," ucap Pangeran lalu segera mengejar Rasya yang berlari sambil menangis.
Rasya masih tak terima jika papanya sudah meninggal. Sejak duduk di bangku TK, Rasya selalu di ejek karena tak punya ayah. Tak hanya sekali, tapi berulang kali hingga akhirnya Rasya tidak ingin sekolah lagi.
Di depan makam Sultan, Dinda pun mencurahkan isi hatinya yang selama ini dia pendam seorang diri.
"Mas, Maafkan aku. Aku gak menepati janjiku padamu, untuk membawa Rasya saat dia lahir. Aku gak sanggup mas, belum bisa menerima, kalau mas pergi begitu cepat, sampai belum sempat melihat wajah Rasya. Maafkan aku mas, aku gak bisa cerita pada Rasya tentang dirimu. Aku gak sanggup mengingat semua kenangan yang sudah kita ukir bersama. Aku harap mas memaafkan aku."
Setelah cukup lama dinda melepas rasa rindunya di makam sang suami. Dinda segera membawa Rasya pulang, karena Rasya terus mengamuk dan meminta bertemu dengan papanya terus menerus.
to Be Continued ☺️☺️☺️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Nanik Lestari
Salahmu sendiri Dinda, egois dan tidak menceritakan apapun soal ayahnya Rasya
2022-11-13
0
Umine LulubagirAwi
ealah, jgn2 tdi radya lihat raja, kmbrannya sultan.iya kan?
2022-11-11
0
Susi Soamole
lanjut
2022-11-11
0