Keesokan harinya Dinda memutuskan untuk memberikan jawaban pada Gono, Setelah ia memikirkannya semalaman.
"Paman Aku ingin bicara sebentar," ucap Dinda saat menghampiri Gono yang tengah bersantai di teras rumah.
"Duduklah, dan bicaralah."
"Aku- Aku siap menikah dengan Anak pak Mahendra. jika memang dengan begitu Bisa membuat paman dan bibi tentang, aku akan lakukan apapun."Ungkap Dinda.
"Apa sudah kamu pikir matang-matang? Jika kamu tidak setuju tidak papa, paman dan bibi sudah siap jika harus tidur di jalanan."
"Tidak paman, Aku tidak mau menyusahkan paman dan aku juga sudah siap dengan apa yang akan terjadi nantinya setelah aku menikah dengannya."
"Baiklah, malam nanti kita ke rumah pak mahendra, untuk menyampaikan kabar ini padanya. Karena beliau menginginkan jawabannya secepatnya." Jelas Gono dengan raut wajah senang, karena telah berhasil membujuk Dinda.
Waktu pun begitu cepat berlalu, dan malam pun kembali tiba, Dinda dan paman Gono bersama bi Asih datang ke rumah pak Mahendra dan disana mereka di sambut dengan dengan ramah.
"Pak, maksud kedatangan saya disini ingin meneruskan pembicaraan kita kemarin waktu di rumah,"ucap paman Gono, setelah berbincang-bincang sebentar.
"Iya, gimana jawabannya pak?" tanya balik pak Mahendra yang sudah tidak sabar menunggu jawabannya.
"Setelah saya bicara dengan Dinda dan dia mengambil keputusan mau menerima perjodohan ini." jelas Gono.
"Saya sangat senang sekali mendengarnya. Dinda mau menerima dan jika Dinda sudah setuju kita nikahkan mereka lusa. gimana pak?"
"Terserah bapak aja, gimana baiknya kami ngikut saja." Saut Gono.
"Mohon maaf sebelumnya pak, apakah anak bapak juga menerima perjodohan ini?" Dinda menyela pembicaraan, dan pak Mahendra pun hanya terkekeh.
"Kamu akan menemui nya di hari pernikahan kalian, dan tentu saja Sultan menyetujuinya, sebab dia yang menginginkannya juga."
Setelah pembicaraan malam itu, Dinda terlihat sedikit cemas dengan pernikahan itu. Pertanyaan masih sering muncul dibenaknya 'apakah ia benar-benar siap untuk menjadi seorang istri untuk orang yang belum pernah iya kenal.' Namun perasaan itu sulit untuk di tepis Dinda.
Gono dan Asih pun berusaha meyakinkan Dinda dan terus memberikan banyak nasehat agar Dinda lebih yakin dengan keputusannya.
****
Keesokan harinya, pernikahan pun tiba. Acaranya pun cukup sederhana, Dinda memakai kebaya warna putih dengan sedikit riasan di wajah. Jantung Dinda pun terus berdetak kencang karena sebentar lagi akan menjadi seorang istri dan akan bertemu dengan suaminya untuk pertama kalinya.
Saat Dinda keluar kamar, sesosok pria sudah Selesai melakukan akad nikah di depan penghulu tersenyum melihat Dinda yang berjalan menghampiri dan duduk di sebelahnya.
Setelah bertukar cincin, Dinda baru bisa melihat dengan jelas wajah suaminya untuk pertama kalinya dan segera mencium punggung tangannya dan Sultan pun mengecup kening Dinda.
Dari pandangan Dinda, Sultan terlihat berbeda, wajahnya sedikit pucat dan badannya terlihat kurus, ia melihat terselip sedikit senyum di bibir nya. Mengungkapkan rasa bahagianya, namun berbanding terbalik dengan Dinda yang tak sekalipun tersenyum.
Setelah selesai akad, Dinda pun resmi menjadi istri Sultan dan tinggal di kediaman Mahendra. Namun mereka nampak seperti orang asing.
"Tidurlah, hari sudah malam. Aku tak kan menyentuhmu." Ucap Sultan yang tengah berbaring di sebelah Dinda namun membelakangi.
Dinda pun memberanikan diri bertanya pada Morgan.
"Maaf Mas, jika mas tak menyukai pernikahan ini kenapa tidak mas tolak? Jika pada akhirnya kita akan tidur terpisah." Tanya Dinda.
"Untuk apa aku menolak, aku pun tak bisa memilih. Kamu sendiri kenapa mau menerima pernikahan ini?"tanya balik Sultan.
"Karena..... karena aku gak mau buat paman dan bibi kecewa." jawab Dinda.
"Anak penurut."
Sultan pun membalik tubuhnya dan menatap Dinda yang sudah merebahkan tubuhnya.
"Jika kamu punya pria lain, aku tak kan melarang mu untuk bersamanya." ucap Sultan. Mendengar perkataan itu membuat pikiran Dinda menjadi negatif pada sultan.
"Maaf mas, aku bukan wanita yang seperti itu, pernikahan bukan untuk main-main. Jadi jangan pernah berfikir kalau aku akan selingkuh. Sampai aku memberikan kamu keturunan. Itu kan yang kamu inginkan dari pernikahan ini. Lalu kenapa kamu tak mau menyentuh ku. Apa Kamu tidak tertarik padaku?"
Sultan hanya menghela nafas dengan tuduhan Dinda.
"Lihat saja nanti. apa kamu bisa memberiku keturunan atau kamu akan menyerah lebih awal."
"Baik. Kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya, tapi jika kamu tetap tidak mau menyentuhku dan aku tidak kunjung hamil mungkin nanti akan berbeda cerita. Sudahlah, Lebih baik aku tidur, menunggu pun juga tidak mungkin."
Dinda segera membalikan tubuhnya dan membelakangi Sultan. Sedangkan Sultan hanya memandangi punggung Dinda.
'Jika kamu tahu penyakit yang ku derita ini, mungkin kamu takkan mau menerimaku menjadi suami mu dan melahirkan anak untukku. Maaf jika suatu hari kamu akan menjadi janda ku.'ucap batin Sultan
Tak terasa Sultan pun menitikkan air mata di pipinya dan memilih pergi keluar kamar meninggalkan Dinda yang sudah tertidur lelap.
Mahendra yang melihat Sultan sedang duduk di sofa seorang diri dan segera saja ia menghampiri.
"Ada apa nak, kok belum tidur?" tanya Mahendra, yang membuat Sultan terkesiap.
Mahendra duduk di samping Sultan dan mengusap pundaknya.
"Pa, jika suatu hari Aku pergi. Papa tolong jaga kan Dinda buat ku. Aku gak mau melihat Dinda, menderita setelah kepergian ku."
"Jangan begitu nak, papa yakin kamu pasti sembuh. Papa akan mencarikan pengobatan yang terbaik untukmu nak. Papa janji."
Namun Sultan hanya tersenyum
"Kemungkinan sembuh Sultan sangat kecil pa. Jangan buang - buang uang papa buat mengobati Sultan. Ingat masih ada Rian yang juga butuh perhatian papa. Aku cuma pesan tolong jangan katakan penyakit ku pada Dinda. Aku gak mau melihat istriku sedih. Aku gak peduli masih bisa melihat keturunanku atau tidak, saat ini aku hanya ingin memberikan kasih sayang yang tersisa yang aku miliki untuk Dinda. Terimakasih pa, sudah mengabulkan satu permintaanku, Mencarikan wanita untuk menjagaku disisa hidupku." Sultan pun memeluk papanya.
"Iya sayang papa janji. Papa akan merahasiakan ini dari istri mu dan papa akan malakukan apapun yang bisa membuatmu senang." Mahendra pun tak kuasa untuk tidak menitikkan air mata, melihat anaknya yang masih berusaha kuat melawan penyakitnya
...To Be Continued ☺️☺️☺️...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Ratu Fadira
sedih thor😭😭😭😭
2024-03-19
0
Mutia Kim🍑
jangan buat sultan meninggal Thor😭
2022-11-01
0
Kurniaty
Semoga Dinda menjadi penyemangat buat sultan sembuh.
Sukses thoor & lanjut.
2022-10-24
0