Dinda tak habis pikir dengan pria yang ada di depannya, yang tidak tahu malu.
"Bisakah anda sopan sedikit dengan tamu!" ucap Dinda saat melihat Robert berdiri dengan handuk di pinggangnya.
"Upps.....maaf, aku lupa mengenakan baju."saut Robert
"Tunggu lima menit, aku selesai." imbuhnya lalu bergegas pergi untuk berganti pakaian.
Tak sampai lima menit Robert sudah kembali dengan mengenakan celana pendek dan baju kaos.
"Maaf menunggu."Robert pun duduk di hadapan Dinda dan tanpa basa basi Dinda mulai pembicaraan.
"Kita langsung pada intinya saja. Untuk apa kamu menyuruh ke kesini. Aku tidak kenal mu dan aku ini sudah berkeluarga tidak ada waktu bermain-main dengan orang asing seperti kami." Ucap Dinda sedikit emosi dan lipat tangannya ke dada, menunjukkan diri jika dia wanita bersuami dan tidak bisa sembarangan pria bisa bertemu dengannya.
Robert pun hanya tersenyum, mendengar ucapan Dinda.
"Sabar, jangan marah-marah gak baik buat kandungan mu kita bicara pelan-pelan, oke."ucap Robert, dan Dinda pun kaget saat pria di hadapannya mengetahui tentang kehamilan. Bahkan Sultan pun mewanti-wanti agar tidak ada yang mengetahui kehamilannya dengan alasan akan membahayakan keselamatan anak yang ada dalam kandungannya.
"Tahu darimana kamu kalau aku sedang hamil? dan maaf jangan ikut campur dalam rumah tanggaku."
"Itu masalah gampang, untuk mencari info tentang dirimu adik kecil dan aku tidak akan menggangu rumah tangga mu"Robert pergi mengambil sebuah berkas dan meletakkan nya dimeja.
"Bacalah dengan saksama."perintah Robert pada Dinda dan dengan segera Dinda pun membacanya dengan cermat setiap kata dan membuat Dinda tak percaya.
"Apa maksud ini semua?aku tidak mengerti" tanya Dinda
"Itu warisan papa untuk kamu dan Anak yang akan kamu lahirkan."jelas Robert.
"Papa! maaf kamu jangan mengada-ada papa ku tidak punya kekayaan seperti ini dan papa sudah meninggal lama, jadi gak mungkin beliau memberikan ini semua sekarang untuk cucunya, berarti anda salah orang. Kalau begitu aku permisi dulu." Dinda pun berdiri dan ingin melangkah pergi.
"Itu bukan papa kandungmu adik kecil."Saut Robert dengan tegas dan Dinda seketika berhenti dan membalik tubuhnya.
"Kamu jangan kurang ajar, mengatakan papa Robi bukan papa ku, mana buktinya yang bisa menunjukan kalau papa Robi bukan papa ku dan satu lagi aku bukan adikmu." jawab Dinda marah.
Robert pun memberikan bukti-bukti pernikahan mamanya namun bukan bersama Robi melainkan dengan pria lain yaitu Rudolf, tak hanya itu saja, Robert mengeluarkan hasil tes DNA.
"Apa ini semua?" Dinda tetap saja masih tak percaya.
"Itu papa dan mama. Saat mereka masih bersama, mama meninggalkan papa dan memilih hidup dengan pria lain yaitu Robi, pada saat itu mama tengah mengandung kamu hari hasil tes DNA menyatakan kamu adalah anak papa, bukan Robi, namun hak asuh didapat mama.
"Tidak! itu tidak mungkin, kenapa mama tidak pernah cerita padaku tentang ini semua. Jika kalian tahu dari awal kenapa tak memberi tahuku selama ini. Saat mama dan papa meninggal aku sendirian, sampai aku dipungut paman dan bibi mereka membesarkan ku, sedangkan kalian dimana, kalian juga tak pernah menjenguk ku. Kamu bohong kan dengan ku." Tuduh Dinda.
"Tidak ada kebohongan, papa sudah pernah datang ke rumah paman Gono namun mereka tak mengijinkan papa untuk membawamu. Papa selalu memberikan uang bulanan pada paman, apa kau tak tahu?"
"Oya, dan ada satu lagi rahasia yang harus kamu ketahui. Tentang pernikahan mu."
"Apa maksudmu, ada apa dengan pernikahan ku?"
"Apa kau tahu, suamimu memiliki saudara kembar." Robert berjalan mendekati Dinda.
"Tentu saja aku tahu, aku sudah bertemu dengannya."
"Dia sebenarnya yang harus menikah denganmu bukan saudaranya yang Sekarat."bisik Robert ditelinga Dinda.
mendengar ucapan Robert tubuh Dinda menjadi lemas tak berdaya, sungguh tak percaya dengan semua ucapan Robert.
"Semua yang kau katakan bohong kan,itu semua tidak benar kan."
"Tanyakan saja langsung pada paman dan bibi dan juga pada pak Mahendra mereka tahu semuanya."
"Jadi, paman bilang kalau mama dan papa memiliki hutang Budi dengan keluarga Mahendra itu bohong."
"Yap.."
" Papa dan Pa Mahendra pernah punya kesempatan untuk menikahkan kalian. saat dewasa dan sesudah menyiapkan warisan besar untuk cucu yang akan kamu lahirkan. Tapi semuanya tidak berjalan lancar. Saat Raja di bawa pergi ibunya dan kamu di ambil Mama. Tapi papa bilang gak perduli dan tidak akan mempermasalahkan yang terpenting kamu bisa segera melahirkan seorang bayi maka bayimu akan mewarisi kekayaan dua keluarga." Jelas Robert membuat Dinda makin tak paham. Bayi, kekayaan dan juga perjanjian yang membingungkan. Kenapa semua menginginkan kelahiran bayi yang ada didalam kandungannya. Tanda tanya itu pun tak tahu harus Dinda tanyakan pada siapa yang bisa dia percaya.
"Maaf ya adik kecil. Semuanya itu benar adanya. Aku adalah kakak kandungmu dan kau adik kecilku. Ikutlah denganku kita kembali ke Amerika dan berkumpul bersama papa disana dan akan ku pastikan tidak akan ada orang yang akan menyakiti anakmu. Jika kamu tetap bertahan di sini, kakak takut lambat laun, Mereka mendengar kelahiran bayimu mereka pasti akan mencarinya.
"Tidak, aku masih belum percaya ini semua, beri aku waktu untuk semua ini."
"Baiklah adik kecil, kakak mengerti, kakak akan menunggu mu sampai kau siap. Kakak ada disini. jika butuh sesuatu hubungi kakak oke."
"Aku mau pulang." pinta Dinda.
"Baiklah, pak Aldi nanti akan mengantarmu." Robert memeluk Dinda yang berdiri terpaku sebelum pergi.
"Pak Aldi, tolong selalu awasi Dinda dimana pun dia berada, jangan biarkan satu orang pun menyakitinya. Terutama calon bayi itu. Karena bayi itu satu-satu akan menjadi satu-satunya bayi terkaya, yang sudah memiliki puluhan saham." Jelas Robert dan Aldi pun tercengang mendengar, bayi yang belum lahir saja sudah memiliki banyak saham.
"Baik pak, akan saya awasi Nona Dinda.
Dinda segera pulang dan diantar pak Aldi. Sepanjang perjalanan Dinda terus memikirkan semua perkataan Robert tentang dirinya.
"Sudah berapa lama Robert disini."tanya dinda penasaran kepada pak Aldi.
"Pak Robert sering kesini, dan seringkali menanyakan tentang anda. Namun setiap ingin menemui anda tidak pernah menemukan waktu yang tepat." Jelas Aldi.
Tak lama mereka pun sampai di rumah.
"Terimakasih pak, sudah mengantar kan saya." ucap Dinda dan pak Aldi pun segera pergi.
Setelah mobil Aldi menjauh, Dinda segera masuk dan langsung menuju kamar untuk melihat keadaan suaminya yang sudah terlalu lama di tinggalkannya.
Mendapati suaminya sudah tidur, Dinda langsung membersihkan diri sebelum istirahat, ingin melupakan semua Kenyataan yang baru saja didengar dan dilihat.
Saat keluar dari kamar mandi Dinda lihat suaminya sudah bangun walaupun hanya bisa terbaring.
"Mas bangun," sapa Dinda menghampiri dan mencium keningnya. Dinda pun duduk di samping suaminya dan menggegam tangannya.
"Iya, aku menunggu kamu dari tadi, aku cemas, melihat kamu tidak kunjung pulang sampai aku tertidur tadi." jawab Sultan seraya meminta istrinya membantunya untuk duduk.
"Maaf aku mas, sudah membuat mas kuatir."
"Bagaimana pertemuan mu, apa kau kenal dengan orangnya?"
"Baik mas, ternyata itu adalah teman papa, kami ngobrol sebentar tadi." Dinda pun terpaksa berbohong. Ia belum yakin untuk memberitahu suaminya tentang apa yang dia ketahui.
"Syukurlah kalau begitu, tapi kenapa sayang terlihat sedih? dan terlihat sangat jelek kalau sedang murung."
"Mas Sultan nie, sudahlah mas, aku lelah aku ingin istirahat, kita bahas besok lagi."
"Baiklah, kamu istirahat lah." Sultan pun membiarkan dinda untuk istirahat lebih dulu.
'Maaf mas, terpaksa aku harus berbohong, Aku gak mau mas banyak pikiran."gumam Dinda sebelum memejamkan matanya.
Dinda Ingin sekali bertanya langsung pada Raja tentang semuanya, Apa dia mengetahui suatu hal. Namun sayangnya saat Sultan sadar, Raja segera kembali ke Amerika.
Tabir kehidupan Dinda mulai terkuak, Dinda bingung dan tak tahu apa yang harus lakukan. Entah hari esok apa lagi yang harus dia dengar, namun untuk saat ini bersama Sultan adalah pilihannya dan menunggu buah hatinya lahir adalah keinginannya untuk melengkapi kebahagiaan kehidupan pernikahan mereka.
Dinda berusaha untuk tidur tak bisa terlelap dalam tidur, memori ingatan saat Robert bicara membawanya pada kenyataannya yang sulit ku lupakan, semua ucapan yang Robert katakan benar-benar Membuatnya dilema.
Disisi lain, Sultan sedang memandangi wajah istrinya yang sudah menemukan mata, dan membelai pucuk rambutnya.
"Aku tau kamu sedang merahasiakan sesuatu. Dan mungkin memang sudah saatnya kamu tahu yang sebenarnya. Tapi aku tidak ingin mati dalam keadaan di benci. Aku memang salah, tapi ini hanyalah satu itu terakhirku. Aku ingin anak yang kamu lahirkan itu adalah keturunanku, agar saat aku mati nanti, aku bisa tenang karena anakku yang akan mewariskan semuanya. Aku tak tau jika berlian yang tersembunyi itu adalah kamu. Saat aku dengar benih siapapun yang akan terlahir dari rahimmu akan mendapatkan kekayaan yang tak terhingga, dan sangat aku dengar jika laki-laki yang di pilih adalah Raja, rasa iri ku pun menghampiri dan menginginkan kamu sebagai sebuah permintaan, dan mungkin sampai saat ini Raja juga tidak tau kalau sebenarnya dialah yang seharusnya memiliki Dinda." ucap dalam hati Sultan yang tak mampu untuk jujur.
...To Be Continued ☺️☺️☺️...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Kurniaty
kok muter sih ceritanya,ada rahasia apa dibalik ini semua.
Sukses thoor & lanjut.
2022-10-25
0
Umine LulubagirAwi
wooww, kejutan besar buat dinda sdh keluar. tpi ttp blm prcya dinda.
klau sultan yg bilng, bkal mrah ga ya?🤔
2022-10-24
0